Mempertimbangkan Kepadatan Penduduk untuk Menilai Situasi Pandemi (25 November 2020)

Note: Metode perhitungan indeks dalam artikel berikut saya kembangkan bersama dengan Mas Agus Nggermanto

Banyak pihak menyatakan bahwa kasus harian di Indonesia yang masih relatif tinggi ini sebenarnya wajar-wajar saja. Mengapa? Katanya angkah harian yang tinggi ini berkorelasi dengan jumlah populasi Indonesia yang memang relatif tinggi dibanding negara lain. Jadi jangan bandingkan kasus harian di Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Vietnam ataupun Thailand. Negara-negara tetangga tersebut memiliki jumlah populasi yang sangat kecil jika dibandingkan dengan Indonesia, jadi ya wajar saja kondisi mereka ‘terlihat’ lebih baik. Pemeringkatan berdasarkan kasus harian seperti di Gambar-1 ditolak karena belum memasukkan faktor jumlah populasi. Bahkan ada yang mengklaim bahwa dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa, situasi Indonesia ini justru lebih bagus dibandingkan negara-negara tetangga.

Gambar-1. Tabel terurut berdasarkan rata-rata kasus harian tujuh hari terakhir (25 November 2020) untuk sebagian negara. Rangking yang lebih tinggi menunjukkan kondisi yang ‘lebih buruk’. Jadi, berdasarkan tabel ini, situasi Indonesia ‘lebih buruk’ dibandingkan negara tetangga.

Argumen di atas mengandung kebenaran. Kasus harian di Malaysia yang hanya berpenduduk sekitar 32 juta jiwa tentu tidak bisa langsung dibandingkan dengan Indonesia. Singapura dan Loaos yang memiliki populasi masing-masing kurang dari 10 juta jiwa tentu skalanya sangat jauh dengan Indonesia.

Jadi apakah kasus harian memang tidak bisa digunakan untuk membandingkan situasi antar negara? Atau, bagaimana caranya agar kita dapat memasukkan juga faktor jumlah penduduk dalam perbandingan ini?

Ada cara untuk menyelesaikan problem ini. Idenya sederhana saja: kita perlu merumuskan indeks yang memasukkan faktor kepadatan penduduk dalam perhitungannya. Kepadatan penduduk dinyatakan dalam satuan orang/km2. Berikut adalah beberapa hal yang kita tetapkan sebagai aturan untuk merumuskan indeks tersebut:

  1. Nilai indeks yang lebih besar menyatakan kondisi pandemi yang lebih baik.
  2. Untuk angka kasus harian tertentu (x orang/hari) yang dianggap sama, jika negara A memiliki kepadatan populasi yang lebih tinggi dibandingkan negara B, maka kondisi pandemi di negara A dianggap lebih baik dibanding negara B. Mengapa demikian? Berdasarkan perbandingan kepadatan populasi tersebut, penanganan pandemi di negara A dapat dianggap lebih sulit dibanding di negara B. Karena itu, ketika angka kasus hariannya sama, maka negara A dianggap lebih sukses dibanding negara B.
  3. Untuk angka kepadatan populasi yang sama (y orang/km2), jika negara C memiliki kasus harian yang lebih tinggi dibandingkan negara D, maka kondisi pandemi di negara C dianggap lebih buruk dibanding negara D.

Berdasarkan tiga aturan di atas maka kita dapatkan :

Nilai indeks berbanding lurus dengan kepadatan penduduk dan berbanding terbalik dengan kasus harian.

Kita dapat nyatakan indeks ini dalam formula

Indeks = (kepadatan penduduk) / (kasus harian)

Berdasarkan satuan kepadatan penduduk (orang/km2 ) dan satuan kasus harian (orang / hari) maka kita mendapatkan satuan indeks adalah hari / km2 . Kita misalkan nilai indeks ini adalah z hari/km2, maka interpretasi nilai indeks tersebut adalah :

Penjalaran pandemi memerlukan waktu z hari untuk menjangkau area seluar 1 km2.

Singkatnya, indeks ini menggambarka pace dari pandemi untuk menjalar atau meluas dalam area tertentu.

