Tentang non-kontradiksi (yg belum selesai…)

Ini copy-paste rangkaian diskusi di halaman fb-nya Taufik. Disalin di sini agar lebih mudah dibaca. Kali-kali ada yg perlu merujuk isu ini. Latar belakangnya adalah tentang ketidaksepakatan antara saya dan Taufik tentang tingkat kebenaran prinsip non-kontradiksi. Dan diskusinya masih belum selesai…

Tara Taufiqur Rahman Surah Aal-e-Imran, Verse 47: Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. Like · · Share · October 16 at 3:21pm via mobile ·

Tara Taufiqur Rahman Ayat itu memperlihatkan bahwa “kun fayakun” bisa terjadi dengan melawan hukum alam. Seketika atau dalam proses, itu bagaimana kehendak Allah saja. October 16 at 3:24pm · Like · 1 person

Tara Taufiqur Rahman ‎@Budi Sulistyo: ini bukti bahwa Tuhan tidak terikat hukum alam (ataupun rangkaian logika yang dibangun pemikiran manusia) October 16 at 3:28pm · Like

Tara Taufiqur Rahman ‎Budi Sulistyo: ditunggu comment-nya ya..October 17 at 8:47am · Like

Budi Sulistyo Sorry baru saja buka facebook. Aku coba berkomentar dengan hati-hati ya… Tuhan tidak terikat hukum alam, sepakat. Tentu aku juga sepakat bahwa Tuhan tidak terikat hukum apapun. Tentang contoh-contoh kejadian yang berlawanan dengan hukum alam, sangat banyak contohnya dalam Al-Quran: orang mati hidup kembali, tongkat nabi Musa menjadi ular, Nabi Musa membelah sungai Nil dll. Bahkan dalam kehidupan sekarangpun banyak kejadian-kejadian di luar hukum alam yang kita dengar dari orang-orang terpercaya atau bahkan kita alami sendiri.October 17 at 3:07pm · Like

Budi Sulistyo Lanjut… October 17 at 3:07pm · Like

Budi Sulistyo ‎1. Bahwa banyak hal di sekitar kita bekerja mengikuti hukum alam secara umum ( khususnya hukum materi), tentu tidak berarti bahwa Tuhan menciptakan hal-hal tersebut ‘berdasarkan’ hukum alam atau dengan mengikuti hukum alam. Namun, justru Tuhanlah yang menciptakan hal-hal tersebut lengkap dengan hukum-hukum esensial yang mendasari hal tersebut. Contoh: manusia fisik secara alami memerlukan oksigen karena memang secara esensial struktur fisik alami manusia memerlukan oksigen untuk menjalankan metabolismenya. Artinya secara esensial segala sesuatu memerlukan hal-hal yang menjadi karakteristik esensialnya. Misalkan aku bertanya: mampukah Tuhan menciptakan manusia seketika tanpa proses menjadi bayi, tumbuh dewasa dst dan langsung menjadi manusia Sempurna? Aku menghindari jawaban ya/tidak, fiq… Namun, secara esensial, kesempurnaan dari manusia Sempurna didefinisikan oleh proses yang dijalani sepanjang hidupnya, pilihan-pilihan yang dia buat dll. October 17 at 3:24pm · Like

Budi Sulistyo ‎2. Tentang hukum alam. Sampai kapanpun manusia tidak akan mencapai pengetahuan yang lengkap tentang hukum alam. Yang ada adalah, dalam batas atau bidang tertentu pengetahuan manusia mungkin semakin akurat, tentu dengan tetap menyisakan ruang kesalahan, misal tentang hukum fisika. Di bidang lain, manusia masih sangat jauh dari hukum yang akurat, misal: hukum ekonomi, psikologi, biologi. October 17 at 3:31pm · Like

Budi Sulistyo ‎3. Hukum Tuhan tidak terbatas hanya pada hukum alam (yg sejauh pengetahuan kita meliputi hukum materi, biologi, psikologi dst). Namun ada hukum-hukum imaterial/spiritual. Contoh sederhana: efek berdoa, efek bersodaqoh, efek silaturahmi. Setahuku, berdasarkan hadits dan pendapat orang yg berilmu, hal-hal ini memiliki dampak baik spiritual maupun material. Tentu hukum sebab-akibat yang mendasarinya bukan berbentuk hukum-hukum materi biasa. October 17 at 3:36pm · Like

Budi Sulistyo ‎4. Alam fisik dan materi bukan satu-satunya jenis alam yg ada. Ada lapisan-lapisan entitas imaterial yang menjadi sumber keberadaan alam materi. Jadi, sangat mungkin terdapat hukum-hukum yang lebih mendasar dari hukum materi yg pada kondisi tertentu dapat menggagalkan efektifitas hukum materi. October 17 at 3:39pm · Like

Budi Sulistyo ‎5. Tentang frasa “kun fayakun”. Sepanjang yg aku tahu, frasa ini tidak hanya merujuk pada kejadian-kejadian khusus, namun di bagian lain juga merujuk pada penciptaan secara umum. Coba kita lihat di surat yasin: 36(78). Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” 36.(79). Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.36.(80). yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”. 36.(81). Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. 36.(82). Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Tapi agar lebih akurat, sepertinya kita perlu bertanya pada Ulama yg faham tafsir…. October 17 at 4:04pm · Like

Budi Sulistyo Dalam penafsiranku (yg bukan ahli tafsir) rangkaian ayat di atas memberikan serangkaian argumen yang mengesankan bahwa kasus “kun fayakun” adalah kasus umum, sedangkan hal yang diperdebatkan merupakan kasus khusus. Rangkaian ayat lain dengan runutan argumen yang hampir sama : 16.(38-40). Ayat yang lain yg menyatakan penciptaan langit dan bumi: 6.(73). Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. October 17 at 4:21pm · Like

Budi Sulistyo ‎6. Dalam pandanganku, hal-hal yang melalui proses atau mengikuti hukum alam sama-sama menakjubkan dengan hal-hal yang terjadi seketika atau bertentangan dengan hukum alam October 17 at 4:24pm · Like

Budi Sulistyo ‎7. Apakah Tuhan memerlukan waktu dan proses untuk menciptakan sesuatu? Bukankah Tuhan tidak bersanding dengan apapun termasuk waktu?October 17 at 4:37pm · Like

Budi Sulistyo sorry komentarnya agak panjang fiq… October 17 at 4:39pm · Like

Budi Sulistyo Ada ayat lagi yg menarik…: 40 (67-68) October 17 at 4:54pm · Like

Riza Oktavianus akeh komen

October 17 at 4:57pm · Like Budi Sulistyo akeh wedi October 17 at 6:54pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Wakaka… sekali komen langsung satu bus keluar semua😀.

Ini sih melanjutkan bantahanku yang dulu, bahwa Tuhan bisa saja melawan hukum kontradiksi. Tuhan bisa melakukan hal-hal yang diluar hukum alam, artinya bisa juga hisa October 17 at 10:05pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Artinya juga bisa rangkaian logika yang dipahami manusia saat ini keliru.October 17 at 10:06pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Aku tidak mengatakan bahwa yang melompati proses itu lebih dari yang sesuai proses. Hanya saja menunjukkan bahwa Tuhan bisa berlawanan dengan hukum alam yang diketahui manusia. Ketika yang materi bisa tidak sesuai, maka hukum2 logika juga bisa berubah October 17 at 10:10pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto logika ki opo to om..? October 17 at 10:26pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Mbuh, takon Budi kuwi, luwih canggih dia October 17 at 10:57pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto btw jika kite percaya bahawa hukum alam tidak ada dg sendirinya, tapi ada yg menciptakan. maka dengan sendirinya hukum alam itu fana dan bergantung pada yang menciptakan…

sedangkan logika itu lebih pada kemampuan otak neokorteks manusia untuk mengintepretasikan adanya prinsip2 kebenaran yang bersifat ‘pasti’ (tidak bisa dibantah). Misalnya A adalah A, bukan B.. Tapi apakah prinsip2 ini mampu membatasi “Yang Maha Kuasa”? Tentu tidak, wong namanya saja Maha Kuasa hoho.. Kecuali namanya diganti “Yang Maha Kuasa kecuali berhadapan dengan logika”.

