Cryptocurrency, Idealisme di Balik Kecemerlangan Teknologi

Teknologi cryptocurrency tidak serta-merta muncul pada tahun kelahiran bitcoin, yakni sekitar 2009. Di tahun 1996, Bruce Schneier, dalam bukunya Applied Cryptography, telah membahas dasar-dasar teknologi digital-cash ini. Bentuk awal teknologi yang dibahas oleh Bruce Schneier memiliki prinsip-prinsip desain yang serupa dengan cryptocurrency mutakhir meskipun detil cara kerjanya sangat jauh berbeda. Apa sebenarnya prinsip dasar serta tujuan teknologi digital-cash? Dari namanya kita boleh menyimpulkan bahwa tujuannya adalah menirukan transaksi uang kas dalam bentuk digital. Mengapa menirukan uang kas? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengenali idealisme yang menjadi dasar lahirnya digital-cash. Dalam artikel ini, teknologi digital-cash atau cryptocurrency selanjutnya akan kita sebut sebagai protokol.

 

Kemajuan teknologi memungkinkan kita melakukan transaksi elektronik yang jauh lebih praktis dibanding transaksi menggunakan uang kas. Saat ini, kita hanya perlu membawa kartu ATM / debit ataupun kartu kredit untuk melakukan transaksi. Bahkan kita juga dapat menjalankan aplikasi di smartphone untuk melakukan transaksi. Transaksi menggunakan uang kas yang merepotkan lambat laun kita tinggalkan. Lalu, apa yang sebenarnya diinginkan dari protokol digital-cash?


Transaksi elektronik, bagaimanapun praktisnya, selalu meninggalkan jejak digital. Hal Ini memungkinkan penyedia layanan mengetahui berbagai informasi berkenaan dengan transaksi yang kita lakukan. Di sisi lain, dengan uang kas kita masih bisa melakukan transaksi secara anonim. Ini artinya subyek yang bertransaksi tidak dapat diketahui dengan mudah karena transaksi tersebut tidak mengharuskan pencatatan identitas pelaku transaksi. Mengapa ada orang yang menginginkan transaksi secara anonim? Ada beberapa urusan jual beli yang bersifat privat, sebut saja misalkan pembelian obat untuk penyakit tertentu. Secara umum, karakteristik transaksi anonim masih diinginkan karena orang seringkali perlu melepaskan diri dari kendali dan pengamatan pihak lain. Sisi negatifnya, karakteristik ini sangat disukai pelaku transaksi ilegal. Selain anonim, hal lain yang ingin ditiru dari uang kas adalah biaya transaksinya yang sangat kecil. Ini karena uang kas dapat dipindahkan dari satu orang ke orang lain secara langsung tanpa bantuan bank atau penyelenggara layanan finansial lainnya.

 

Menirukan karakteristik uang kertas atau koin ke bentuk digital ternyata bukan perkara sederhana. Apa saja karakteristik yang harus dimiliki digital-cash? Pertama, digital cash harus memiliki fitur keamanan yang menjamin keasliannya sebagaimana uang kertas dan koin yang dirancang dengan ciri-ciri fisik tertentu agar sulit dipalsukan. Secara teknis, salah satu cara untuk memenuhi hal ini adalah dengan menggunakan sertifikat digital. Kedua, digital-cash harus anonim yang berarti tidak boleh meninggalkan jejak digital yang dapat mengungkapkan identitas pelaku transaksi. Digital cash akan sangat berbeda dengan transaksi elektronik pada umumnya yang berlangsung dengan cara memindahkan nilai uang tertentu dari akun pengirim ke akun penerima dengan identitas pemilik yang jelas untuk masing-masing akun tersebut. Ketiga, digital-cash harus aman dari tindakan penggunaan-ulang uang yang sama untuk transaksi yang berbeda atau yang biasa disebut double-spending. Dalam kasus uang kertas atau koin, ketika seseorang sudah membelanjakan uang tertentu ke pihak lain maka uang tersebut secara fisik akan berpindah ke tangan pihak kedua sehingga pihak pertama tentu tidak dapat menggunakan uang yang sama. Ini sangat berbeda dengan kasus digital-cash yang tidak memiliki wujud fisik. Ketika seseorang melakukan pembayaran ke pihak lain menggunakan unit digital-cash, orang tersebut masih mungkin mengulang penggunaan unit uang yang sama untuk transaksi yang berbeda. Tiga hal inilah yang menjadi karakteristik utama digital-cash.