Beredasarkan perhitungan indeks tersebut, kita memperoleh tabel berikut ini (Gambar-2) yang disusun terurut berdasarkan nilai indeks dari tinggi ke rendah (atau dari kondisi bagus ke buruk). Perbandingan dengan menggunakan indeks yang baru ini ternyata tetap saja menempatkan Indonesia (No 98) dalam peringkat yang lebih buruk dibanding negara-negara tetangga. Untuk menggambarkan bagaimana indeks ini membuat perbandingan, coba lihat nilai indeks dan parameter lainnya untuk negara Belanda (No 78). Tampak bahwa meskipun Belanda memiliki angka rata-rata kasus harian (5380 orang / hari) yang lebih tinggi dibanding Indonesia (4731 orang/hari), namun kondisi Belanda justru dianggap lebih baik dibanding Indonesia berdasarkan indeks ini. Mengapa demikian? Ini karena kepadatan penduduk di Belanda (422 orang/km2) tiga kali lipat lebih tinggi dibanding Indonesia (141 orang/km2). Terlihat pula bahwa US menempati peringkat paling bawah.

Gambar-2. Tabel sebagian negara terurut indeks dari tinggi ke rendah, atau terurut dari kondisi baik ke kondisi kurang baik.

Dengan menggunakan indeks ini maka kita dapat membandingkan situasi pandemi di berbagai negara dengan lebih obyektif. Interpretasi indeksi ini adalah waktu yang diperlukan oleh pandemi (hari) untuk meluas di area tertentu (dalam km2 ) . Karena indeks tidak lagi menggambarkan banyaknya kasus harian maka mempertanyakan obyektifitas indeks dengan merujuk pada jumlah penduduk menjadi tidak relevan.

Referensi:

  1. Angka kepadatan penduduk untuk berbagai negara merujuk ke List of countries and dependencies by population density – Wikipedia
  2. Data kasus harian merujuk ke https://data.humdata.org/dataset/novel-coronavirus-2019-ncov-cases
  3. Artikel dari Mas Agus Nggermanto, yang membahas metode perhitungan indeks lebih lanjut dengan menggunakan fungsi algoritma guna mempermudah pembacaan indeks dan pengkategorian rangking untuk menyederhanakan interpretasi, dapat dibaca di sini: https://pamanapiq.com/2020/11/26/indonesia-urutan-106-vs-us-173-indeks-covid/?fbclid=IwAR0y_5dPqF_-qId-BOL4FUzcrd7eehiq8LY6yIFZrckV9W5p5rqwxzOokwE

Positivity Rate Konsisten Tinggi (23 November 2020)

Beberapa hari ini positivity rate konsisten tinggi di angka sekitar 16%. Jumlah orang dites turun lagi dua hari terakhir, tidak sampai 30 ribuan, setelah hari sebelumnya sempat tinggi nyaris mencapai 40 ribuan. Berikut saya tampilkan grafik kasus harian, jumlah orang dites dan positivity rate.

Gambar-1. Kasus harian Nasional
Gambar-2. Jumlah orang dites
Gambar-3. Positivity Rate

Sekolah Tatap Muka ??

Sekilas baca berita yang melintas, tampaknya banyak daerah yang sedang mengalami tren kenaikan kasus. Seandainya sampai Januari masih seperti ini ya tentu wacana sekolah tatap muka sebaiknya ditunda saja. Saya sendiri termasuk yang sangat mengharapkan adanya sekolah tatap muka secara terbatas. Tapi apa boleh buat, tampaknya belum ada bukti bahwa Indonesia sudah bisa meredam penularan secara signifikan. Catatan: Mari sama-sama memantau tren kepadatan ruang isolasi covid di Rumah Sakit di daerah masing-masing. Tren kepadatan ruang isolasi ini representatif untuk menggambarkan tren kasus aktual.

Gambar-1. Kasus harian di sebagian provinsi sampai 22 November 2020

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, jumlah kasus positif secara nasional pada pekan ini jauh meningkat dibandingkan pekan sebelumnya. Satgas mencatat, terjadi peningkatan kasus positif pekanan yang signifikan ketimbang pekan sebelumnya.“Peningkatan kasus positif sebesar 17,8 persen. Peningkatan ini cukup signifikan dibanding biasanya jika terjadi kenaikan kasus positif hanya di kisaran 5-8 persen saja selama ini,” kata Wiku saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (17/11). Kasus Covid-19 di Banyumas Melonjak, Tempat Wisata Ditutup Kembali, Pesta Pernikahan Dilarang (kompas.com)

Berita lainnya: