Hak Cipta Produk Dijital (Digital Copy Right). Mau ke mana?

Jadi ingin nulis2 tentang topik ini terutama setelah membaca tulisan P Ari di sini. Pembajakan di dunia dijital ataupun pembajakan di dunia selain dijital pada prinsipnya sama saja, yaitu memperbanyak produk tanpa seijin orang atau pihak yang memiliki hak cipta. Namun dalam kasus produk dijital, masalah ini tampaknya lebih rumit. Ini karena produk-produk dalam format dijital dapat dicopy atau diperbanyak dan didistribusikan dengan sangat mudah. Ini berbeda dengan kasus produk fisik tiruan (lukisan, patung, perangkat elektronik, perangkat mekanik dll). Perlu upaya sangat keras untuk meniru dan menyembunyikan kepalsuan produk secara fisik. Hal ini tidak berlaku di dunia dijital.

Produk dijital ini diantaranya mencakup: perangkat lunak, foto dijital, musik dijital ,film dijital dan ebook. Apakah pembajakan terhadap produk-produk ini dibenarkan? Secara hukum, tentu saja tidak. Namun, masalahnya bukan pada benar atau salah.

Yang menjadi masalah adalah: Apakah upaya perlindungan, dengan perangkat hukum dan teknologi, terhadap produk-produk ini cukup efektif dan feasible? Bukti di lapangan, menurut pengamatan saya, menyatakan tidak. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melindungi produk perangkat lunak, hampir semuanya gagal atau tinggal menunggu waktu untuk gagal. Ini termasuk perlindungan dengan menambahkan hardware keamanan pada produk tersebut. Perlindungan terhadap musik dan film dijital? Sama saja. Pengguna internet (termasuk saya) dengan mudah me-rip CD/DVD film dan musik menjadi file digital (mp3, mp4, rmvb dll) dan mendistribusikannya lewat internet. Hal yg sama terjadi pada buku, dengan sedikit upaya tambahan untuk mengubah format buku hardcopy ke dalam format dijital (ebook).

Menurut bruce schneier, kesangatmudahan proses copy dan distribusi file dijital terjadi tidak lain karena hal ini sesungguhnya merupakan karakteristik intrinsik dari format dijital tersebut. Seluruh upaya yg dilakukan untuk melindungi produk dijital ini merupakan tindakan yang melawan hukum alam. Produsen tidak akan dapat menyelamatkan bisnisnya tanpa menyadari dan menerima hukum ini.

Dalam hal ini, saya sependapat dengan Bruce. Industri penghasil produk dijital tidak dapat mengatasi pembajakan hanya dengan menerapkan perangkat hukum dan teknologi untuk melindungi produk tersebut. Yang diperlukan adalah: Skema bisnis baru! Hal ini sudah dilakukan dalam kasus perangkat lunak yaitu melalui skema open source. Industri open source memperoleh pendapatan dari service bukan dari produk perangkat lunak. Bagaimana dengan musik dan film? Beberapa hal penting sebenarnya sudah terjadi (hanya mungkin luput dari pengamatan kita):

1. Film? Maraknya pembajakan film tidak mematikan industri bioskop. Orang tetap berbondong-bondong menonton film di bioskop meskipun film yg sama juga tersedia dalam CD/DVD bajakan. Apa yg dicari?

2. Musik? Kecenderungan saat ini adalah: orang hanya menyukai satu atau dua lagu dalam satu album. Jadi, mengapa harus membeli satu album penuh? Hal ini yang dibidik oleh P BR dengan Digital Beat Store-nya. Yang lain? Industri musik dapat memproduksi musik yang berkualitas high-end yang dapat dinikmati (dengan head-phone  yang nyaman utk masing2 pendengar) di tempat-tempat khusus, misalnya kafe atau ruang baca di toko buku. Tiap pendengar harus membayar berbasis waktu atau berdasarkan item lagu yg dipesan.

3. Buku? Rasanya saya tidak pernah berminat membajak buku2 lokal yang dipajang di toko2 buku. Mengapa? Karena hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan harga dan upaya yang dikeluarkan. Saya tetap memilih buku asli karena masih cukup murah dan mudah. Bagaimana dengan buku textbook yg mahal-mahal? Utk kasus ini, maka akan berlaku hukum di atas, bajakan dalam format dijital lebih menarik. Capek membaca ebook di depan Laptop? Ah, masih bisa ditoleransi kok.

Jadi, apakah hukum dan teknologi saat ini efektif mengatasi pembajakan? Menurut saya tidak, tanpa ada skema bisnis baru.

Apakah kita dapat mengharapkan itikad baik dari publik? Dalam batas tertentu, ya. Yg dimaksud batas tertentu adalah: harga masih cukup masuk akal (meskipun belum tentu terjangkau), ada alternatif lain (perpustakaan yg memadai utk textbook. Open source utk software, meskipun ada effort tambahan).

4 pemikiran pada “Hak Cipta Produk Dijital (Digital Copy Right). Mau ke mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s