 

David Chaum merupakan pengusung paling awal protokol digital-cash melalui papernya di tahun 1982 yang berjudul Blind Signatures for Untraceable Payments. Motivasi utamanya adalah perlindungan privasi. Teknologi lain seperti enkripsi-kunci-publik dan Pretty Good Privacy (PGP) juga diciptakan dengan tujuan untuk melindungi aspek privasi dari pengguna internet. Teknologi ini bertujuan meminimalkan risiko adanya otoritas tertentu yang memiliki kendali yang terlampau besar terhadap publik melalui penguasaan informasi privat milik individu. Jadi, protokol digital-cash kurang lebih berawal dari idealisme yang sama yakni bagaimana melindungi privasi pengguna uang dari pemantauan pihak lain. Pihak lain ini dapat berupa perorangan,  pemerintah ataupun korporasi. Dengan pijakan idealisme ini, David Chaum mendirikan perusahaan DigiCash untuk memasarkan protokol ciptaannya. Namun ada satu kritik terhadap protokol DigiCash. Protokol tersebut ternyata masih memerlukan otoritas terpusat untuk memastikan bahwa keseluruhan sistem benar-benar trusted, dan otoritas tersebut adalah perusahaan DigiCash. Digital-cash yang ideal seharusnya tidak bergantung pada otoritas tertentu, baik perorangan, government ataupun korporasi.

 

Idealisme ini mengakar dengan kuat di komunitas Cipherpunks yang digagas oleh Timothy May dan Eric Hughes di tahun 1992. Berikut adalah pesan dari Eric Hughes menyangkut privasi yang dimunculkan ketika pengguna mengakses salah satu aplikasi ciptaannya:

 

Cypherpunks assume privacy is a good thing and wish there were more of it. Cypherpunks acknowledge that those who want privacy must create it for themselves and not expect governments, corporations, or other large, faceless organizations to grant them privacy out of beneficence.

 

Digital-cash merupakan salah satu produk dari gerakan ini dan oleh karenanya pengembangan protokol digital-cash terus berlanjut bahkan setelah bangkrutnya DigiCash pada 1997. Perlahan idealisme digital-cash bahkan berkembang lebih jauh. Semula pendukungnya hanya menghendaki perlindungan privasi dalam bertransaksi, belakangan ini berkembang menjadi ide untuk menciptakan sistem keuangan baru guna menandingi sistem keuangan yang ada. DigiCash sebagai bentuk awal digital-cash sejatinya hanya dibuat untuk merealisasikan karakteristik uang kas namun dengan tetap menggunakan mata uang yang berlaku. DigiCash sama sekali tidak bermaksud menciptakan jenis mata uang (currency) baru.

 

Lalu bagaimana digital-cash ini selanjutnya bertransformasi menjadi bentuk cryptocurrency yang sekarang? Uang kertas dan koin merupakan bagian sangat kecil dari seluruh uang yang beredar. Bagian lain yang cukup besar berbentuk uang elektronik. Kita semua memerlukan bank, perusahaan kartu kredit ataupun penyedia layanan lainnya untuk bertransaksi menggunakan uang elektronik. Hal ini yang dilawan oleh komunitas pengusung digital-cash. Lebih jauh lagi, penggunaan uang kertas dan koin kenyataannya masih memerlukan peran pemerintah ataupun bank sentral. Banyaknya uang yang diedarkan oleh pemerintah akan langsung mempengaruhi nilai tukarnya. Bagaimana jika pemerintah mencetak terlalu sedikit atau terlalu banyak uang? Faktanya, nilai tukar mata uang tertentu memang selalu menurun dari waktu ke waktu. Hal inilah yang akhirnya mendorong komunitas ini menciptakan mata uang baru dalam bentuk digital-cash yang memiliki perilaku seperti uang-komoditas (commodity money atau hard-currency).

