Penjelasan surat Al Maidah ayat 51

Berikut ini adalah terjemahan dalam bahasa Inggris dan penjelasannya dalam bahasa Indonesia untuk Q.S. 5:51 yang saya ambil dari buku The Study Quran: A New Translation and Commentary, oleh Seyyed Hossein Nasr. Karena ada rujukan-silang ke penjelasan ayat lain dalam buku yang sama, maka di bawah juga saya sertakan penjelasan dalam bahasa Inggris untuk Q.S 3:28 dan Q.S. 4:139. Singkatan dalam kurung menunjukkan rujukan ke kitab lain.

 

Terjemahan dalam bahasa Inggris Q.S. 5:51

O you who believe! Take not Jews and Christians as protectors. They are the protectors of one another. And whosoever takes them as protectors, surely he is of them. Truly God guides not wrongdoing people.

Penjelasan untuk Q.S. 5:51

Ayat ini ditujukan bagi kaum muslim (wahai orang-orang yang beriman), melarang mereka untuk mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung  (awliyāʾ). Awliyāʾ (bentuk tunggalnya adalah walī) dapat juga bermakna “teman” (jamak) atau  “sekutu” (jamak) (lihat juga komentar dalam bahasa Inggris untuk Q.S. 3:28 dan 4:139 di bawah), namun di sini lebih dekat maknanya ke yang dijadikan oleh seseorang sebagai pelindung atau otoritas yang dominan. Kata ini dan bentuk kata kerjanya walāyah (yang memiliki akar yg sama) digunakan dalam Quran untuk menunjukkan ikatan loyalitas, perlindungan-bersama, dan hubungan pertemanan yakni menandakan hubungan antara anggota-anggota dari kelompok keagamaan yang sama (lihat Q.S. 8:72; 9:71). Meskipun ini adalah satu-satunya ayat Quran yang menyatakan secara spesifik  agar kaum beriman tidak mengambil kaum Yahudi atau Nasrani sebagai pelindung, di bagian lain dari Quran kaum beriman dilarang untuk mengambil orang kafir (Q.S. 3:28; 4:89, 139, 144), orang-orang yang memperolok agama Islam (Q.S. 5:57), musuh-musuh Tuhan (Q.S. 60:1), dan bahkan kerabat dekat yang memilih kekafiran daripada keimanan (Q.S. 9:23), sebagai pelindung. Bahwa kaum Yahudi dan Nasrani saling melindungi satu sama lain mengindikasikan bahwa ada ikatan loyalitas di dalam kelompoknya masing-masing, sebagai komunitas keagamaan yang berbeda; dan di Q.S. 5:80-81 tindakan mereka ditentang karena mengambil orang kafir sebagai pelindung.

Berdasarkan riwayat, ayat ini menjelaskan sekelompok orang Muslim Madinah yang membentuk persekutuan dan perlindungan secara politik dengan kaum Yahudi. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Sahabat ʿUbādah ibn al-Ṣāmit adalah salah seorang penduduk Madinah yang sudah Muslim (Anṣār) namun masih mempertahankan persekutuan serta perlindungan-bersama dengan klan Yahudi. Ia datang pada Rosul untuk melepaskan persekutuannya dengan mereka dan menegaskan bahwa pelindungnya hanyalah Allah, Rosul, dan orang-orang beriman (lihat Q.S. 5:55). Muslim Madinah yang lain, ʿAbd Allāh ibn Ubayy, setelahnya juga datang pada Rosul menyatakan bahwa ia perlu mempertahankan ikatan perlindungan dengan sekutu Yahudinya, dan kemudian ayat ini turun untuk melarangnya dan juga melarang orang-orang beriman  melakukan hal tersebut (Q, R, Ṭ). Riwayat lain menyatakan bahwa setelah kaum Muslim menderita kekalahan perang di Uhud, sebagian Muslim yang merasa lemah membentuk persekutuan dengan klan Yahudi. Ayat ini bertujuan untuk melarang tindakan tersebut (Ṭ).

