Aku mendengarkan piano jazz, di suatu malam…

Kategorinya jazz, salah satu jenis musik yang aku suka, asalkan bukan yang terlalu rumit dan njlimet. Pemainnya Massimo Farao. Piano instrumental! Aku dapat albumnya dari Pak Dimitri. Ada enam puluh lagu. Banyak banget. Enak didengarkan. Bukan termasuk jazz yang abstrak, karena masih dengan mudah dinikmati melodinya.

[Denting piano mengalun…, produk suara elektronik dari speaker yang tersambung ke komputer. Sebuah aplikasi membaca file-file lagu, merekonstruksi data-data digital lagu, sound card mentransformasi data-data digital menjadi sinyal analog dan mengirimkan sinyal tersebut ke speaker yang bertugas menggetarkan membran tertentu untuk yang menghasilkan getaran akustik, getaran akustik ini merambat melalui medium udara. Tapi bagaimana bisa “aku” mendengarkan denting suara piano?]

Aku mendengarkan lantunan lagu demi lagu, nikmat. Dentingan pianonya mengalun, ringan. Ada beberapa lagu yang aku tahu judulnya, diantaranya “When You Whish Upon a Star”, “Summertime”, “Cheek to Cheek” dll. Sebagian besar lainnya aku kenal tapi gak tahu atau lupa judulnya.

[Denting-denting akustik melewati medium udara, meregang-mampatkannya, berulang-ulang, selaras dengan getaran membran speaker, merambat mencapai daun telinga”ku”. Semacam membran di dalam telinga bergetar dan meregang-mampatkan udara di sebelah dalamnya kemudian sebentuk rumah siput yang padat syaraf mengubahnya menjadi sinyal-sinyal syaraf. Sel-sel syaraf yang jalin menjalin mengantarkan sinyal ini menuju otak. Sinyal syaraf tercipta dari reaksi kimia-kimia yang mempertukarkan ion-ion positif dan negatif. Tapi bagaimana bisa “aku” mendengarkan denting suara piano dan apalagi komposisi musik?]

Malam ini memang sepi. Istriku tercinta sedang menidurkan anakku yang lucu. Jadi hanya aku yang menikmati musik ini. Sambil membaca. Ada buku Deepak Chopra di mejaku, “How to know God” judulnya. Sudah sejam aku membacanya hari ini dan juga beberapa jam lainnya di hari-hari yang lalu. Belum selesai juga, aku akan teruskan lain hari. Sekarang aku akan buka bahan-bahan tesis. Ah, terdengar musik yang lucu…, them song-nya film kartun The Pink Panther. Terbayang si pink panther yang nakal…

[Otak menerima sinyal-sinyal dari sel-sel syaraf. Otak sendiri adalah kumpulan sel-sel syaraf pusat. Sinyal tersebut berisi informasi denting-denting suara piano yang sudah melalui serangkaian perjalanan. Entah bagaimana caranya sinyal-sinyal syaraf ini dapat merepresentasikan sinyal-sinyal akustik, karena jelas yang ”aku” dengar adalah denting piano akustik dan jelas juga bahwa sinyal-sinyal yang ada di kepala-”ku” adalah sinyal-sinyal syaraf. Bagaimana bisa sinyal syaraf bisa sama dengan denting piano akustik? Tentu bisa, karena meskipun dua hal itu adalah peristiwa fisik yang berbeda, namun keduanya mengandung informasi yang sama. Benarkah? Lalu, bagaimana otak mengekstrak informasi dari sinyal-sinyal syaraf tadi? Bagaimana otak mengetahui bahwa sinyal-sinyal syaraf tersebut benar-benar membawa informasi denting piano yang sesungguhnya? Tapi bagaimana bisa “aku” mendengarkan denting suara “piano”, komposisi musik dan apalagi menikmati keindahannya? ]

”Girl from Ipanema”… Musik yang indah. Ciptaan Jobim. Namun aku justru tidak terlalu menikmati versi aslinya. Musik asli bossanova Jobim seringkali kurang bersemangat, kurang menyentak.

[Yang cukup jelas atau bahkan yang paling jelas adalah: ”Aku”-lah yang mendengarkan lantunan piano jazz dari Massimo Farao. Tidak mungkin salah. Ya, pastilah ”aku” dan bukan ”yang lain” yang sedang mendengarkan denting-denting piano ini. Pasti ”aku”. Tapi, dimanakah ”aku”?]

Tiba-tiba ingat sebuah kalimat dari buku Deepak Chopra: The mystery of God wouldn’t exist if the world wasn’t also a mystery.

3 pemikiran pada “Aku mendengarkan piano jazz, di suatu malam…

  1. Eh… saya suka Girl From Ipanema… itu memang musik yang bagus.
    Mas Budi, numpang berbagi nih… Kalau mau, YIRUMA juga bagus. Musik beliau dalam titel “From The Yellow Room” isinya keren. Sebagai bahan meditasi, ok. Sebagai pengantar makan malam, juga asik. Sebagai teman membaca buku, ga kalah enaknya.
    Apalagi sebagai musik pengantar bercinta… romantis sekali.

    Hehehe.

  2. Ehm. Kalau saya boleh berbagi juga, ada tuh lagu-lagunya Jobim digarap lebih nge-groove. Albumnya A Twist of Jobim. Ini proyek “A Twist of”-nya Lee Ritenour. Jadi kita bisa mendengarkan versi lightnya Bossa Nova.

    Saya paling suka Dindi (kurang tahu siapa vokalnya) yang biasanya dinyanyiin sama Astrud Gilberto dengan lunglai (tapi tetep aja bagus), jadi lebih terasa dinamis (Ada juga lagu ini dinyanyiin sama Meja dengan versi ringan juga). Kalau anda berminat, ini link yang saya temukan tadi: http://chicaluna.multiply.com/music/item/227.

    Selain A Twist of jobim, ada beberapa seri A Twist of, di antaranya adalah A twist of Soul. Itu yang saya tahu, kebetulan punya kasetnya, nemu diskonan Universal Record di Bulletin Graha.

    Matur nuwun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s