Tinggal pertanyaanya: apakah kita percaya bahwa Maha Kuasa itu ada? Ataukah keberadaan Yang Maha Kuasa itu sendiri bertentangan dengan logika? October 17 at 11:46pm · Like · 1 person

Tara Taufiqur Rahman Like this Kim!

Itu dari dulu yang aku ungkap ke Budi, tetapinkalo bantah2an selalu mentok:p October 18 at 5:36am · Like

Budi Sulistyo Weh…, non-kontradiksi lagi, he3. Bisa panjang dan lebar ki, gak popo fiq? October 18 at 8:36am · Like

Budi Sulistyo Tentang logika, aku akan fokus pada hukum non-kontradiksi karena hukum ini merupakan prinsip paling dasar dari logika. Hampir seperti kata Hakim, prinsip kontradiksi menyatakan (A) tidak mungkin sama dengan bukan (A). Catatan: A yg pertama sama persis dengan A yg kedua.October 18 at 8:37am · Like

Budi Sulistyo ‎1. Non-kontradiksi dan hukum alam. Secara garis besar manusia menyimpulkan hukum alam dengan cara melihat fakta empiris, meembuat teori dan menguji kembali dengan fakta empiris sebanyak mungkin. Misal kita punya teori A dan ternyata ada 100 fakta empiris yang membenarkan A maka untuk sementara A kita anggap benar. namun ketika ada satu saja fakta empiris yg ber-kontradiksi dengan A, maka kita simpulkan bahwa A salah atau setidaknya A hanya berlaku untuk batas-batas tertentu yg diwakili oleh 100 fakta yg pertama. Atau kita menduga bahwa ada sebab lain yang belum diketahui yang menyebabkan A tidak berlaku. Jadi, kita menguji teori A dengan cara memeriksa apakah ada kontradiksi di dalamnya. Kita tidak memeriksa apakah hukum non-kontradiksi (yg menyatakan bahwa A benar jika tidak ada kontradiksi di dalamnya) benar. October 18 at 8:49am · Like

Riza Oktavianus ‎Budi Sulistyo: tuhan hanya untuk dipercaya, bukan untuk dilogika. orawani mesti October 18 at 9:02am · Like

Budi Sulistyo ‎@ riza. Logika hanya untuk main catur. Tapi catur tidak hanya butuh logika, tapi juga keberanian. Waniora?? October 18 at 9:20am · Like

Budi Sulistyo ‎2. Non-kontradiksi dan proposisi logis. Untuk menguji kebenaran sebuah proposisi logis, kita tidak perlu mengkonfirmasi nya dengan fakta empiris. Mengapa demikian? Karena , berbeda dengan hukum alam yang berbicara tentang obyek yang ada secara eksternal, proposisi logis berbicara tentang obyek yang ada secara mental. Sebagai contoh, untuk menentukan kebenaran proposisi [A= Semua bilangan prima selain 2 adalah ganjil], kita dapat menguji proposisi [negasi(A)= ada bilangan prima selain 2 dan genap]. Runutannya kira2 begini, berdasarkan [negasi (A)] anggap bahwa [x adalah bilangan prima selain 2 dan genap], maka, karena genap, x dapat dibagi 2, dan karena itu bukan bilangan prima. Ini berkontradiksi dengan anggapan sebelumnya bahwa [x adalah bilangan prima selain 2 dan genap] sehingga negasi(A) salah dan A benar. Terlihat bahwa di sini kita menguji kebenaran proposisi logis, bukan hokum non-kontradiksi. October 18 at 9:21am · Like

Riza Oktavianus budi orawani itu tidak ber-kontradiksi dengan kemenangan riza main catur yang penuh logika. tuhan tidak campur tangan atas kemenanganku… October 18 at 9:31am · Like

Budi Sulistyo ‎3. Persis seperti yang dikatakan Hakim, karena kita telah menegaskan bahwa [Tuhan Maha Kuasa] adalah benar, maka ketika kita menghipotesakan bahwa [ada sesuatu yang di luar kekuasaan Tuhan] maka hal itu pasti salah karena akan berkontradiksi dengan pernyataan bahwa Tuhan Maha Kuasa. Apakah ini berarti bahwa Tuhan tunduk pada hukum non-kontradiksi? October 18 at 9:42am · Like

Budi Sulistyo ‎4. Mengutip pernyataan Riza Oktavianus di atas, karena kita percaya pada Tuhan, maka ketika ada teori yang menyatakan bahwa [alam semesta dapat terwujud secara alami tanpa memerlukan pencipta], apakah teori itu pasti-salah atau mungkin-benar? October 18 at 9:45am · Like

Rachmad Hakim Sutarto Hukum non kontradiksi itu sendiri masih bergantung dengan waktu.. Lebih lengkapnya begini: “tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu”..

Yang Maha Kuasa itu tidak bergantung pada waktu, bahkan keberadaan waktu itulah yang bergantung pada Yang Maha Kuasa..

So apakah kita masih bisa mempertanyakan ketundukan Yang Maha Kuasa terhadap suatu hukum logika jika hukum logika itu sendiri kebenarannya bergantung pada Yang Maha Kuasa? Jawabanku: Tidak karena itu akan menyalahi definisi Yang Maha Kuasa itu sendiri October 18 at 2:25pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Aku padamu Kim!

Kelihatannya kamu cukup cerdas untuk melawan Budi.

Meski aku kurang cukup cerdas untuk menguraikan apa yang kupercayai, tapi aku cukup yakin ini hanya masalah pembuktian. Proposisiku tetap: bahwa Tuhan di atas segalanya, termasuk di atas logika kontradiksi-non kontradiksi. Masalah bentuknya seperti apa, ya belum tahu.. kali aja di hari akhir nanti kita melihat alam paralel, atau entah keajaiban apa yang belum kita temui dan berbeda dengan hukum2 di alam ini. October 18 at 5:09pm · Like

Budi Sulistyo weh kok jadi lawan2an, jangan mau Kim, he3 October 18 at 5:13pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Lho nggak apa bud, mumpung aku lagi damai dengan hakim nih. Biasanya dia aku bantai :))

BTW, aku yo rodo kaget, kok hakim percaya Tuhan😀

Setahuku dia membikin aliran kepercayaan sendiri😀.

Atau aku yang salah lihat, dia berubah setelah mondok di Ngruki:)) October 18 at 5:57pm · Like

Budi Sulistyo Kalau mau dilanjutkan diskusinya sekarang atau kapan2, mendingan diskusinya di-copas ke blog saja, sepertinya lebih accessible di sana October 18 at 6:45pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Ternyata udah panjag juga ya, 38 comment :)) October 19 at 5:04pm · Like

Budi Sulistyo padahal ada lanjutan dariku nih. Di sini dulu atau gimana? October 19 at 7:33pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Lanjut sini lah..

aku sambil terus cari bukti penguat October 19 at 9:02pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Dari mana formulasi hukum non kontradiksi? Pemikiran manusia kan? (Meskipun itu dengan berbagai macam pendukung/ pembuktian).

Ketika Tuhan telah memperlihatkan bahwa yang materi saja bisa Dia lewati hukum2 alam yang ada, mengapa yang pemikiran tidak bisa?

