Meutya Hafid

168 Jam dalam Sandera

 

Saya sudah membaca buku itu beberapa hari lalu. Bagus banget! Saya selesaikan dalam sekali baca. Buku ini menceritakan tentang pengalaman Meutya Hafidz dan Budiyanto selama disandera di Irak. Kisah penyanderaan! Kisah itu tentu saja kemungkinan besar akan menarik. Tapi, tidak hanya itu!

Meutya sangat pintar menata alur penceritaan. Urutan cerita tidak linear terhadap waktu, melainkan meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian lainnya secara nonlinear (mungkin berbagai penggalan kisah disusun linear berdasarkan emosi). Di awal, Meutya langsung masuk pada drama penculikan. Berikutnya alur cerita mundur ke peristiwa-peristiwa menjelang keberangkatan Meutya dan Budyanto. Terselip juga kisah masa kecil hingga masa remaja dari penulis. Hampir seluruh bagian cerita terhubung secara emosional. Misalnya: ketika Meutya menceritakan kesedihan hatinya saat ayahnya wafat, tiba-tiba alur meloncat kembali kepada drama penyanderaan, lewat sebuah kalimat:

“….Aku tahan tangisku, tapi rasa sakit dan pilu itu justru memuncak. Penyesalan seperti tiada habisnya, mengiris hatiku. Aku masih ingat betul rasa sakit itu, hingga kini. Terasa sangat menyakitkan. Tak ada yang mampu menandingi rasa sakit ini. Tidak para penculik ini. Tidak si Sontoloyo!…

Kisah ini menjadi semakin menarik ketika Meutya menceritakan berbagai kejadian di Studio Metro TV yang berujung pada penunjukan dirinya untuk melakukan liputan di Irak. Gambaran ketegangan yang meliputi seluruh kru Metro TV ketika berita insiden penyanderaan tersebut mereka terima tersaji dengan baik. Nyaris detil. Saya bisa merasakan langsung ketegangan itu.

Tentang cerita penyanderaan itu sendiri, Meutya tidak hanya menceritakan hal-hal mencekam selama penyanderaan. Todongan senjata, suara rentetan tembakan dan hardikan kasar dari salah satu penyandera. Ia juga bertutur tentang terjalinnya persahabatan diantara mereka, semuanya, penyandera maupun yang disandera. Selama penyanderaan ini, Meutya tampaknya telah melalui perjalanan batin yang sangat berharga, mengenali perjuangan dan pengorbanan para mujahiddin, mengenal dirinya sendiri, dan lebih akrab dengan Sang Pencipta.

Satu hal yang membuat saya terkesan, Meutya ternyata mendedikasikan buku ini untuk perjuangan para Mujahiddin, khususnya bagi dua orang sahabat-penculiknya yaitu Ahmad dan Muhammad.

“… Buku ini juga saya tulis untuk perjuangan warga Irak. Juga untuk mereka yang menyandera saya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janji seorang wartawan untuk memberitakan yang berimbang….”

Berdasarkan apa yang dia kisahkan sepanjang buku ini, tampaknya Meutya telah berhasil mengenali kemurnian tujuan perjuangan dari penculik2nya.

Pokoknya bagus. Saya sangat merekomendasikan buku ini (khususnya untuk istriku, he2). Menurut saya, sangat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari tulisan Meutya.

18 pemikiran pada “Meutya Hafid

  1. cerita yang menarik, dengan membacanya saya merasa mengenali sifat meutya yang sensitif, keras, kadang suka mengeluh walau tak terucapkan, tapi dia akan melakukan hal yag baik untuk mempertahankan impiannya. Sampai2 saya terus membacanya sampai selesai dalam waktu 1 hari

  2. mbak, aku mungkin salah satu orang yang ngfans b’nget sm mbak?
    kapn ada rencana main2 k malang, kalau ada kesempatan k malang kabari aku mbak ! Q pngn b’nget ktmu sm mbk?
    tlng SMS/kbri Q jk pny wktu k malang, sory q gk bicara soal buku, q trsnjung sama isinya, semoga aku bisa meniru jejaknya (dgn JalanQ saat ni)

    from: faN’s MlnG
    081331733005

  3. Mbak Aq Ngefan’s Buaanget ma Mbak…. Tapi Jangan Lupa ya M’bak…. Pengalaman Adalah Pelajaran Yang Paling Berharga…. Dan Ingat Selalu Akan Nikmat Yang Diberikan Allah Kepada Kita….. Saya Rasa M’bak Mengerti Tentang Kebesaran Nikmat Tersebut….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s