Ayat ini memperingatkan bahwa siapa saja yang mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung adalah dari mereka, yang bermakna menjadi bagian dari mereka. Maka, membentuk persekutuan untuk perlindungan-bersama dengan kaum Yahudi dan Nasrani adalah sama saja dengan mengidentifikasikan diri dengan mereka, karena ikatan untuk perlindungan-bersama (walāyah)  dengan kelompok agama tertentu adalah yang membuat seseorang menjadi anggota dari kelompok agama tersebut. Lihat juga Q.S. 3:28 dan 4:139, mengambil sekutu selain orang-orang beriman—yakni sekutu selain kaum Muslim—jelas-jelas ditentang. Sebagian ahli tafsir berpandangan, hal ini artinya status seseorang yang bersekutu dengan anggota komunitas agama lain, misalnya dengan Yahudi atau Nasrani, mengemban status yang sama, secara legal dan teologis, dengan anggota dari komunitas agama tersebut  (Q, Ṭū). Larangan dalam ayat ini untuk bersekutu dalam perlindungan dengan kelompok di luar Muslim kemungkinan besar berkenaan dengan kondisi sosial dan politik komunitas Islam yang masih muda di masa Rosul yang belum mapan dan kokoh; dan penting untuk dicatat bahwa Hukum Islam, yang berkembang sesudah negara Islam berdiri sepenuhnya, memperkenankan perjanjian perlindungan-bersama dengan negara non-Muslim dan entitas politik lain. Ahli tafsir yang lain berpandangan bahwa ayat ini juga berarti bahwa ikatan inheritance antara mereka-yang-bersekutu-dengan-kelompok-lain dengan kaum Muslim menjadi sirna, karena akar kata dari awliyāʾ/walī dapat bermakna inheritance dan juga sekaligus perlindungan-bersama (Q, Ṭs).

Kata awliyāʾ/walī dapat juga bermakna “teman,” dan karenanya ayat ini mungkin menimbulkan kebimbangan mengenai boleh atau tdaknya memelihara hubungan pertemanan dengan kaum Yahudi dan Nasrani, sehingga sebagian menyimpulkan bahwa seseorang (Muslim) tidak diperkenankan menjalin hubungan yang dekat dengan mereka (Yahudi atau Nasrani) atau menaruh kepercayaan pada mereka (Z). Beberapa ahli tafsir mengisahkan bahwa Khalifah kedua, ʿUmar ibn al-Khaṭṭāb, menggunakan ayat ini sebagai landasan argumen ketika meminta gubernurnya (namun tidak berhasil), Abū Mūsā al-Ashʿarī, untuk berhenti memperkerjakan juru tulisnya yang Nasrani (IK, R, Z). Namun demikian, pendapat sebagian besar ahli tafsir dan juga riwayat mengenai seputar kejadian ketika ayat ini turun dengan jelas menetapkan makna kata ini (awliyāʾ/walī) lebih dekat ke “pelindung” atau “sekutu” dan menempatkan konteksnya pada masa ketika kelompok Islam sedang berjuang membentuk dan membangun dirinya guna menghadapi kelompok yang merupakan musuh-musuh agama. Ayat ini tidak dapat ditafsirkan sebagai larangan untuk membina hubungan pertemanan dengan kaum Yahudi dan Nasrani pada tingkat personal, karena pemaknaan seperti itu akan bertentangan dengan Q.S. 5:5, yang memperkenankan adanya hubungan yang paling intim secara personal—yakni pernikahan—antara pria Muslim dengan wanita Yahudi ataupun Nasrani, dan juga bertentangan dengan Q.S. 60:7-8, yang menyatakan agar Muslim bertindak adil serta baik pada siapapun yang tidak memusuhi karena alasan agama ataupun menindas kaum muslim.

Referensi

1.a. Terjemahan Q.S. 3:28 dalam bahasa Inggris

Let not the believers take the disbelievers as protectors apart from the believers. Whosoever does that has no bond with God, unless you guard against them out of prudence. And God warns you of Himself, and unto God is the journey’s end.

