Takdir dan kehendak bebas (lanjutan…), obrolan seputar M Basuki dan Futsal

Berniat melanjutkan tulisan di sini dan di sini dengan sedikit diskusi (karena belum sempat nulis selengkapnya euy…).

Kemarin ngobrol-ngobrol dengan M Rayyan, tentang meninggalnya pelawak Basuki (ikut bela sungkawa…, saya selalu salut dengan kegigihan seniman seperti beliau). Dari yg saya baca, Mas Basuki ini meninggal saat bermain futsal. Begini isi ngobrol-ngobrolnya… Waktu itu saya katakan bahwa kita (khususnya saya) harus hati-hati nih kalau main futsal. Jangan memaksakan diri dan jangan lupa pemanasan dulu (…kebetulan setiap sabtu pagi tim kami dan tim Indocisc main futsal bareng). Tujuannya untuk memperkecil risiko kejadian serangan jantung seperti yang dialami M Basuki (Benyamin S juga??). Saat itu M Rayyan menjawab bahwa itu semua kan sudah takdir. Jadi ya memang sudah seperti itu yang harus terjadi. Upaya apapun tidak akan menunda atau mengajukan saat kematian kita.

Benarkah demikian? Benarkah waktu kematian itu sudah ditentukan tanpa bisa diubah-ubah lagi? Apakah benar bahwa sebagian dari peristiwa-peristiwa yang kita alami merupakan takdir yang sama sekali tidak dapat diubah (…seperti sering kita baca dan dengar dalam pelajaran agama bahwa jodoh, kematian dan rizki sudah digariskan, mohon bantuan referensi hadisnya ya…) dan sebagian lainnya dapat diubah. Kalau memang ada pembagian seperti itu, apa perbedaan mendasar antara dua kelompok peristiwa tersebut?

Beberapa minggu yang lalu seorang tetangga saya meninggal dalam usia yang masih sangat muda karena kecelakaan lalu lintas (..semoga diterima ke hadirat-Nya). Sebut saja namanya Arman. Saat itu, sekitar pukup 06.00, dia sempat mampir ke rumah Pak Asep, tetangga saya yang lain. Mereka sempat ngobrol-ngobrol selintas. Sesaat kemudian Arman beranjak keluar, mengambil motor dari rumahnya, dan pergi (kabarnya ke Gasibu. Saat itu hari minggu). Pada pukul 06.30, kami mendengar pengumuman dari Masjid sebelah bahwa Arman telah meninggal karena kecelakaan di jalan Supratman (di dekat Pusdai). Kejadian ini sangat mengejutkan kami, tetangga-tetangga Arman. Saya sempat berandai-andai.., seandainya Arman tidak pergi ke Gasibu…, seandainya dia barang sedikit lebih lama ngobrol dengan P Asep, seandainya Arman lebih berhati-hati mengendarai motornya, andai…

Dan saya merenung lebih jauh…

Saya mulai berasumsi bahwa memang benar saat kematian telah ditetapkan tanpa bisa diubah lagi. Karena itu tidak ada upaya apapun yang dapat mengubahnya. Kita tidak dapat mengutak-atik rantai sebab akibat yang berujung pada kematian. Jadi ya, takdir memang sudah menggariskan Arman meninggal saat itu. Segala pengandaian saya di atas tidak ada gunanya, apapun yg terjadi, Arman memang akan meninggal di Minggu pagi itu. Demikian juga dengan Mas Basuki, apapun yang beliau lakukan, pemanasan, atau bahkan menghindari permainan Futsal, beliau tetap akan meninggalkan kita, tepat seperti yang telah terjadi, beberapa hari yang lalu.

Renungan berlanjut…

Namun saya juga mencoba melihat perspektif yang lain. Coba simak ini:

Kematian akibat penyakit campak mengalami penurunan drastis, yakni 48 persen dalam tempo enam tahun terakhir, menyusul keberhasilan program imunisasi global. (link di sini)

Angka kematian ibu melahirkan di Jakarta Utara menunjukan penurunan yang signifikan Hal ini disebabkan selain semakin meningkatnya kesadaran kaum ibu menjaga kesehatan dan janinnya, juga karena semakin baiknya pelayanan kesehatan terhadap ibu selama hamil. (link di sini)

Juga ini…

Gaya hidup dan pola makan terbukti memperpanjang usia. Setelah Lembah Hunza tersentuh modernisasi sebagai dampak pembangunan jalan raya yang menghubungkan Pakistan dan Cina, konsumsi junk food meningkat di kalangan penduduk Hunza. Akibatnya, pola penyakit bergeser dari diare dan patah tulang akibat jatuh dari tebing menjadi tekanan darah tinggi, gangguan jantung, dan kanker seperti yang dialami penduduk di belahan bumi lain…..

Contoh sikap mental yang menentukan umur panjang tampak dari ucapan Setsuko Miyasato, wanita usia 90 tahun, yang tiap hari terlihat mendirikan sendiri lapak buah dan sayurannya. “Tiap pagi saya bangun dan bersyukur masih hidup dan sehat. Jangan terlalu khawatir mengenai hari esok, jangan terlalu serius, jangan terlalu banyak berpikir. Bernyanyi dan mainkan musik.”