Sorry, apakah perkembangan logika langsung sekali jadi atau berkembang Bud? Artinya, ada pemahaman logika yang di awal dianggap benar, kemudian dikoreksi October 19 at 10:25pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Untuk membuat hukum nonkontradiksi tidak berlaku pada segala hal, cara yang sederhana bagi Tuhan adalah memberikan ilmu pada manusia dan bukti pendukung (peristiwa alam).

Jika Tuhan menghendaki, sangat mudah hal ini. Salah satu contoh, bila tiba2 ilmuwan menemukan bahwa materi=anti materi, dan secara fisik itu bisa diwujudkan dan secara matematis bisa ditunjukkan,then nonkontradiksi secara fisik October 19 at 10:35pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Then nonkontradiksi tidak lagi menjadi dasar segalanya. October 19 at 10:36pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto dngren jawabanmu rodo cerdas om… hihi wkwkwk.. btw benar-salah iku apakah ada dengan sendirinya, atau ada yg menciptakan, atau malah diada2kan pikiran kita sendiri? October 19 at 10:57pm · Like

Tara Taufiqur Rahman loh, kamu biasa aku bantai, apakah itu tidak menunjukkan kecerdasanku? wakakaka :)) October 20 at 12:00am · Like

Budi Sulistyo Yo wis lanjut…, demi meningkatkan kerukunan dan kekompakanmu dengan Hakim. Untuk Hakim, benar bahwa prinsip non-kontradiksi mensyaratkan adanya kesatuan waktu. Lebih jelasnya prinsip non-kontradiksi menyatakan bahwa suatu proposisi afirmatif dan negasinya pasti salah satu benar dan yang lain salah. October 20 at 5:55am · Like

Budi Sulistyo Aku coba bahas argumen Hakim dulu yo fiq… October 20 at 5:56am · Like

Budi Sulistyo Sebagai tambahan, tidak hanya kesatuan waktu, bahkan juga berbagai kondisi yang melingkungi subyek dan predikat dalam dua proposisi yang saling menegasikan tersebut juga harus identik, yg diantaranya mencakup: kesatuan subyek, kesatuan potensialitas/aktualitas dll. Contoh: 1. [Taufik berambut keriting] dgn [Budi tidak berambut keriting] tidak saling bernegasi karena subyeknya berbeda. 2. [Dulu, Taufik dan Hakim tidak kompak] dgn [Sekarang, Taufik dan Hakim kompak ] tidak saling bernegasi karena waktunya berbeda. 3. [Secara actual, taufik tidak menikahi rosa] dgn [taufik menikahi rosa, secara potensial] tidak saling bernegasi karena perbedaan aktualitas dan potensialitas. October 20 at 5:56am · Like

Budi Sulistyo Yang harus diperhatikan adalah, bahwa berbagai kondisi tersebut harus identik hanya jika proposisi tersebut dilingkungi oleh kondisi tersebut. Dari contoh sebelumnya: [Tidak ada bilangan prima selain 2 yang genap] dgn [ada bilangan prima selain 2 yang genap] saling bernegasi tanpa memerlukan kesatuan waktu dan kesatuan aktualitas/potensialitas. Untuk kesatuan subyek, hal ini pasti harus dipenuhi, karena dua proposisi tidak akan saling menegasikan jika subyeknya berbeda. Jadi , jika kondisi2 tsb (waktu, potensialitas/aktualitas dll) tidak relevan maka prinsip non-kontradiksi tidak memerlukan kesatuan kondisi2 ini. Jika setuju dengan hal ini, silahkan melanjutkan ke argument berikutnya… October 20 at 5:58am · Like

Budi Sulistyo Saya sangat setuju dengan Hakim bahwa jika Tuhan dibatasi atau tunduk pada sesuatu maka hal ini akan bertentangan dengan proposisi yang kita yakini benar bahwa: [Tuhan Maha Kuasa]. Karena jika Tuhan tunduk pada sesuatu maka implikasinya [tuhan tidak maha kuasa]. Kesimpulan ini pasti salah karena kita yakin pada kebenaran proposisi [Tuhan Maha Kuasa], Namun, coba mas Hakim perhatikan bahwa argumen ini ternyata menggunakan prinsip non-kontradiksi. Note: [Tuhan Maha Kuasa] bernegasi dgn [tuhan tidak maha kuasa] sehingga hanya salah satu dari kedua proposisi ini yg benar yang lain pasti salah. October 20 at 6:01am · Like

Budi Sulistyo Poin yang berikutnya bukan dimaksudkan untuk menambah ruwet atau bermain dengan kata-kata. Semoga saja bisa memperjelas masalahnya. Begini …, Fakta membuktikan bahwa kemampuan intelektual dan teknologi yang dikuasai manusia sudah sedemikian hebat sehingga manusia dapat membangun sistem yang dapat bekerja secara otonom tanpa perlu campur tangan manusia lagi. Contohnya banyak: computer catur, robot cerdas dll. Problemnya adalah begini: Apakah tuhan mampu menciptakan sistem yang sedemikian hebat sehingga dapat bekerja secara otonom tanpa campur tangannya lagi? Bukankah hal ini mudah bagi tuhan? October 20 at 6:02am · Like

Tara Taufiqur Rahman Aku tidak mengatakan bahwa non-kontradiksi gagal untuk seluruhnya ya.. tapi bisa jadi ada hal tertentu dimana prinsip non kontradiksi tidak berjalan. October 20 at 6:15am · Like

Budi Sulistyo Tentang sejarah logika, setahuku Aristotle (300 SM) merupakan orang pertama yang memformalkan rumusan logika. Ini bukan berarti orang-orang sebelumnya tidak menggunakan prinsip2 ini dalam berpikir, contohnya: socrates (400SM) secara eksplisit menggunakan prinsip ini dalam diskusi2nya. Apakah rumusan logika mengalami perubahan hingga saat ini? Setahuku tidak…, tapi mungkin bisa diperiksa lagi detilnya ya… October 20 at 6:49am · Like

Budi Sulistyo Yang terjadi adalah penyempurnaan dari prinsip-prinsip yg sudah dirumuskan oleh Aristotles. Namun, dari berbagai hal dalam logika, kita tetap dapat merunut akarnya pada prinisip non-kontradiksi. Prinsip yg ini setahuku masih tetap sama October 20 at 6:54am · Like

Budi Sulistyo Apakah ada argumen yg menentang kebenaran logika? Aku tahu beberapa yang cukup populer, yg lain mungkin masih ada. Diantaranya: liar’s paradoxes dari Bertrand Russell. Bisa diperiksa juga argumen dari Kurt Godel: The Incompleteness Theorem. Ini penentangan dalam bentuk yg langsung ke inti logika. Bentuk yg kedua adalah dengan menyatakan bahwa segala pemikiran dan persepsi manusia bergantung pada kondisi fisiologis/psikologis-nya, sehingga tidak ada kebenaran apapun (termasuk prinsip logika), karena semuanya hanya merupakan produk proses biologis yang sewaktu-waktu bisa berubah. Bentuk yg ketiga: penentangan secara filosofis, yaitu melalui teori dialektika yg menjadi dasar aliran Marxisme, aliran marxisme ini menyatakan bahwa: bukan hanya kontradiksi itu mungkin, bahkan kontradiksi merupakan sumber dari perkembangan alam. October 20 at 7:09am · Like

Budi Sulistyo untuk Tara Taufiqur Rahman. Aku ngerti maksudmu fiq.., yg di atas sebenarnya untuk menjawab argumen Hakim. Nanti aku lanjut. BTW, coba periksa sanggahan terhadap logika yg aku sebut di atas, khususnya: liar’s paradox dan godel’s incompletness theorem. Yg godel, sebaiknya dibaca bagian overview atau analoginya saja, karena aslinya sangat matematis. Terus…, tentang pernyataanmu, kucatat ada 2 hal: 1) Bagaimana langkah2 memformulasikan hukum non-kontradiksi, 2) Mungkinkah ada sesuatu yang menyimpang dari hkm itu. October 20 at 8:40am · Like

Budi Sulistyo Untuk Tara Taufiqur Rahman. Konfirmasi dulu,apakah kamu sepakat bahwa argumen Hakim tentang [Tuhan Maha Kuasa] di atas menggunakan hukum non-kontradiksi? Trus, apakah pernyataanku tentang [Penciptaan sistem yg otonom dari tuhan] berkontradiksi dengan [Tuhan yg Maha Kuasa]? October 20 at 8:44am · Like

Ary Retmono ‎@Mas Budi: kenapa Tuhan dimasukkan dalam logika sains? Apakah sains telah membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sehingga keberadaannya bisa dipakai premise untuk berlogika?