1.b. Penjelasan Q.S. 3:28 dalam bahasa Inggris

In this context, protectors renders awliyāʾ (sing. walī), a multifaceted word that can mean “protector,” “ruler,” “ally,” “client,” or “friend” depending on the context. The subject matter here is not friendship in the ordinary sense, but allegiance and group alignment in which the political stakes go beyond mere confessional identity. According to one view, this verse was revealed in connection with hypocrites in Madinah who were collaborating with the Makkans against the Prophet; others believe it referred to a friendship between some Helpers and certain Jewish men who wanted to lead them away from their religion; still others mention the case of a prominent Companion at the Battle of the Trench who wanted to marshal several hundred Jews to fight on the side of the Prophet, though generally without explaining why this suggestion was rejected (R, Ṭ, W). In these possible accounts it is primarily the political dimension that is in view. See 4:88–90c, which gives the political context of a verse employing similar language, as well as 4:144; 5:51; 5:57. Also see 3:118: O you who believe! Take not intimates apart from yourselves; they will not stint you in corruption. They wish you to suffer. Similar prohibitions apply to those who reject God, but take another agent as their walī (7:30; 11:20; 13:16; 18:102; 29:41; 39:3; 42:6, 9, 46). Has no bond with Godcould be translated literally, “is not of God in aught,” the phrase “of [someone]” meaning to be allied or associated with them, to be part of their community—to be “one of them.”

Prudence translates tuqāh, which some read as taqiyyah; the latter is more widely known and often translated “dissimulation,” though the word itself is etymologically related to “taking care” and “being wary” and is lexically related to taqwā, or reverence (see 2:2c). Those who guard against them out of prudenceare exempted if they fear death or great harm through persecution at the hands of the community in which they live, in which case they can hide their faith through words but not through actions, which is to say they can deny to others that they are Muslim, but they cannot then violate the major rules of Islam by, for example, murdering, stealing, or committing adultery under the cover of this denial (Q, R, Ṭ). Elsewhere the Quran excuses the one who is coerced, while his heart is at peace in faith (16:106), revealed in connection with the earliest martyrs in Makkah (Q), whose identity as Muslims put them in mortal danger. Others mention an exception that is made for blood relatives, in which case a disassociation in religion is still necessary even if the familial connection is maintained (Ṭ). The commentators mention an incident in which two Companions were captured by Musaylimah, a man who claimed to be a prophet, and were asked to affirm his prophetic status alongside that of Muhammad. One of them did, but the other did not, but neither lost faith in his heart. The Prophet said, “As for the first victim, he stayed with his certainty and truth, and happy is he. As for the second, he received the leniency of God, and there is no blame on him.”

The concept of taqiyyah is often associated more strongly with the Shiites, since during the period of the Imams (until about the mid-third/ninth century) taqiyyah was considered an important virtue in Shiite piety, though it was later deemphasized when the Shiites constituted a large number and as the political position of Shiism became less insecure; taqiyyah, however, continued throughout the history of Shiism and is still considered legitimate when circumstances necessitate it. The Sunni view toward taqiyyah is substantially the same at a legal and political level, though the terminology might differ. At a spiritual level, taqiyyah has also been used, in both Shiite Islam and the Sufi tradition in Sunni Islam, in the context of hiding or concealing spiritual teachings that are not appropriate for everyone.

God warns you of Himself is taken to mean that He warns about His Wrath and Punishment. Some suggest that there is an elision of a word, meaning something like “God warns you of [His own punishment],” while others read it as “God warns you of that very thing,” referring back to the act of taking others as allies and protectors (R).

2.a. Terjemahan Q.S. 4:139 dalam bahasa Inggris

Those who take disbelievers as protectors instead of believers—do they seek might through them? Truly might belongs to God altogether.