Hal serupa terjadi pada penduduk muda Okinawa yang usia harapan hidupnya cenderung menurun karena terpapar pola makan tinggi lemak, seperti hamburger dan daging babi. Begitu pula penduduk Okinawa yang bermigrasi ke Brazilia untuk bekerja di perkebunan karet. Mereka makan banyak daging karena banyak tersedia dan murah. Akibatnya, usia harapan hidup mereka jauh lebih rendah daripada saudaranya di tanah asal. (link di sini)

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa ada upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk memperpanjang umur. Pada mulanya saya memang sepenuhnya meyakini bahwa waktu kematian memang sudah ditentukan tanpa dapat diubah lagi.

Dengan hanya mengamati perjalanan hidup seorang individu, saya tidak akan dapat membuktikan bahwa suatu upaya tertentu berkorelasi dengan panjangnya umur individu tersebut. Jika individu tersebut meninggal dalam usia lanjut atau dengan kata lain panjang umur, saya tidak dapat membuktikan bahwa hal itu disebabkan karena gaya hidup sehat yang dilakukannya. Saya juga tidak dapat membantah pernyataan bahwa individu tersebut panjang umur karena memang demikianlah takdirnya, bukan karena berbagai upaya hidup sehat yang telah dia lakukan. Pernyataan terakhir sering dikemukakan dengan fakta tambahan: “ada juga orang lain yang telah melakukan gaya hidup sehat toh tetap saja mati muda“. Mumet kan…

Namun, jika kita melihat fakta-fakta tersebut secara statistik, yaitu dengan mengamati sekelompok individu, kita dapat membuktikan bahwa tindakan-tindakan tertentu ternyata dapat berkorelasi dengan meningkatnya usia harapan hidup seperti yang diperlihatkan dalam kutipan-kutipan di atas.

Jadi, saya dapat menyimpulkan beberapa hal berikut:

Melakukan pemanasan yang cukup sebelum bermain futsal sangat penting untuk meminimalkan risiko serangan jantung mendadak.

Jika ingin berumur panjang hendaknya anda selalu berhati-hati dalam mengemudikan sepeda motor atau mobil anda. dll…

jogging_2550.jpg

Kemudian, saya juga percaya bahwa hukum sebab akibat tidak hanya terbatas pada hal-hal material. Saya pernah mendengar hadis berikut (sekali lagi mohon bantuan referensinya…): sambunglah selalu tali silaturahmi, karena silaturahmi dapat memperpanjang umur. Jadi, menurut saya, terdapat berbagai ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk memperpanjang umur kita. Dengan kehendak bebas, manusia dapat memilih untuk melakukan upaya-upaya untuk memperpanjang umurnya.

Note: argumen (melalui bukti statistik) yang saya kemukakan sama sekali bukan hal baru. Khusus tentang kematian, argumen ini seringkali saya lupakan/abaikan karena pernyataan bahwa saat kematian merupakan takdir yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sudah menjadi semacam dogma dalam benak saya.

Hanya Allah yg Maha Tahu

15 pemikiran pada “Takdir dan kehendak bebas (lanjutan…), obrolan seputar M Basuki dan Futsal

  1. Barangkali ini referensi hadits yg dimaksud:

    Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.

    [Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

    Tapi di hadits itu ngga disebut ttg jodoh tuh😀

  2. Mungkin cerita antara Umar bin Khaththab ra dan Abu Ubaidah ra ketika wabah sampar mulai tersebar di daerah Suriah (nama persis daerahnya lupa) bisa ditengok lagi:

    Umar yg pada saat itu sdg melakukan kunjungan di Suriah dan hendak masuk ke daerah tsb memperpendek kunjungannya. Melihat hal tsb Abu Ubaidah menegur Umar dg berkata, ‘Wahai Umar, apakah engkau hendak lari dari ketentuan Allah?’
    Umar menjawab, ‘Saya lari dari ketentuan Allah ke ketentuan Allah lainnya’
    Umar mengajak Abu Ubaidah utk bergabung dengannya, tetapi Abu Ubaidah menolak karena sebagai pimpinan tertinggi umat Islam di Suriah, dia merasa bertanggung jawab utk mengurus keselamatan umat Islam di sana.
    Setelah sampai di Madinah, Umar mengirim surat kpd Abu Ubaidah memintanya utk datang ke Madinah utk membahas beberapa hal. Abu Ubaidah memandang bahwa alasan Umar mengundangnya ke Madinah hanyalah agar dia tidak terkena wabah penyakit tsb, dan dia menolak permintaan Umar.
    (Ada indikasi kuat bahwa Umar berharap agar Abu Ubaidah lah yg nantinya menggantikan dia sbg khalifah jika dia wafat, sehingga Umar berkeras utk ‘menyelamatkan’ Abu Ubaidah dari wabah tsb).
    Membaca surat penolakan Abu Ubaidah, Umar menangis sehingga orang2 di sekitarnya mengira Abu Ubaidah telah wafat. Umar kemudian membalas surat Abu Ubaidah, memintanya agar memindahkan tempat tinggal kaum muslimin ke daerah lain yg udaranya dipandang lebih baik. Abu Ubaidah mengikuti perintah Umar ini.
    Akhirnya Abu Ubaidah meninggal karena wabah tsb.

