Darah tinggi dan monyet

Kemarin ngobrol dengan P Ari dosen saya di ITB. Ceritanya, akhir-akhir ini beliau merasa kurang sehat. Setelah diperiksa ternyata tekanan darahnya relatif tinggi (gak tahu berapa persisnya. Kenapa bisa begitu? Pak Ari mengaku bahwa kemampuannya untuk mengusir monyet yang bergelantungan di pundaknya tidak terlalu bagus. Jadi, monyet yang sekarang kongkow-kongkow di pundaknya sudah terlanjur banyak. Gimana dong solusinya? Satu-satunya cara adalah dengan mencegah atau membatasi jumlah monyet yang bisa mendekat. Rencananya, beliau akan membangun semacan kerangkeng untuk tujuan ini. Wah, jadi siapa yang dikerangkeng dong? Monyetnya atau P Ari?

Mengapa P Ari bisa memiliki banyak monyet dan apa hubungan monyet dengan tekanan darah tinggi? Jawabannya bisa dilihat di sini: tips monyet

6 pemikiran pada “Darah tinggi dan monyet

  1. Bila yang dimaksud p. Ari ini adalah dosen Elektro yang sering memberikan ceramah “Sharing Vision” bersama pak Dim dan pak BR, saya sudah bisa menebak bahwa beliau orangnya perfeksionis. Akibatnya tegangan juga lebih tinggi.

    Dikalangan rekan kerja, saya termasuk perfeksionis, namun saya belajar untuk lebih banyak memberikan delegasi wewenang kepada staf yang membantu, memang risikonya lebih lambat, jadi harus ada perkiraan kapan dead line. Namun ini merupakan proses pembelajaran, dan tak berapa lama staf tsb akan makin handal.

    Hal lain lagi, kita harus bisa menolak, ini yang buat orang Indonesia sering ada unsur ga tegaan….. jadi tetap harus dibuat prioritas, karena selama kita masih aktif kerja pasti kerjaan tak pernah berhenti. Saya sendiri membayangkan kalau MPP (masa Persiapan Pensiun) akan lebih santai, jadi untuk mengisi waktu saya bersedia jadi pengajar tidak tetap, selain jadi pengurus di anak perusahaan. Ternyata bulan Ramadhan yang saya harapkan lebih banyak waktu untuk beribadah, malah kena kerjaan yang tak bisa ditinggalkan…jadinya pergi jam 6.15 wib dan baru sampai rumah menjelang buka puasa. Bahkan Sabtu kemarin juga bekerja…apa boleh buat, kadang kita tak bisa menolak pekerjaan…ambil positifnya aja, berarti memang tenaga dan pikiran kita masih diperlukan.

  2. nggak ding..
    kalo saya lihat pak ari ini memang perfectionis banget
    dari masalah waktu bahkan sampai penampilan
    kayaknya hidupnya sudah tertata rapi
    muka serius terus, jarang tertawa (setahu saya)

    senyum dikit pak…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s