False Negative

Metode deteksi selalu punya keterbatasan. Seandainya keterbatasan itu memang tidak bisa ditembus saat ini, maka sains punya cara untuk menyatakan ketidakpastian. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan keilmuan probabilitas/statistik, misalnya dengan menyatakan false negative rate (ataupun false positive rate).

Dalam banyak kasus, ada trade off antara false negative dan false positive. Dugaan saya di metode baru ini false negative memang ditekan, dan false positive naik.

Logika Deteksi Corona

Pak Menteri perlu hati-hati berlogika…

Mestinya begini. Jika ada kasus yang terdeteksi maka itu membuktikan virus sudah masuk Indonesia. Namun jika belum ada kasus yang terdeteksi, maka itu TIDAK membuktikan bahwa virus BELUM masuk Indonesia.

Jika ada hitungan probabilitas, mestinya Pak Menteri perlu mengungkap, jika hasil deteksi masih nol maka berapa probabilitas virus sudah masuk? Probabilitasnya tidak akan nol. Mengapa?

Metode deteksi yang digunakan terhadap suspect (orang yg diobservasi karena dianggap berisiko tinggi) hampir selalu punya probabilitas kesalahan yaitu probabilitas false-negative (dinyatakan tidak terjangkit padahal kenyataannya terjangkit). Di luar itu, tetap ada peluang adanya orang yang berisiko tinggi namun terlewat dari tindakan observasi.


Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menilai penelitian epidemiologist Marc Lipsitch dari Harvard TH Chan School of Public Health yang menyebut kemungkinan virus Corona baru (2019-nCoV) sudah masuk ke Indonesia sebagai bentuk penghinaan. Terawan yakin virus itu belum masuk lantaran pemerintah RI mengikuti prosedur standar internasional.

https://nasional.tempo.co/read/1306102/peneliti-singgung-virus-corona-di-indonesia-menkes-penghinaan/full?view=ok

Data Religion, The Next Reductionism?

Benarkah kesadaran dapat direduksi menjadi algoritma + data? Apakah ‘hidup’ beserta pengalaman subyektif di dalamnya dapat ‘dibangkitkan’ dari algoritma dan data?

Reduksionisme yang serupa, dahulu dapat kita temukan dalam pandangan bahwa alam semesta dapat sepenuhnya direduksi sebagai dinamika partikel-partikel elementer, ataupun energi, ataupun vibrasi.

Lalu bagaimana nantinya gambarannya saat sains mereduksi kesadaran, ruh, jiwa, cinta, kebaikan moral?


Data Religion believes that the entire universe is a flow of data, that organisms are algorithms, and that humanity’s cosmic vocation is to create an all-encompassing data-processing system – and then merge into it. On the practical level Dataists believe that given enough biometric data and enough computing power, you could create an external algorithm that will understand us humans much better than we understand ourselves. Once this happens, authority will shift from humans to algorithms and humanist practices such as democratic elections and free markets will become as obsolete as rain dances and flint knives.

http://www.crassh.cam.ac.uk/events/26948

Apakah Free Thinker benar-benar Free?

Label diri sebagai free thinker tentu boleh-boleh saja. Yang perlu diwaspadai adalah, jangan sampai label itu justru menjadi jebakan. Alih-alih membebaskan, label ini malahan bisa menyimpangkan seseorang dari upaya tulus mencari kebenaran. Dia menjelma serupa penjara, sebagaimana kebencian, dendam, iri-dengki, cinta dunia, keserakahan yang mengurung dan menjerumuskan sang pencari. Free thinker menjadi personal branding yang dipeluk erat-erat.

Maka bebaskan diri dari segala kungkungan, juga dari ‘atas nama kebebasan’ yang justru memenjarakan. Maka, hadapkanlah wajahmu hanya pada Sang Pemberi Petunjuk. Mohonlah bimbingan kepada Nya.

False Alarm Google Map?

Ini terjadi saat momen mudik beberapa tahun lalu tepatnya saat ramai insiden kemacetan di Brexit. Saat itu saya sedang dalam perjalanan balik menuju Bandung.