    Note:
    – Umar dan Abu Ubaidah adalah termasuk 10 orang sahabat yg dijamin masuk surga oleh Rasulullah, sementara Iman kpd Qadha & Qadar adalah bagian dari Rukun Iman.
    – Tindakan Umar dan Abu Ubaidah sebetulnya mengikuti prinsip2 karantina yg diajarkan oleh Rasulullah (jika suatu wabah tersebar di satu daerah, penghuninya dilarang keluar daerah tsb, sementara orang yg di luar dilarang masuk ke daerah tsb).

  3. Jadi ingat salah satu bukunya Taqiyuddin An-Nabhani, sayang saya lupa bukunya dimana, jadi gak bisa kutip persis. Tapi kira-kira konsepnya begini (menurut pemahaman saya). Mohon maaf kalau keliru.

    Pemahaman tentang kekuasaan Allah atas takdir dan tentang apa yang harus kita lakukan terhadap nasib kita adalah 2 hal yang berbeda dan tidak perlu digabungkan.

    Maksudnya, kekuasaan Allah atas takdir dan bagaimana detilnya kekuasaan itu dapat terjadi adalah perkara ilahi dan gaib, kita hanya diperintah untuk mengimani bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu yang terjadi. Firman ilahi yang berkaitan dengan ini adalah cara Allah menjelaskan dalam bahasa manusia. Seperti halnya Allah menjelaskan bahwa Allah itu dekat, lebih dekat dari pada urat nadi.

    Sementara itu di sisi lain, hal yang manusiawi dan bukan gaib adalah, Allah mensyariatkan manusia itu berikhtiar sesempurna mungkin.
    Perkara apakah ikhtiar kita akan memberikan hasil sesuai dengan yang kita harapkan, lagi-lagi itu tergantung kekuasaan dan kehendak Allah yang kita tidak tahu (gaib), yang jelas Allah pasti akan memberikan ganjarannya.

    Wallahu’alaam
    Sorry Pak, jadi kepanjangan… hehe.

  4. Bud,
    Aku berkenalan dengan kekuasaan Tuhan melalui kejadian-kejadian yang Dia jatuhkan.
    Cukup banyak kejadian Bud, dan sungguh bodoh kalau kita mengingkari kekuasaan-Nya.
    Nggak tahu ya.. dalam bawah sadarku, aku masih menganggap apa yang kita lakukan dan apa yang kita dapatkan, adalah dua hal yang berbeda, yang tidak ada hubungan sebab-akibatnya. Saya minum obat dan saya sembuh, itu adalah dua hal yang berbeda. Saya minum obat adalah suatu usaha untuk sembuh. Saya sembuh adalah anugerah Tuhan. Saya bilang anugerah Tuhan, karena kalau kita pikirkan akan ada banyak kemungkinan yang bisa tejadi. Misalnya, aku salah minum obat. Atau, ternyata obat menggunakan bahan palsu dan aku tidak tahu (malah menjadi mati, bukan sehat). Dan lain-lain.
    Dalam gurauan (yang serius) yang sering aku ucapkan, bisa aja kok kita berjalan keluar dan tiba-tiba kejatuhan meteor dan mati (dan semua rencana gagal total). Ketika berbagai kemungkinan ini begitu banyak, kenapa kok satu itu yang terpilih, bukan yang lain? Akhirnya hanya ada satu kata: TUHAN!
    Takdir Tuhan ini (menurut pemikiranku) berjalan terlepas dari kehendak bebas manusia. Manusia bisa punya kehendak bebas apa yang akan DILAKUKAN. Tapi Tuhan yang menentukan, apa saja yang akan DIBERIKAN-Nya kepada kita.
    Disini aku tidak bisa menuliskan referensi. Namun tulisan ini adalah hasil pembelajaran dalam hidupku. Entah kalau aku dianggap sebagai orang yang bodoh yang tidak bisa mengurai pelajaran dalam hidup dan menyimpulkan semua pada blackbox dengan judul TUHAN.

  5. Tambahan Bud,
    di buku “Tanyalah aku sebelum kau kehilangan aku”, kumpulan kata-kata Ali, ada ujar-ujar Ali kurang lebih sebagai berikut:
    =====
    Jika takdir telah datang, hati-hati pun tidak ada arti lagi
    =====
    Itu yang menguatkan, bahwa apapun yang kita lakukan, jika takdir sudah menentukan, usaha apapun tidak akan bermanfaat.

  6. Ade baru membaca comment para ustadz diatas … jadi ngeri sendiri, Ade gak bisa comment dengan hadits mas Budi, mohon maaf yah.

    Ade jadi pembaca saja karena pengetahuan agama Ade masih jauh dibawah mas-mas diatas.

    -Ade-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s