Lalu, bukankah Tuhan itu adanya hanya di pikiran hewan mamalia yang bernama manusia saja?

@Tara: musti dibedakan cara berpikirnya, antara air dingin mendidih jika dipanasi, dengan air mendidih karena ijin Allah :-p. Ojo dicampur-bawur je… October 20 at 8:52am · Like

Rachmad Hakim Sutarto wowww. jawabannya jelas dan detail… Begini mas @budi sulistyo:

Hukum non kontradiksi adalah bagian dari logika. Sudah terbukti bahwa ketika kita menjadikan “Yang Maha Kuasa” sebagai objek dari logika, maka ada kemungkinan muncul omnipotent paradox.

-Jika dijawab bahwa Yang Maha Kuasa itu tunduk pada hukum non kontradiksi, maka itu bertentangan dengan definsi Yang Maha Kuasa sendiri. Artinya jawaban tersebut salah.

-Jika dijawab bahwa Yang Maha Kuasa itu tidak tunduk pada hukum non kontradiksi, maka itu bertentangan dengan logika kita sendiri. Karena terbukti bahwa Yang Maha Kuasa tunduk pada hukum non kontradiksi. Artinya jawaban tersebut juga salah.

Lha terus gimana? October 20 at 6:42pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto Menurutku kita tidak bisa begitu saja menghakimi “Yang Maha Kuasa” dengan logika. Mengapa? Karena tidak akan cukup!. Logika adalah bagian dari (subset) Yang Maha Kuasa. Dengan kata lain, ada bagian dari Yang Maha Kuasa yang bisa dilogika, ada yang tidak. Jika dipaksakan maka akan muncul paradox2 tersebut.

Mungkin jika ngeyel, kita tetap akan bertanya2, “moso takok ae ra oleh..?” Bukannya tidak boleh, tetapi tidak bisa lho. Jadi pertanyaan itu sendiri sudah salah.

Seperti di Matematika, jika kita bertanya berapa 1 dibagi 2? Jawabnya tentu 0,5. Tapi berapa 1 dibagi 0? Coba tanyakan pada kalkulator atau aplikasi Excel maka akan dijawab dengan Error. Jadi jika ada yang pertanyaan: “Apakah Tuhan tunduk pada hukum non kontradiksi?” jawaban yang paling tepat mungkin adalah: ERROR.. October 20 at 6:53pm · Like

Budi Sulistyo Untuk Hakim, argumennya top mas…, he3. Omnipotence paradox…, argumen ini biasanya digunakan untuk menyangkal keberadaan Tuhan. Ok, saya coba dahulukan untuk membahas argument Hakim, karena jelas lebih cerdas dari argument om Taufik, wkwkwk. Sebelumnya, mohon dimengerti bahwa penjelasan berikutnya agak sensitive dan sangat mungkin menghasilkan kesalahpahaman. Semoga Allah menjadikan penjelasan ini sebagai penerang, dan segala ketidakakuratan, kesalahan dan kesalahpahaman adalah bentuk kebodohan saya. October 21 at 12:50pm · Like

Budi Sulistyo Jelas saya sepakat bahwa: Tuhan tidak dibatasi oleh hukum apapun dan segala sesuatu selain Tuhan adalah mustahil untuk membatasi Keberadaan-Nya Yang Tidak Terbatas. Ketika kita menggunakan prinsip non-kontradiksi untuk menilai kebenaran proposisi tentang Tuhan, ini sama sekali tidak membatasi Tuhan dengan prinsip tsb. Penjelasannya begini: October 21 at 12:50pm · Like

Budi Sulistyo ‎1. Prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah berfikir yang paling mendasar, subyeknya adalah akal rasional dan obyeknya adalah proposisi-proposisi bahasa. Proposisi bahasa ini menyatakan sesuatu tentang realitas, bisa di alam mental maupun di alam eksternal. Penggunaan prinsip non-kontradiksi bertujuan untuk menetapkan kesalahan/kebenaran proposisi bahasa tersebut. Di manakah keberadaan proposisi bahasa tersebut? Tentu di alam mental kita. Ketika kita menyatakan bahwa [Tuhan Maha Kuasa] berkontradiksi dengan [Tuhan tidak maha kuasa], hal ini hanya terjadi di alam mental kita. Realitasnya sendiri adalah: yang sungguh-sungguh Ada adalah [Tuhan Maha Kuasa], sedangkan [Tuhan tidak maha Kuasa] adalah identik dgn ketiadaan. Jadi prinsip non-kontradiksi bekerja dalam akal rasional kita dan di saat yg sama menyatakan kebenaran tentang realitas (eksternal maupun mental). October 21 at 12:51pm · Like

Budi Sulistyo ‎2. Alih-alih membatasi Tuhan, prinsip non-kontradiksi dalam akal rasional kita justru merupakan konsekuensi dari Keberadaan Tuhan yang Tidak Terbatas. Singkatnya begini, pengandaian apapun yg kita buat dalam alam mental tentang sesuatu yg membatasi Tuhan maka secara langsung akan berkontradiksi dengan konsep Tuhan. Kontradiksi ini terjadi tanpa syarat/kondisi apapun, mengingat tidak ada syarat/kondisi yang mungkin melingkungi realitas Tuhan. Seperti yg sudah kita bahas di atas, untuk hal-hal lain kita perlu menetapkan syarat-syarat yg jelas ketika menerapkan prinsip non-kontradiksi, misalnya kesamaan waktu dll. Namun tidak bagi Tuhan. Keberadaan Tuhan adalah Mutlak, apapun yg menegasikan Ke-Maha Besarannya adalah mustahil tanpa syarat dan kondisi apapun. October 21 at 12:53pm · Like

Budi Sulistyo ‎3. Argumen-argumen dalam omnipotence paradox (OP) pada dasarnya mempertanyakan hal berikut: mungkinkah Tuhan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Kesempurnaannya? Dalam bentuk lain, jika kita meyakini bahwa [Tuhan adalah yg Maha Sempurna], argument OP sama artinya dengan mengatakan: mungkinkah Tuhan berkehendak menjadi tidak sempurna, mungkinkah Tuhan berkehendak untuk tidak Adil, mungkinkah Tuhan berkehendak menghapus sebagian ilmunya, dan akhirnya…, mungkinkah Tuhan berkehendak menjadi bukan Tuhan? Semoga Allah melindungi kita dari angan-angan seperti ini… Karena sesungguhnya Tuhan Maha Sempurna tanpa kecuali tanpa syarat dan mustahil menjadi tidak sempurna, Tuhan Maha Kuasa tanpa kecuali tanpa syarat, Tuhan Ada tanpa batasan apapun sehingga mustahil ada apapun yang mandiri dari Genggaman-Nya. October 21 at 12:54pm · Like

Budi Sulistyo Mengenal Tuhan dengan Logika? Tentu tidak cukup. Ini mungkin bisa dianalogikan dengan belajar musik tanpa main music, atau mengetahui teknik badminton tanpa main badminton. Membuktikan Keberadaan Tuhan dengan logika? Saya kutip pernyataan Mulla Sadra yg merupakan seorang ulama yang sangat menguasai filsafat dan logika, kira-kira intinya begini: Keberadaan Tuhan adalah yang paling jelas dibanding apapun sehingga tidak memerlukan pembuktian apapun. Analoginya mungkin begini: kita melihat benda-benda dengan menggunakan mata kita. Keberadaan yg manakah yg lebih jelas buktinya: benda-benda yg kita lihat ataukah keberadaan mata kita? October 21 at 12:58pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto Josss… Sepakat mas Budi Sulistyo

“Keberadaan Tuhan adalah Mutlak, apapun yg menegasikan Ke-Maha Besarannya adalah mustahil tanpa syarat dan kondisi apapun.”