 

Mengapa uang-komoditas? Sebagian ahli berpendapat bahwa uang-komoditas berasal dari barang komoditas yang bertransformasi secara alami menjadi uang. Artinya, publik secara sukarela menerimanya sebagai alat tukar yang sah. Seberapa banyak uang-komoditas yang beredar pada saat tertentu sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar. Ini berbeda dengan uang-fiat yang legalitasnya ditetapkan oleh otoritas terpusat yakni pemerintah. Pendukung digital-cash berupaya mewujudkan jenis mata uang baru serupa uang-komoditas dalam bentuk digital yang kemudian lebih populer disebut sebagai cryptocurrency.

 

Selain tiga karakteristik digital-cash yang telah kita bahas sebelumnya, cryptocurrency harus memenuhi dua karakteristik tambahan. Pertama, penciptaan unit tertentu cryptocurrency harus cukup sulit. Tujuannya untuk membatasi laju pertambahan jumlah uang beredar. Uang-komoditas harus cukup langka sebagaimana emas (sebagai uang-komoditas) yang juga terbatas ketersediaannya. Dengan karakteristik ini, cryptocurrency diharapkan tidak rentan terkena inflasi. Kedua, kendali penciptaan uang sepenuhnya ada di tangan publik atau komunitas pengguna. Penciptaan uang tidak boleh terpusat pada otoritas apapun, baik perorangan, pemerintah, bank sentral ataupun korporasi.

 

Setelah DigiCash, pada tahun 1997 Adam Smith mengajukan teknik yang disebut hashcash untuk memecahkan salah satu masalah utama digital-cash, yaitu: bagaimana menghasilkan file digital yang tidak dapat berulang kali digandakan. Adam Smith mengajukan mekanisme proof-of-work yang mengharuskan komputer melakukan serangkaian proses tertentu sebelum menghasilkan unit hashcash. Proof-of-work ini merupakan salah satu tulang-punggung protokol Bitcoin yang digunakan untuk memastikan bahwa uang tidak terlalu mudah diciptakan. Protokol awal ini kemudian terus diperbaiki diantaranya oleh Nick Szabo yang pada tahun 1998 mengajukan bit-gold,  lalu Wei Dai yang mengajukan b-money sebagai anonymous, distributed electronic cash system  dan juga Hal Finney yang mengajukan RPOWs (reusable proofs of work). Hal Finney inilah yang belakangan menjadi partner paling awal Satoshi Nakamoto saat mengembangkan prototip bitcoin.

 

Setelah tahun 1999, pengembangan protokol digital-cash tampaknya menemui jalan buntu dan bahkan sering disamakan dengan upaya untuk mengubah arang menjadi intan. Baru pada Agustus 2008, Satoshi Nakamoto mendadak muncul dengan mengajukan skema protokol baru bernama Bitcoin. Ethereum, litecoin, Ripple dan cryptocurrency lainnya selanjutnya menyusul dalam beberapa tahun setelahnya. Protokol  cryptocurrency dalam bentuk yang mutakhir selalu memiliki beberapa teknologi dasar, yakni: proof of work, sistem terdistribusi dan block chain. Tiga teknologi ini dapat merealisasikan keseluruhan tiga karakteristik utama digital-cash dan dua karakteristik tambahan cryptocurrency.

 

Jadi, digital-cash yang berkembang dalam sepuluh tahun terakhir ini bukan hanya merupakan protokol uang kas dalam bentuk digital. Bitcoin, ethereum, litecoin dan ripple sekaligus juga merupakan jenis mata uang baru. Karena itulah nama cryptocurrency menjadi lebih cocok, yakni sejenis mata uang yang tercipta berbasis pada teknik kriptografi. Cryptocurrency ini lahir dari idealisme yang pada awalnya diusung oleh komunitas Cypherpunk. Menurut mereka, publik berhak memiliki jenis uang yang tidak mengancam privasi ketika digunakan, tahan terhadap inflasi karena ketersediaan (supply) yang terbatas, serta keberlangsungannya tidak bergantung pada otoritas yang terpusat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s