2.b. Penjelasan Q.S. 4:139 dalam bahasa Inggris

The concept of protectorship (walāyah) was an important social principle in the tribal culture of pre-Islamic Arabia, denoting a bond of complete loyalty and mutual defense. In the Quran, the concept is powerfully invoked to express religious, rather than tribal, association and alliance as well as power and authority. The believers are repeatedly reminded that God is their ultimate Protector (Walī), that the Prophet and their fellow believers are their only true protectors (awliyāʾ) in the human realm (see, e.g., 2:107, 257; 3:68, 122; 4:45; 5:55; 6:14, 127; 7:196; 8:72; 9:71, 116), while idolaters seek protection vainly from their idols (e.g., 2:257, 13:16) and disbelievers seek protection with Satan and each other (e.g., 7:30; 8:73; 16:100). The believers are repeatedly warned not to seek the protection of those outside their religious community, including Jews and Christians (3:28; 4:89, 144; 5:51, 57), or even their own family members, if they are not believers (9:23).

In the present verse, those who take disbelievers as protectors instead of believers are the hypocrites mentioned in the two preceding verses. In seeking strength from those outside the community of believers—that is, with the Jewish clans (R, Z) or with the idolaters (Ṭs)—they violate bonds of loyalty to the religious community of the believers, showing their perfidy and opportunism and manifesting their lack of trust in the sufficiency of God’s protection. The verse mocks the idea of seeking strength or might (ʿizzah) through such alliances of protection, when might belongs to God altogether. See 63:8, where might (ʿizzah) belongs to God, the Messenger, and the believers; and 29:41: The parable of those who take protectors apart from God is that of the spider that makes a house. Truly the frailest of houses is the spider’s house, if they but knew

3. referensi dari kitab lain

(Q) Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī (d. 671/1272), al-Jāmiʿ li-akām al-Qurʾān
(R) Fakhr al-Dīn al-Rāzī (d. 606/1210), al-Tafsīr al-kabīr, also known as Mafātīḥ al-ghayb
(Ṭ) Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (d. 310/923), Jāmiʿ al-bayān ʿan taʾwīl āy al-Qurʾān
(Ṭs) Abū ʿAlī al-Faḍl ibn al-Ḥasan al-Ṭabrisī (or al-Ṭabarsī; d. 548/1153–54), Majmaʿ al-bayān fī tafsīr al-Qurʾān
(Ṭū) Muḥammad ibn Ḥasan al-Ṭūsī (d. 460/1067), al-Tibyān fī tafsīr al-Qurʾān
(Z) Abu’l-Qāsim Maḥmūd ibn ʿUmar al-Zamakhsharī (d. 538/1144), al-Kashshāf ʿan ghawāmiḍ ḥaqāʾiq al-tanzīl wa ʿuyūn al-aqāwīl fī wujūh al-taʾwīl
(I)K ʿImād al-Dīn Abu’l-Fidāʾ Ismāʿīl ibn ʿUmar ibn Kathīr (d. 774/1373), Tafsīr al-Qurʾān al-ʿaẓīm

 

3 pemikiran pada “Penjelasan surat Al Maidah ayat 51

  1. Salam wa rahmah..
    Kata ‘awliya’ yang berdekatan dengan almaidah 51 adalah yang ada pada ayat 55.
    Menariknya, terjemahan bahasa Indonesia di ayat 51 pemimpin dan 55 pendukung.
    Mungkin, yg lebih pas awliya ini memang berkaitan dengan `wilayah` yg kepadanya kita ber `tawaly’ dan `tabarra` kepada musuh mereka..

    Coba kalo yg diterjemah Inggris arti awliya di ayat 55 apakah sama dengan yg di 51 ya Mas..
    Syukron…

    • Waalaikumsalam wa rahmah. Terjemahan dari buku yg sama untuk ayat 55:

      Your protector is only God, and His Messenger, and those who believe, who perform the prayer and give alms while bowing down.

      Sama-sama protector. Mungkin perlu kita lihat juga penjelasan untuk ayat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s