Menurutku, kita tidak bisa menegasikan Yang Maha Kuasa sama sekali, meskipun itu hanya di alam mental saja. Negasi terhadap Yang Maha Kuasa itu sendiri adalah operasi logika yang illegal.. Mengapa? Karena penegasian itu akan bertentangan dengan definisi Yang Maha Kuasa (absolute).. seprti mas Budi bilang “Keberadaan Tuhan adalah Mutlak, apapun yg menegasikan Ke-Maha Besarannya adalah mustahil tanpa syarat dan kondisi apapun.”

Kesimpulannya, Hukum non kontradiksi itu sendiri juga tidak bisa diberlakukan terhadap sesuatu Yang Maha Kuasa.. Karena non kontradiksi menggunakan operasi negasi yang mustahil dilakukan.. October 21 at 2:13pm · Like

Budi Sulistyo ‎@ Tara Taufiqur Rahman: fiq, lanjut gak ki…, udah puanjannggg soalnya.. October 21 at 8:42pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Selesaikan sekalian aja Bud..

Jadi kesimpulannya? MUNGKINKAH nonkontradiksi tidak berlaku jika Tuhan menghendaki?

Irmasari Kartika Silminayanti Diskusi aneh… Perasaan, para ulama yg sgt mengenal الله , ga kayak gini diskusinya…sebelum membahas sang pencipta, mending belajar dulu tafsir ibnu katsir, yg menafsirkan qur,an dg qur,an n hadits serta atsar dr para sahabat.ga bisa kalo pake filsafat, secara filsafatkan buatannya org Musyrik. October 21 at 10:56pm · Like

Tara Taufiqur Rahman Lanjut.. *sambil nunggu di bandara nih*
Sekali lagi, yang aku maksudkan bukan hukum non-kontradiksi hancur total, tapi bisa jadi itu tidak berlaku “dalam situasi tertentu” JIKA TUHAN MENGHENDAKI.
Sebenernya sesederhana itu saja pemikiranku.
13 hours ago · Like

Tara Taufiqur Rahman Mungkin yang Budi khawatirkan adalah non-kontradiksi tertolak total sehingga antara premis “Tuhan ada” dengan “Tuhan tidak ada” sama benarnya ya? 13 hours ago · Like

Budi Sulistyo
Bukan fik, untuk yg itu sudah jelas. Untuk kasus lain, menurutku juga mutlak berlaku. Prinsipnya gini: kalau aku berusaha membuktikan bahwa hukum non-kontradiksi itu mutlakbenar maka pembuktianku jelas tidak valid, karena akan selalu mengasumsikan kebenaran non-kontradiksi. Ini karena hukum ini sangat mendasar, sehingga semua argumentasi untuk selalu menggunakan hukum ini. Jadi, aku cari cara lain sekedar untuk menjelaskan, bukan membuktikan. Sudah ada sih…, ntar coba aku tulis di sini 12 hours ago · Like

Budi Sulistyo Lanjut ya fiq… Aku masih akan menanggapi argument Hakim sedikit lagi, fiq, baru nanti berlanjut ke permasalahan yg kamu ungkapkan terakhir.
26 minutes ago · Like

Budi Sulistyo Di atas Hakim menyatakan bahwa, kita tidak dapat melakukan negasi sama sekali terhadap Yang Maha Kuasa dalam logika kita, karena itu adalah tidak valid secara logika. Tanggapan saya, ini tidak tepat karena beberapa hal berikut: 26 minutes ago · Like

Budi Sulistyo
‎1. Yang kita lakukan dalam alam mental kita adalah membuat proposisi [Tuhan Maha Kuasa] dan [Tuhan tidak Maha Kuasa]. Jelas bahwa dua proposisi ini saling bernegasi, sehingga berdasarkan prinsip non-kontradiksi, hanya salah satu proposisi yg bernilai benar. Tidak ada masalah di sini.
2. Namun, Hakim menyatakan bahwa negasi seperti ini tidak valid. Dari argument di atas, Hakim menyatakan bahwa Kekuasaan Tuhan adalah Absolut sehingga mustahil dinegasikan. Kita tidak boleh mencampuradukkan antara ‘ konsep’ dengan ‘realitas’ yang ditunjuk oleh konsep tersebut. Yang ada dalam alam mental kita adalah konsep tentang ‘Tuhan’ dan konsep tentang ‘Maha Kuasa’. Karena itulah kita dapat membuat proposisi negative [Tuhan tidak Maha Kuasa].
3. Akal kita memiliki ‘kekuatan immaterial’ sedemikian sehingga dapat mengkonsepsikan bahkan hal-hal yg mustahil. Contohnya ketika kita menyatakan proposisi: [ ketiadaan mutlak tidak mungkin menjadi sebab bagi apapun]. Realitas ’ ketiadaan mutlak’ pasti tidak exist dalam alam mental kita, karena kalau exist, tentu ia bukan merupakan ‘ketiadaan mutlak’. Namun demikian konsep ‘ketiadaan mutlak’ exist dalam mental kita sehingga kita dapat menyatakan proposisi tentang ‘ketiadaan mutlak’.25 minutes ago · Like

Budi Sulistyo Untuk Tara Taufiqur Rahman, aku nyatakan ulang dulu problem darimu yo: ‘Mungkinkah hukum non-kontradiksi tidak berlaku pada pada situasi tertentu?24 minutes ago · Like

Budi Sulistyo
Beberapa hal yg harus kamu perhatikan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah:
1. Kebenaran hukum non-kontradiksi bersifat swabukti. Artinya: hukum ini tidak dapat dibuktikan kebenarannya dengan argumen apapun karena seluruh argument tersebut akan mengasumsikan kebenaran prinsip ini. Sebaliknya juga berlaku, bahwa kemustahilan kontradiksi juga bersifat swabukti.
2. Kebenaran prinsip non-kontradiksi sama sekali tidak membatasi KeMahaKuasaan Tuhan, sebagaimana secara implisit terkandung dalam problem yg kamu ajukan.
Jadi, dalam penjelasan berikut ini aku tidak akan membuktikan kebenaran prinsip ini. Yg aku lakukan adalah menjelaskan prinsip ini dari perspektif yg agak berbeda dari sebelumnya.
23 minutes ago · Like
Budi Sulistyo
Dalam jenis proposisi mental, kebenaran dari suatu proposisi maksudnya adalah kesesuaiannya dengan faktanya sendiri (the fact itself). Fakta dari proposisi ini exist dalam alam mental kita. Contoh proposisinya: [Tidak ada bilangan prima selain dua yg genap], [Jumlah sudut suatu segitiga adalah 180 derajat]. Kebenaran dua proposisi tersebut bergantung pada ‘fakta’ tentang bilangan prima dan segitiga yg eksis di alam mental kita. Jadi, dalam konteks ini, prinsip non-kontradiksi secara sangat sederhana hanya menyatakan bahwa: dua proposisi [Bilangan Prima adalah ‘demikian’] dan [Bilangan Prima adalah ‘tidak demikan’] tidak mungkin sama-sama benar. Atau agar lebih umum, proposisi [the fact itself is ‘such & such] dan [the fact itself is not ‘such & such’] tidak mungkin sama-sama benar. Sesederhana itu.22 minutes ago · Like

