Membaca dan berfikir kritis

photo_2017-04-25_13-37-03.jpg

Ada yang mengatakan bahwa banyak membaca dapat meningkatkan sikap kritis dan memperluas wawasan. Bener gitu?

Saya menduga ada semacam fenomena ‘chamber’ juga dalam kegiatan membaca. Ini terjadi ketika seseorang hanya membaca berbagai hal yang sekiranya tidak bertentangan dengan pemikiran atau berbagai hal yg diyakininya benar. Untuk mencari kebenaran, seharusnya kita juga dengan sengaja membaca buku atau artikel yang bertentangan dengan pandangan kita.

Karena fenomena chamber ini, maka tidak heran beberapa waktu yang lalu ada yg membahas tafsir sebuah ayat dan menyatakan bahwa:
– Pihak A: diantara berbagai terjemahan, hanya terjemahan bahasa Indonesia yg aneh karena menyatakan demikian dan demikian…
– Pihak B : seluruh kitab yang muktabar menyatakan demikian dan demikian….

Dan tidak ada dialektika antara dua pihak di atas…

Iklan

Menemukan kembali ‘kesadaran’

The Power of Now
(Eckhart Tolle)

the power of now.jpg

Edisi pertama buku ini terbit tahun 1999. Memang termasuk buku lama. Sepertinya juga bukan termasuk buku yang populer di Indonesia. Saya tidak tahu juga apakah sudah ada terjemahannya.

Dari judulnya, The Power of Now, tadinya saya menduga bahwa buku ini semacam buku motivasi. Atau, terlintas juga bahwa ini pasti buku tentang tip dan trik untuk menyembuhkan kecenderungan menunda pekerjaan. Tentu karena ada kata ‘Now’ di judulnya. Namun ternyata bukan. Saya merasa perlu mengingatkan bahwa buku ini aneh.

Baca lebih lanjut

Apa sejatinya ‘kesadaran’?

Ada buku yang sangat menarik: Brief Peeks Beyond: Critical Essays on Metaphysics, Neuroscience, Free Will, Skepticism and Culture.

Buku yg sungguh layak dibaca. Memang bukan sekedar bacaan ringan di waktu senggang. Buku diantaranya membahas ‘kesadaran’ dan ‘kehendak bebas’, hal-hal yg seringkali dianggap di luar jangkauan sains empirik. Jika memang di luar jangkauan sains empirik, maka apakah kemudian masih punya nilai untuk dibahas? Highly recommended!!

Baca lebih lanjut

Makna kata

Kutipan menarik dari Lewis Carroll:

“When I use a word,” Humpty Dumpty said, in a rather scornful tone, “it means just what I choose it to mean—neither more nor less.” “The question is,” said Alice, “whether you can make words mean so many different things.” “The question is,” said Humpty Dumpty,”which is to be master— that’s all.”

Tentang non-kontradiksi (yg belum selesai…)

Ini copy-paste rangkaian diskusi di halaman fb-nya Taufik. Disalin di sini agar lebih mudah dibaca. Kali-kali ada yg perlu merujuk isu ini. Latar belakangnya adalah tentang ketidaksepakatan antara saya dan Taufik tentang tingkat kebenaran prinsip non-kontradiksi. Dan diskusinya masih belum selesai…

Tara Taufiqur Rahman Surah Aal-e-Imran, Verse 47: Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. Like · · Share · October 16 at 3:21pm via mobile ·

Tara Taufiqur Rahman Ayat itu memperlihatkan bahwa “kun fayakun” bisa terjadi dengan melawan hukum alam. Seketika atau dalam proses, itu bagaimana kehendak Allah saja. October 16 at 3:24pm · Like · 1 person

Tara Taufiqur Rahman ‎@Budi Sulistyo: ini bukti bahwa Tuhan tidak terikat hukum alam (ataupun rangkaian logika yang dibangun pemikiran manusia) October 16 at 3:28pm · Like

Tara Taufiqur Rahman ‎Budi Sulistyo: ditunggu comment-nya ya..October 17 at 8:47am · Like Baca lebih lanjut

Tuhan Aku Cinta Padamu

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Sajak ini ditulis oleh WS. Rendra, 31 Juli 2009, di rumah sakit. Saya sungguh-sungguh tak bisa berkomentar untuk sajak ini, terlebih karena sajak ini beliau tuliskan di masa akhir hidup beliau

Meskipun terlambat saya ingin mengucapkan sekali lagi, selamat jalan Rendra…, orang besar, sastrawan besar,guru besar

meyakini Tuhan

Ini bukan tulisan panjang. Barusan baca buku Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer dan nemu beberapa terminologi di akhir bab 1:

  1. Ateisme : paham yang menyangkal keberadaaan Tuhan berdasarkan bukti-bukti rasional.
  2. Agnotisisme : paham yang tidak menyangkal maupun membenarkan keberadaan Tuhan, karena hal itu berada di luar jangkauan/kemampuan inderawi dan rasio manusia.
  3. Fideisme : paham yang menyatakan bahwa pengetahuan religius (termasuk: keyakinan pada Tuhan) hanya dapat dijustifikasi atau ditetapkan berdasarkan iman, bukan akal budi.
  4. Panteisme : paham yang menyatakan bahwa alam semesta adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam semesta. Tidak ada perbedaan antara pencipta dan ciptaan, Tuhan berada di manapun, di dalam segala sesuatu, dan adalah segala sesuatu.
  5. Deisme : paham yang menyatakan bahwa setelah menciptakan alam beserta hukum-hukumnya, Tuhan menarik diri dan tidak memainkan peran di dalamnya. Tuhan digambarkan seperti seorang pembuat jam yang kemudian pensiun

Keyakinan saya termasuk yg mana ya? Keyakinan pembaca? Tidak masuk yg manapun? Atau ada alternatif yg lain?