Menemukan kembali ‘kesadaran’

The Power of Now
(Eckhart Tolle)

the power of now.jpg

Edisi pertama buku ini terbit tahun 1999. Memang termasuk buku lama. Sepertinya juga bukan termasuk buku yang populer di Indonesia. Saya tidak tahu juga apakah sudah ada terjemahannya.

Dari judulnya, The Power of Now, tadinya saya menduga bahwa buku ini semacam buku motivasi. Atau, terlintas juga bahwa ini pasti buku tentang tip dan trik untuk menyembuhkan kecenderungan menunda pekerjaan. Tentu karena ada kata ‘Now’ di judulnya. Namun ternyata bukan. Saya merasa perlu mengingatkan bahwa buku ini aneh.

Ini adalah buku tentang ‘KESADARAN’.

Penulis menyatakan bahwa, pada umumnya, manusia berada dalam kondisi ‘tidak sadar’. Aneh kan? Lalu, apa sebenarnya yang disebut dengan ‘sadar’? Mencapai kesadaran pada hakikatnya adalah mengenali ‘aku’, lebih tepatnya adalah MENYADARI keberadaan dan realitas ‘aku’ sebagai subyek yang bertindak, mempersepsi, berfikir dan merasakan situasi emosional tertentu. Kondisi tidak sadar adalah situasi ketika realitas ‘aku’ justru tersembunyi dibalik beragam pikiran dan emosi kita.

Sangat menarik bagi saya ketika penulis menjelaskan bahwa umumnya manusia saat ini seperti ‘dirasuki’ oleh pikirannya sendiri. Kemampuan berpikir seharusnya merupakan piranti yang sangat hebat bagi manusia untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan. Namun, saat ini alih-alih menggunakan pikiran, manusia justru dikuasai atau dikendalikan oleh pikiran. Apa bukti bahwa kita dirasuki pikiran? Untuk menjawab hal ini, penulis justru balik menanyakan, apakah kita memiliki tombol on/off untuk pikiran kita? Cobalah untuk sesaat saja berhenti berpikir. Sulit?

Bagaimana cara untuk ‘sadar’ kembali? Berlatihlah untuk menghayati ‘the Now’. Penulis meminta kita untuk sadar dan mengamati secara penuh apa saja yg terjadi saat ini; lintasan imajinasi, pikiran, emosi, pendengaran, penglihatan. Terima semuanya secara total, tanpa resistansi, tanpa kritik. Rasa senang, sakit, dengki, sombong, takut seringkali melintas. Amati saja, akui saja keberadaannya. Penulis menamakan kondisi ini sebagai kondisi ‘stillness’. Istilah ‘stillness’ ini sangat rentan disalahpahami. Penulis akan panjang lebar menjelaskan bahwa ‘stillness’ ini berbeda dengan kondisi pasif atau keengganan bertindak untuk merubah keadaan.

Tanpa menggunakan argumentasi filosofis yang njlimet, penulis bahkan mampu merambah pembahasan-pembahasan ontologis, yakni hakikat fundamental segala sesuatu. Penulis seringkali menggunakan kata ‘Being’ (meng-Ada) untuk menunjukkan sumber dari segala sumber. Penulis tidak hanya sedang menjelaskan cara menemukan sang ‘aku’, ia juga menyatakan, di banyak bagian, bahwa menemukan sang ‘aku’ dapat menghantarkan kita pada Sang Pencipta.
Sound familiar?

Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya.

Buku ini sangat bagus menurut saya. Saya merasa diajak untuk menghayati kembali lapisan-lapisan realitas yang saya alami sepanjang hidup, bahwa setiap moment, apapun itu, merupakan HADIAH dari Tuhan.

Selamat berburu bukunya bagi yg berminat!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s