Apakah data privasi anda aman?

I used to say that Google knows more about what I’m thinking of than my wife does. But that doesn’t go far enough. Google knows more about what I’m thinking of than I do, because Google remembers all of it perfectly and forever. (Bruce Schneier, Data and Goliath)

Bagaimana dengan berbagai layanan lain selain Google? Bagaimana jika ada (atau bahkan sudah ada) mesin yang dapat mengakses data tersebut, menganalisis, mengkorelasikan, dan akhirnya menyimpulkan sesuatu tentang profil dan perilaku kita? Bayangkan jika data kita di Facebook, Google, Twitter, Gojek, credit card provider, Amazon, Tokopedia, Bukukita dan sebagainya digabung dan dianalisis. Apa saja kira-kira yang dapat disimpulkan oleh mesin surveillance mengenai diri kita?

Setidaknya ada dua hal yang mulai harus kita waspadai:

Baca lebih lanjut

Iklan

Membaca dan berfikir kritis

photo_2017-04-25_13-37-03.jpg

Ada yang mengatakan bahwa banyak membaca dapat meningkatkan sikap kritis dan memperluas wawasan. Bener gitu?

Saya menduga ada semacam fenomena ‘chamber’ juga dalam kegiatan membaca. Ini terjadi ketika seseorang hanya membaca berbagai hal yang sekiranya tidak bertentangan dengan pemikiran atau berbagai hal yg diyakininya benar. Untuk mencari kebenaran, seharusnya kita juga dengan sengaja membaca buku atau artikel yang bertentangan dengan pandangan kita.

Karena fenomena chamber ini, maka tidak heran beberapa waktu yang lalu ada yg membahas tafsir sebuah ayat dan menyatakan bahwa:
– Pihak A: diantara berbagai terjemahan, hanya terjemahan bahasa Indonesia yg aneh karena menyatakan demikian dan demikian…
– Pihak B : seluruh kitab yang muktabar menyatakan demikian dan demikian….

Dan tidak ada dialektika antara dua pihak di atas…

Menemukan kembali ‘kesadaran’

The Power of Now
(Eckhart Tolle)

the power of now.jpg

Edisi pertama buku ini terbit tahun 1999. Memang termasuk buku lama. Sepertinya juga bukan termasuk buku yang populer di Indonesia. Saya tidak tahu juga apakah sudah ada terjemahannya.

Dari judulnya, The Power of Now, tadinya saya menduga bahwa buku ini semacam buku motivasi. Atau, terlintas juga bahwa ini pasti buku tentang tip dan trik untuk menyembuhkan kecenderungan menunda pekerjaan. Tentu karena ada kata ‘Now’ di judulnya. Namun ternyata bukan. Saya merasa perlu mengingatkan bahwa buku ini aneh.

Baca lebih lanjut

Tentang non-kontradiksi (yg belum selesai…)

Ini copy-paste rangkaian diskusi di halaman fb-nya Taufik. Disalin di sini agar lebih mudah dibaca. Kali-kali ada yg perlu merujuk isu ini. Latar belakangnya adalah tentang ketidaksepakatan antara saya dan Taufik tentang tingkat kebenaran prinsip non-kontradiksi. Dan diskusinya masih belum selesai…

Tara Taufiqur Rahman Surah Aal-e-Imran, Verse 47: Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. Like · · Share · October 16 at 3:21pm via mobile ·

Tara Taufiqur Rahman Ayat itu memperlihatkan bahwa “kun fayakun” bisa terjadi dengan melawan hukum alam. Seketika atau dalam proses, itu bagaimana kehendak Allah saja. October 16 at 3:24pm · Like · 1 person

Tara Taufiqur Rahman ‎@Budi Sulistyo: ini bukti bahwa Tuhan tidak terikat hukum alam (ataupun rangkaian logika yang dibangun pemikiran manusia) October 16 at 3:28pm · Like

Tara Taufiqur Rahman ‎Budi Sulistyo: ditunggu comment-nya ya..October 17 at 8:47am · Like Baca lebih lanjut

Ujaran Imam Sadiq

This is a such  beautiful quote:

Imam Sadiq (a) has said: “The number of those who die because of committing sins is larger than the number of those who die because of their natural death, and the number of those who live because of doing good deeds is larger than the number of those who live because of their real age”.