Budi Sulistyo
Dalam jenis proposisi eksternal, kebenaran suatu proposisi ditentukan oleh kesesuaiannya dengan fakta eksternal. Proposisi jenis ini secara umum dapat kita bagi menjadi dua yaitu komposit dan simple. Dan aku tambah lagi dengan proposisi tentang sebab akibat:
(1) proposisi sederhana (simple wetherness), yaitu proposisi yg menyatakan keberadaan sesuatu, contohnya: [Taufik ada]. Kebenaran proposisi ini dikonfirmasikan dengan memeriksa keberadaan Taufik. Non-kontradiksi dalam konteks ini artinya adalah: proposisi [Taufik ada] dan [Taufik tidak ada] tidak mungkin sama-sama benar. Secara umum; [X ada] dan [X tidak ada] tidak mungkin sama-sama benar. Sesederhana itu.
(2) Jenis (2) adalah proposisi komposit (composite wetherness), contohnya: [Taufik adalah manusia]. Kebenaran proposisi ini dikonfirmasi dengan memeriksa realitas Taufik. Jika, proposisi [Taufik adalah manusia] bernilai benar, ini sama artinya bahwa [Kesatua- realitas-antara-Taufik dan-Manusia benar-benar ada]. Jika proposisi ini salah maka artinya [Kesatuan-realitas-antara Taufik-dan-Manusia tidak ada]. Non-kontradiksi dalam konteks ini artinya adalah: proposisi [Kesatua- realitas-antara-Taufik-dan-Manusia benar-benar ada] dan [Kesatuan-realitas-antara- Taufik-dan-Manusia tidak ada] tidak mungkin sama-sama benar. Coba kamu perhatikan bahwa untuk menunjukkan kesederhanaan prinsip non-kontradiksi aku mereduksi proposisi komposit menjadi proposisi simple.
(3) Jenis ke (3) adalah proposisi mengenai sebab akibat. Contoh: [gaya gravitasi menyebabkan benda jatuh ke bumi]. Secara singkat, hukum sebab-akibat menyatakan bahwa: jika A merupakan sebab bagi B maka artinya adalah keberadaan A akan mengimplikasikan keberadaan B. Yg dimaksud dengan sebab di sini adalah sebab-nyata (real causes atau complete causes). Jadi proposisi [A menyebabkan B] bernilai benar jika hubungan sebab akibat antara A dan B benar-benar teraktualisasi, atau benar-benar nyata, atau benar-benar ada. Jadi, [A menyebabkan B] bernilai benar sama artinya dengan mengatakan [Hubungan sebab akibat antara A dan B benar-benar ada], dan [A menyebabkan B] bernilai salah sama artinya dengan mengatakan [Hubungan sebab akibat antara A dan B tidak ada]. Non kontradiksi dalam konteksi ini artinya adalah: dua proposisi [Hubungan sebab akibat antara A dan B benar-benar ada] dan [Hubungan sebab akibat antara A dan B tidak ada] tidak mungkin sama-sama benar. Di sini aku juga mereduksi proposisi sebab-akibat menjadi proposisi simple.
22 minutes ago · Like

Budi Sulistyo Mengapa kebenaran hukum non-kontradiksi tidak membatasi kekuasaan Tuhan. In my humble opinion, ini karena hukum non-kontradiksi secara sangat sederhana menyatakan bahwa jika Tuhan menghendaki sesuatu (benda, kondisi, hukum sebab-akibat) itu ada, maka sesuatu itu pasti ada, tidak mungkin ada dan sekaligus tiada. Apakah ini sejalan dengan Kun Fayakun?
18 minutes ago · Like

Budi Sulistyo Lanjut dikit ya fiq… Jadi, dari penjelasan terakhir aku cuma mereduksi berbagai jenis proposisi menjadi proposisi simple. Dari sini aku cuma menunjukkan bahwa prinsip non-kontradiksi secara sederhana menyatakan bahwa [Sesuatu tidak mungkin ada sekaligus tiada]. Gitu fiq… Daripada mbahas ini mending catur yuk! wkwkwk 21 hours ago · Like

Tara Taufiqur Rahman Pertanyaanmu itu masih beranggapan bahwa non-kontradiksi berlaku dalam semua hal.
Sementara premisku “bisa jadi non-kontradiksi dalam hal tertentu ternyata tidak berlaku, ketika Tuhan menghendaki”. Bagaimana persisnya itu, saat ini aku belum ada pengetahuan.
Dasar “kepercayaanku” itu adalah, bahwa Tuhan sedemikian tinggi. Berbagai premis itu disusun manusia berdasar akal dan pembelajaran dari ciptaan-Nya. Ketika Tuhan memberikan ilmu ke manusia, dan ciptaan untuk dipelajari manusia, maka itu mungkin saja.
Siapa tahu nanti akan ada teknologi untuk memasuki black hole, dan di dalamnya ternyata terdapat dimensi lain yang non-kontradiksi ternyata tidak berjalan untuj beberapa hal. Who knows??
catur, hayuklah.. aku hadapin dengan tangan kiri aja :p

Budi Sulistyo yuk, neng Bandung apa lg renang di Barito? Caturku tak simpan di kantor, mampir kantor wae. Wani? 8 hours ago · Like

Budi Sulistyo Karena gak jadi catur, aku lanjut lagi… Yah, setidaknya tetap ada kesamaan dari diskusi ini bahwa kita sama-sama menganggap Tuhan Maha Tinggi Tanpa Batas. Perbedaannya: kamu menganggap bahwa kebenaran hukum non-kontradiksi ‘menodai’ Kemutlakan Tuhan, sedangkan aku menganggap bahwa, prinsip non-kontradiksi justru merupakan penegasan ataupun konsekuensi dari Kemutlakan Tuhan.

Tara Taufiqur Rahman Penutupmu ini kayaknya tepat menggambarkan situasi. Tidak ada kesimpulan tunggal.
yo wis diselesaikan di meja catur! Kapan? Besok pagi? Saturday at 9:55pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto Beberapa ratus tahun yang lalu, keberadaan “Yang Maha Kuasa” sudah dipertanyakan apakah memang logis.. dan memang secara logika, keberadaan “Maha Kuasa” ini menimbulkan omnipotence paradox..
Contoh dua proposisi bahasa mengenai sifat “Kemahakuasaan”:
1.Yang Maha Kuasa mampu menciptakan sesuatu.
2.Yang Maha Kuasa tidak mampu menciptakan sesuatu.
Jika Maha Kuasa itu ada, maka tentu no.1 benar dan no.2 salah. Artinya hukum non kontradiksi berlaku.