Saya menginap di rumah kakak di Kendal dan dini hari itu saya menunggu saat yg tepat untuk meluncur menuju Bandung. Berangkat saat lalu lintas padat sama saja menjerumuskan diri ke dalam kemacetan yang tidak jelas di mana ujungnya dan kapan berakhirnya. Ngeri membayangkan kemacetan arus mudik di Brexit beberapa hari sebelumnya. Jadi ya saya menunggu lalu lintas lebih longgar dengan memantau google map.

Saya pantau jam 01.00, dan lalu lintas sepanjang Gringsing-Pemalang terlihat sangat padat. Merah tua di google map! Jadi saya putuskan menunggu saja. Sekitar jam 02.30 saya tengok lagi, lho kok masih tetap padat?!?! Seakan kemacetan tidak terurai sama sekali. Saya mulai bimbang. Jika tidak segera berangkat, ada risiko kemacetan malah tambah parah seusai fajar. Akhirnya saya putuskan meluncur saja jam 03.00 meskipun google map masih menampilkan warna MERAH di jalur yg akan saya lalui.

Nah, selanjutnya apa yg terjadi? Ternyata lalu lintas sepanjang Gringsing-Pemalang lancar jaya! Lho, apakah google map salah?!? Apa yang terjadi?

Di sepanjang jalan memang kendaraan sangat amat puaaddattt!! Lho, jadi mengapa lalu lintas lancar jaya? Kendaraan yang amat padat itu ternyata sedang berisitirahat di parkiran SPBU, Masjid, mini market dan bahkan bertumpuk di pinggir jalan yang memungkinkan untuk parkir.

Jadi, jalan raya ya kosong melompong 😅😅😅.

https://futurism.com/the-byte/guy-causes-google-maps-traffic-jams-99-cell-phones

WHATSAPP TIDAK AMAN?

Telah terjadinya serangan terhadap ponsel Jeff Bezos lewat aplikasi whatsapp ini tidak lantas membuat whatsapp menjadi ‘tidak cukup aman’ bagi khalayak umum. Mengapa?

1) Jeff Bezos jelas adalah high profile target yang tentu sangat mengundang untuk diserang. Dengan pertimbangan ini, yg merasa dirinya high profile target mesti lebih waspada.


2) Besarnya upaya (biaya, kemampuan teknis) untuk menyerang sebuah akun yg ‘bukan high profile’ bisa jadi tidak sebanding dengan hasil yg didapat (finansial gain, politik?).


3) Skenario serangan yg terjadi pada Bezos pada dasarnya adalah phising, yaitu memancing korban untuk menginstall malware ke perangkatnya. Jadi yang dieksploitasi adalah pengguna, bukan aplikasi whatsapp.

Barangkali ada yg faham detil teknis serangan terhadap whatsapp ini?

Pengguna whatsapp tetap perlu mewaspadai adanya serangan baru (atau evolusi darinseranganbyg ada) di masa datang yg dapat dilancarkan secara massal dan murah.

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200203063419-37-134619/bos-telegram-pakai-whatsapp-itu-berbahaya?utm_source=facebook&utm_medium=oa&utm_content=cnbcindonesia&utm_campaign=cmssocmed

Kafir dan Ahlul Kitab

Ini saya coba cek dan list sebagian ayat yg menyatakan tidak semua Ahlul Kitab itu kafir dan jahat. Ayat-ayat Ini yg membuat saya tidak sepakat dengan pernyataan bahwa non-muslim pasti kafir. Ini tentunya hanya sebagian ayat yang coba saya runut sebatas kemampuan saya. Pembahasan dalam tulisan ini terbatas pada penjelasan bagaimana rangkaian ayat tertentu membahas Ahlul Kitab. Tulisan tidak mengutip secara langsung ayat yang dimaksud. Sangat disarankan untuk secara langsung membuka Al Quran (beserta terjemahannya bagi yang tidak menguasai bahasa Arab) dan memeriksa ayat-ayat yang disebutkan dalam tulisan ini.