In my opinion, there are some very important views or implications from the quote:

  1. When, how and  where we will die is surely a mystery, but it is not predestined.  There is  causal relationship between our death and our deeds.
  2. We must be carefull in any aspect of our life, because law of causation is not limited in material word, either it is also applied in spiritual world and in any other world that may be exist. There is always  a particular consequence for any action we did.
  3. Morality is not only a convention. It does exist and has its own law.  It is not only other people who could produce morality consequences toward us. Nature could also respond to any our moral action.

Meutya Hafid

168 Jam dalam Sandera

 

Saya sudah membaca buku itu beberapa hari lalu. Bagus banget! Saya selesaikan dalam sekali baca. Buku ini menceritakan tentang pengalaman Meutya Hafidz dan Budiyanto selama disandera di Irak. Kisah penyanderaan! Kisah itu tentu saja kemungkinan besar akan menarik. Tapi, tidak hanya itu!

Meutya sangat pintar menata alur penceritaan. Urutan cerita tidak linear terhadap waktu, melainkan meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian lainnya secara nonlinear (mungkin berbagai penggalan kisah disusun linear berdasarkan emosi). Di awal, Meutya langsung masuk pada drama penculikan. Berikutnya alur cerita mundur ke peristiwa-peristiwa menjelang keberangkatan Meutya dan Budyanto. Terselip juga kisah masa kecil hingga masa remaja dari penulis. Hampir seluruh bagian cerita terhubung secara emosional. Misalnya: ketika Meutya menceritakan kesedihan hatinya saat ayahnya wafat, tiba-tiba alur meloncat kembali kepada drama penyanderaan, lewat sebuah kalimat:

“….Aku tahan tangisku, tapi rasa sakit dan pilu itu justru memuncak. Penyesalan seperti tiada habisnya, mengiris hatiku. Aku masih ingat betul rasa sakit itu, hingga kini. Terasa sangat menyakitkan. Tak ada yang mampu menandingi rasa sakit ini. Tidak para penculik ini. Tidak si Sontoloyo!…

Kisah ini menjadi semakin menarik ketika Meutya menceritakan berbagai kejadian di Studio Metro TV yang berujung pada penunjukan dirinya untuk melakukan liputan di Irak. Gambaran ketegangan yang meliputi seluruh kru Metro TV ketika berita insiden penyanderaan tersebut mereka terima tersaji dengan baik. Nyaris detil. Saya bisa merasakan langsung ketegangan itu.

Tentang cerita penyanderaan itu sendiri, Meutya tidak hanya menceritakan hal-hal mencekam selama penyanderaan. Todongan senjata, suara rentetan tembakan dan hardikan kasar dari salah satu penyandera. Ia juga bertutur tentang terjalinnya persahabatan diantara mereka, semuanya, penyandera maupun yang disandera. Selama penyanderaan ini, Meutya tampaknya telah melalui perjalanan batin yang sangat berharga, mengenali perjuangan dan pengorbanan para mujahiddin, mengenal dirinya sendiri, dan lebih akrab dengan Sang Pencipta.

Satu hal yang membuat saya terkesan, Meutya ternyata mendedikasikan buku ini untuk perjuangan para Mujahiddin, khususnya bagi dua orang sahabat-penculiknya yaitu Ahmad dan Muhammad.

“… Buku ini juga saya tulis untuk perjuangan warga Irak. Juga untuk mereka yang menyandera saya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janji seorang wartawan untuk memberitakan yang berimbang….”

Berdasarkan apa yang dia kisahkan sepanjang buku ini, tampaknya Meutya telah berhasil mengenali kemurnian tujuan perjuangan dari penculik2nya.

Pokoknya bagus. Saya sangat merekomendasikan buku ini (khususnya untuk istriku, he2). Menurut saya, sangat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari tulisan Meutya.