Sekarang mari membuat dua proposisi bahasa lagi mengenai sifat “Kemahakuasaan” yang lebih detail:
1.Yang Maha Kuasa mampu menciptakan sesuatu yang dapat membunuhNya.
2.Yang Maha Kuasa tidak mampu menciptakan sesuatu yang dapat membunuhNya.
Menurut hukum non kontradiksi, hanya salah satu saja yang benar. Jadi, kalau ga propoisi bahasa 1 ya 2. Silakan pilih salah satu…22 hours ago · Like

Rachmad Hakim Sutarto Sayangnya, 2 proposisi bahasa yang terakhir itu membuat masalah. Karena jika “Maha Kuasa” benar2 ada, maka kedua jawaban tersebut salah semua. (Silakan mas Budi Sulistyo konfirmasi jika konsep “Maha Kuasa”nya berbeda).. Artinya, kita harus memilih manakah kebenarannya lebih tinggi: hukum non kontradiksi atau Maha Kuasa..
> Jika kita percaya hukum non kontradiksi selalu berlaku, maka otomatis “Maha Kuasa” itu menjadi tidak ada. Karena proposisi manapun yang kita pilih, “Yang Maha Kuasa” menjadi tidak mungkin ada
> Jika “Maha Kuasa” itu ada, maka otomatis ini menjadi salah satu bukti tidak berlakunya logika, dalam hal ini adalah hukum non kontradiksi…

Dalam pemahamahaku, logika itu tidak ada begitu saja.. Tapi ada karena diciptakan Yang Maha Kuasa itu sendiri… 21 hours ago · Like

Budi Sulistyo Fik, aku lanjutkan ya…7 hours ago · Like

Budi Sulistyo Pembahasan untuk pernyataan mas Rachmad Hakim Sutarto Mengapa muncul omnipotence Paradox dalam proposisi tersebut? Karena proposisi tersebut memuat aksioma yang secara implisit saling berkontradiksi dan juga mengandung konsep yang self-contradictory. Self contradictory bisa muncul dalam subyek ataupun predikat. Saya akan coba tunjukkan dalam penjelasan berikut: 7 hours ago · Like

Budi Sulistyo ‎1. Perhatikan bahwa dua proposisi dari Hakim yang terakhir menggunakan konsep ketuhanan yang mengandung dua aksioma implisit: aksioma_1: [Tuhan Maha Kuasa], aksioma_2: [Keberadaan sesuatu yg melebihi kekuasaan Tuhan adalah mungkin]. Tampak bahwa aksioma_2 berkontradiksi dengan aksioma_1. Apakah mas Hakim sudah menyadari keberadaan dua aksioma implisit dalam proposisi tersebut? 7 hours ago · Like

Budi Sulistyo ‎2. Karena aksioma_2 jelas salah maka yg tertinggal hanya aksioma1 yaitu [Tuhan Maha Kuasa]. Untuk memperjelas maknanya, aksioma_1 akan saya pertegas menjadi [Tuhan Maha Kuasa dan mustahil ada sesuatu yang melebihi Kekuasaan-Nya]. 7 hours ago · Like

Budi Sulistyo ‎3. Kembali pada proposisi mas Hakim: proposisi_1 [yang maha kuasa mampu menciptakan sesuatu yang dapat membunuh-nya]. Karena [Tuhan Maha Kuasa dan mustahil ada sesuatu yang melebihi Kekuasaan-Nya], maka ‘sesuatu yang dapat membunuhNya’ adalah absolutely impossible. Jadi proposisi_1 sebenarnya menyatakan [yang maha kuasa mampu menciptakan sesuatu-yg-mutlak-tidak-ada-dan-tidak-mungkin-ada] (kita sebut saja proposisi_1a) . Di sini, sumber kemunculan paradox menjadi lebih jelas, karena proposisi_1a ekuivalen dengan [yang maha kuasa mampu menciptakan sesuatu-yang-tidak-mungkin-tercipta] (kita sebut proposisi_1b). Dalam proposisi_1b, predikat mengandung konsep yang self-contradictory, yaitu ‘menciptakan’=’tidak menciptakan’. Semoga jelas bahwa yg tidak valid adalah proposisi_1 yang diajukan (karena mengandung aksioma yang saling berkontradiksi dan sekaligus konsep yang self-contradictory), bukan prinsip non-kontradiksi. 7 hours ago · Like

Budi Sulistyo ‎4. Sesungguhnya, paradox logika semacam ini tidak hanya terjadi pada kasus omnipotence paradox. Agar lebih jelas, ada baiknya kita lihat kasus selain omnipotence paradox. Perhatikan cerita berikut ini: 7 hours ago · Like

Budi Sulistyo Alkisah pada suatu masa, terdapat sebuah kota yang seluruh penduduknya gundul. Mengapa demikian? Ternyata kota itu mewajibkan semua warganya untuk mematuhi aturan berikut: (1) Rambut semua orang di kota tersebut harus selalu terpangkas habis, (2) Semua orang tanpa kecuali harus memilih antara memangkas rambutnya sendiri atau dipangkas oleh tukang pangkas rambut, (3) Tukang pangkas rambut hanya boleh memangkas rambut orang-yang-tidak-memangkas-rambutnya-sendiri, dan (4) Yang tidak mematuhi aturan (1), (2), (3) akan dipenggal. Saat itu, hanya terdapat satu orang warga kota yang ahli pangkas dan ditetapkan sebagai tukang pangkas rambut, namanya Taufik (sorry fik, wkwkwk). Pertanyaannya: Siapa yg memangkas rambut Taufik? Jika Taufik tidak memangkas rambutnya sendiri maka, berdasarkan aturan (1) dan (2), ia harus pergi ke tukang pangkas yang adalah dirinya sendiri. Jika ia memangkas rambutnya sendiri maka ia akan melanggar aturan (4), karena hanya boleh memangkas orang-yg-tidak-memangkas-rambutnya-sendiri. Sumber: barber’s paradox  8 hours ago · Like

Budi Sulistyo Sebagai tambahan, beberapa paradox logika lain diantaranya adalah: (1)paradox pembohong (liar’s paradox), yang mengandung self-contradictory concept, (2) paradox himpunan (russel’s paradox) yang mengandung circular concept, (3) teori ketidaklengkapan goedel (godel incompletness theorem) yg mengandung self-reference-proposition. 8 hours ago · Like

Budi Sulistyo Sebenarnya ada catatan khusus tentang teorema godel, tapi ini hanya relevan disampaikan kalau kita sudah membahas argumen godel.

Rachmad Hakim Sutarto
Inilah menariknya omnipotent paradox. Dalam kalimat sederhana bisa memasukkan hal2 penting:
1. Menggunakan realitas manusia yang sederhana. Bahwa: manusia saja mampu menciptakan (membuat) sesuatu yang dapat mencelakai dirinya.
2. Menyandingkan kemustahilan dan kemahakuasaan dalam sebuah kalimat, lalu menghubungkannya menjadi rangkaian sebab akibat.

Mas Budi berargumen bahwa tindakan “menciptakan sesuatu-yang-tidak-mungkin-tercipta” adalah self contradiction, karena itu tidak mungkin ada. Dengan kata lain: absolutely impossible. Tentu tidak menjadi masalah jika yang berusaha melakukan adalah manusia. Tapi jangan lupa bahwa Yang-Maha-Kuasa sendiri adalah absolutely possible, “Jika menghendaki maka jadilah”. Di sinilah munculnya paradox.
Dapatkah Sang-Absolutely-Possible melakukan hal yang bersifat Absolutely-Impossible? Yesterday at 4:59pm · Like

Rachmad Hakim Sutarto
Secara logika, Absolutely-Possible dan Absolutely-Impossible tidak mungkin kita akui keberadaanya sekaligus karena akan menjadi kontradiksi. Seperti irresistible force paradox: “What happens when an irresistible force meets an immovable object?”.
Artinya, jika Absolutely-Impossible itu ada, misalnya “menciptakan sesuatu-yang-tidak-mungkin-tercipta”, maka kemahakuasaan secara absolut itu sendiri akan menjadi tidak ada. Yang ada hanyalah Maha Kuasa dalam batas2 tertentu, salah satunya sesuai yang digariskan oleh logika manusia.

Btw coba kita buat lagi prinisp non kontradiksi berkaitan Yang Maha Kuasa:
A1.Yang-Maha-Kuasa akan mati
A2.Yang-maha-Kuasa tidak akan mati
Mungkin proposisi A2 benar dan A1 salah.
Coba bagaimana kalau bahasanya sedikti diganti?
B1.Yang-Maha-Kuasa mampu mati
B2.Yang-maha-Kuasa tidak mampu mati
Bagaimana jawabannya.. Mungkinkah logika hanya ber main2 dalam perspektif yang terbatas?????

