Tentang pembelajaran tematik

Percakapan sehari-hari saya dengan anak-anak diantaranya adalah tentang apa yang mereka pelajari di sekolah, mata pelajaran apa yang akan diajarkan atau kuis apa yang akan dilaksanakan esok hari. Bayangan saya, yang namanya mata pelajaran itu ya matematika, bahasa, sains dan sebagainya. Namun, agak aneh ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut saya ajukan ke salah seorang anak saya yang sekarang duduk di kelas 3 SD. Hampir-hampir dia tidak pernah menyebutkan nama-nama mata pelajaran yang biasa saya dengar. Pertanyaan mengenai mata pelajaran hanya memiliki satu jawaban: Tematik!

Jadi, mata pelajaran atau topik bahasan di sekolahnya adalah Tematik-1, Tematik-2 dan seterusnya.

Lalu saya tanya, apakah ada pelajaran bahasa Indonesia, matematika, sains di sekolahnya? Jawabannya, semua itu dibahas menjadi satu dalam bahasan Tema-1, Tema-2 dst. Menurutnya juga, agak sulit membedakan bagian mana yang matematika, bahasa Indonesia ataupun sains. Lho?!?! Padahal saya lihat anak saya membawa buku tulis catatan untuk masing-masing matpel matematika, bahasa dll setiap hari ke sekolah. Jadi, buku tulis itu digunakan untuk mencatat apa? Nah, ini menariknya…
Saya berikan satu contoh saja seperti apa pembahasan tematik seperti yang diceritakan anak saya. Saat itu, guru memberikan serangkaian teks yang harus dikerjakan oleh siswa.

andi akan membeli 3 buah pensil di koperasi sekolah

Tiap-tiap pensil harganya rp 2500

andi memiliki pecahan uang rp 10000

berapa kembalian yang diterima andi

Guru menuliskan teks tersebut di papan tulis dan meminta siswa untuk mengerjakannya. Yang cukup lucu, saat itu ada seorang siswa mengeluarkan buku catatan matematika seraya menanyakan apakah benar mereka sedang belajar matematika. Ternyata siswa itu keliru! Ternyata mereka sedang belajar bahasa Indonesia. Jadi apa yang harus dilakukan siswa? Kira-kira instruksinya begini…

Berikan tanda baca yang benar untuk tulisan tersebut! Setelah selesai, baca kembali dan kemudian hitung kembalian yang diterima Andi!

Begitu yang terjadi! Apakah cukup membingungkan? Bagi saya pribadi cukup aneh dan membingungkan. Kasus di atas hanya satu contoh saja. Untung anak saya lumayan faham dengan apa yang terjadi sehingga dia menganggap hal itu sebagai kelucuan yang terjadi di kelasnya. Ada beberapa komentar saya mengenai Kurikulum Tematik ini:

  1. Siswa mengalami kesulitan untuk fokus pada problem tertentu.
  2. Seringkali porsi mata pelajaran (matematika, bahasa Indonsia dst) tidak seimbang. Beberapa kali anak saya mengatakan bahwa sudah cukup lama dia tidak belajar matematika. Ketika saya tanya mengapa seperti itu, dia menjawab bahwa memang kebetulan matematika sedang tidak dibahas dalam pelajaran tematik beberapa hari terakhir.
  3. Pengertian-pengertian yang sangat mendasar tidak dapat tersampaikan dengan efektif. Contoh yang saya amati adalah pemahaman dasar seputar matematika. Siswa tidak melakukan eksplorasi cukup dalam mengenai bilangan, kelipatan, bangun geometri dan sebagainya.

Itu pengalaman dan beberapa catatan saya mengenai kurikulum tematik.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tentang pembelajaran tematik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s