Mengenai tukang pangkas rambut, mungkin mas Budi Sulistyo berkenan ikut menjadi tukang pangkas rambut biar Tara Taufiqur Rahman selamat dari penyembelihan idul kurbannn… wkwkwk Yesterday at 5:08pm · Like

Budi Sulistyo
Nice argument mas Rachmad Hakim Sutarto, saya coba tanggapi lagi.
1. Dalam argument2 yg lalu, saya berusaha menunjukkan bahwa omnipotence paradox dapat muncul karena ada proposisi yg tidak valid. Saya telah tunjukkan pula bahwa OP ini tidak hanya bisa terjadi dalam kasus omnipotence paradox (dengan Tuhan sebagai subyek). Jika mas Hakim sempat mengamati contoh-contoh paradox yg saya berikan, di situ ada semacam ‘logical trap’ berupa self-contradiction yg tersembunyi.
2. Dalam penjelasan saya yg lalu, ‘the absolutely impossible thing’ yg dimaksud adalah ‘sesuatu yg melebihi kekuasaan Tuhan’. Dari perspektif ini jelas bahwa ‘the absolutely impossible thing’ benar-benar tidak ada dan mustahil ada. Kita dapat katakan bahwa ‘this absolutely impossible thing’ merupakan ketiadaan mutlak atau non-existence.
3. ‘The absolutely impossible thing’ ini ya benar-benar tidak ada, sehingga ia sama dengan ‘ketiadaan mutlak’ atau ‘non-existence’. ‘The absolutely impossible thing’ tidak sama artinya dengan ‘sesuatu’ yg tidak ada. Mengapa? Karena ‘the absolutely impossible thing’ benar-benar mutlak tidak ada sehingga tidak bisa kita sebut sebagai ‘sesuatu’.
4. Ketika misalnya saya katakan bahwa, ‘Keberadaan Tuhan adalah Tanpa batasan, sehingga tidak ada sesuatupun yg membatasinya kecuali ketiadaan mutlak’. Ini tentunya tidak berarti bahwa ketiadaan mutlak membatasi Tuhan…, karena ketiadaan mutlak itu ya benar-benar tidak ada. Ini hampir sama dengan mengatakan bahwa ‘Tuhan tidak memiliki batasan’, atau ‘Tuhan tidak punya kelemahan’. Tentu mas Hakim dapat mengatakan begini: bukankah Tuhan Maha Memiliki, kok bisa-bisanya ‘tidak memiliki batasan’, atau kok bisa-bisanya ‘tidak memiliki kelemahan’. Bukan seperti itu… ‘Tuhan tidak memiliki batas’ berarti ‘keberadaan batas’ tersebut benar-benar impossible dan identik dengan non-existence. ‘Batasan’ bagi Tuhan adalah benar-benar ‘ tidak ada mutlak’ atau ‘non-existence’, sehingga tidak bisa disebut sebagai ‘sesuatu’.
5. Ketika saya mengatakan: ‘menciptakan sesuatu yg tidak mungkin tercipta’ mengandung self-contradictory konsep, artinya kurang lebih sama dengan penjelasan no-4. Ini karena ‘sesuatu yg tidak mungkin tercipta’ (yaitu sesuatu yg melebihi kekuasaan tuhan) tersebut ya benar-benar impossible, sehingga merupakan non-existence, dan bahkan tidak bisa kita sebut ‘sesuatu’. Ini artinya ‘mencipta’ menjadi sama dengan ‘tidak mencipta’.
6. Jawaban untuk bentuk-bentuk argument lain omnipotence paradox ya sama saja. Contoh proposisi yg terakhir sudah jelas jawabannya kalau kita menyadari bahwa ‘kelemahan’ (mati, tiada dll) bagi Tuhan adalah impossible dan merupakan ketiadaan mutlak.
7. Perlu diingat bahwa meskipun logika menggunakan bahasa, namun logika bukanlah permainan bahasa. 10 hours ago · Like

Budi Sulistyo Untuk pernyataan , “What happens when an irresistible force meets an immovable object?”, ini juga merupakan paradox logika. Pertanyaan ini mengandung semacam ‘logical trap’. Bagaimana bentuk ‘logical trap’-nya? Silahkan dianalisis sendiri…, it grows on you… 10 hours ago · Like

Budi Sulistyo . Menurut Hakim:  “Secara logika, Absolutely-Possible dan Absolutely-Impossible tidak mungkin kita akui keberadaanya sekaligus karena akan menjadi kontradiksi”. Benar Mas! Ini karena [Kekuasaan Tuhan tanpa batas dan dapat mewujudkan segala sesuatu] sedangkan [the absolute impossible merupakan ketiadaan mutlak atau non-existence sehingga bahkan tidak bisa disebut sebagai ‘sesuatu’] 9 hours ago · Like

16 pemikiran pada “Tentang non-kontradiksi (yg belum selesai…)

  1. Memperhatikan diskusi panjang di atas saya melihat ada beberapa aliran pemikiran nih…

    1. Tuhan Maha Kuasa

    Tuhan mampu melakukan segalanya. Termasuk membatalkan prinsip logika paling dasar sekalipun seperti non-kontradiksi dan hukum sebab akibat.

    Karena memang Tuhan Maha Kuasa dan Maha segalanya, bila ada sesuatu yang tidak dapat kita pahami itu karena keterbatasan manusia – keterbatasan logika manusia. Tetapi Tuhan tetap maha kuasa.

    Beberapa orang cocok dengan pemikiran ini. Tetapi beberapa orang yang lain tidak puas dengan cara berpikir seperti ini. Mereka terus melakukan pencarian dengan risiko kurang aman. Bagaimana pun Tuhan Maha Kuasa. Selesai semua masalah.

    2. Prinsip logika berlaku umum

    Bahkan Tuhan pun “terikat” prinsip logika umum – semacam non-kontradiksi.

    Pendekatan ini agak berisiko karena seakan-akan Tuhan “ditundukkan” oleh hukum logika. Tapi bagi orang-orang yang memahami prinsip logika dengan teliti mereka justru yakin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Suci.

    Degan prinsip logika mereka berhasil meyakini Tuhan Maha Kuasa tanpa keraguan secuil pun. Logika adalah syarat perlu untuk meyakini Tuhan. Tetapi apakah logika cukup?

    3. Pisahkan Tuhan dan Logika

    Jangan membahas tuhan ketika membahas logika. Pun jangan membahas logika ketika membahas tuhan. Selesai semua masalah.

    Dari pengamatan saya, masing-masing orang memiliki kecenderungan sendiri. Orang yang cenderung kelompok 1 tidak harus dipaksa menjadi kelompok 2. Begitu juga sebaliknya. Masing-masing kelompok hanya perlu saling menghormati dan dialog dengan penuh rasa ingin tahu. Dan lebih penting lagi, amal baik dari setiap insan sangat dinantikan oleh umat manusia.

    Salam hangat…

  2. kunfayakun.. Terjadilah segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. “Fa” nya itu adalah proses. Jadi keinginan tuhan yang maha esa bisa terjadi di bumi ini harus melalui suatu proses yang real dan nyata. Melalui suatu mekanisme awal, pertengahan dan akhir. Tidak ada yang tidak logika. Tuhan itu logika bagi yang mengerti akan ilmu dasarnya. Bagi yang tidak ya Tuhan itu abstark.

  3. What’s more, it makes the software that runs the world. Why, you ask, would Microsoft use its resources to develop free services like Google’s when it could just keep making
    its regular installed applications better. ” If she does, then she’s the type of woman who touches everybody – which is not a sign of high Interest Level.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s