Aku adalah sejenis mesin canggih yang sedang menulis?

Bulan-bulan ini seharusnya aku lebih banyak berkutat dengan tesisku. Tapi, yah, ini kecenderungan lama yang kadang menyusahkan tapi lebih sering aku syukuri. Tiap ada kesempatan untuk berpikir dan merenung, kontradiksi-kontradiksi itu itu selalu mendatangiku. Hari ini, kuputuskan untuk mengikuti kecenderunganku, he..he… Jadi pengerjaan tesis aku interrupt sebentar. Mengapa mereka selalu muncul? Menurutku karena aku berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi tersebut setiap hari. Apa yang aku renungkan tidak mengawang-awang dan jauh dari realita. Misalnya masalah ini:

Aku berhadapan dengan dunia benda-benda, biasanya aku menyebutnya dengan dunia materi. Kursi, gedung, kendaraan, komputer, televisi, hujan, petir, gunung, awan, binatang, tumbuhan. Science yang selama ini aku pelajari mengatakan bahwa benda-benda, apapun itu, pasti tersebut tersusun dari materi. Materi-materi tersusun dari atom-atom. Dari ilmu fisika, aku juga tahu bahwa materi dan atom-atom, dari sudut pandang yang lain, dapat aku anggap sebagai gelombang. Karena ada kesetaraan antara materi dan energi, aku juga dapat menganggap materi adalah energi dalam bentuk tertentu. Jadi materi atau energi bagiku adalah sama. Konsep materi ini tentu dalam benakku menyatu dengan konsep ruang dan waktu. Jadi ada materi di dalam kerangka ruang dan waktu. Konsep ini bagiku sangat natural dan telah menjadi anggapan umum (common sense), khususnya untukku yang pernah mempelajari fisika.

Masalahnya adalah, menurut pendapatku, fisika juga mengajarkan secara implisit bahwa, materi atau gelombang atau energi yang berada dalam kerangka ruang dan waktu tersebut mati. Aku memahami konsep mati dan hidup sebagaimana anggapan yang umum berlaku. Jadi atom mati. Kumpulan atom mati. Interaksi antar berbagai materi juga mati. Tapi benarkah demikian? Di lain pihak, aku juga tahu bahwa ada entitas-entitas yang hidup: hewan, tumbuhan, manusia. Bagaimana benda-benda mati dapat berinteraksi dan menghasilkan entitas yang hidup. Mungkinkah rangkaian yang kompleks dari atom-atom dapat menghasilkan dinamika yang sama dengan kehidupan? Aku belum tahu jawabannya. Jika tidak, maka ada inkonsistensi antara dua anggapan umumku yang cukup fundamental, yaitu: (1) dunia tersusun dari materi yang mati, (2) di dalam dunia terdapat tumbuhan, hewan dan manusia yang hidup. Jika benda mati dapat menghasilkan entitas yang hidup, bagaimanakah caranya?

Problem-kontradiksi semacam itulah yang sangat sering hadir dalam pikiranku. Menurutku masalah-masalah ini sangat penting untung difikirkan dan didalami. Aku menyikapi problem-problem tersebut sebagai sebuah misteri yang sangat menarik. Berbagai hal yang misterius ini, uniknya, sangat dekat dengan kehidupanku. Lebih jauh lagi, sudut pandang yang aku ambil terhadap problem-problem ini, menurutku, memiliki implikasi yang luas terhadap cara hidupku secara keseluruhan. Aku ambil contoh: ada atau tidaknya kehendak bebas manusia merupakan sesuatu yang bagiku misterius sekaligus penting. Mengapa penting? Aku yang percaya dengan kehendak bebas manusia tentu akan sangat berbeda dibandingkan dengan aku yang percaya bahwa manusia hanyalah semacam mesin canggih yang seolah-olah hidup. Dasar dari baik-buruk, penegakan hukum, keadilan dan moralitas tentu sangat berkaitan problem kehendak bebas ini. Aku ceritakan dulu mengenai misteri kehendak bebas ini dari sudut pandangku.

Lagi-lagi aku merujuk pada science. Aku percaya bahwa alam mengikuti hukum sebab-akibat. Berbagai cabang science: fisika, kimia, biologi, geologi, astronomi dan lain-lain menempatkan hukum sebab-akibat sebagai prinsip yang paling fundamental (Bagaimana dengan matematika?). Para ahli dan juga semua orang yang mempelajari science memiliki praanggapan atau asumsi dasar bahwa suatu fenomena alam pasti memiliki sebab tertentu. Jadi, mengapa sebuah benda bergerak dengan percepatan tertentu. Karena ada gaya yang bekerja. Mengapa terjadi gempa bumi? Ada beberapa sebab yang mungkin: aktifitas gunung berapi atau pergerakan lempengan bumi. Apa kaitan hal ini dengan problem kehendak bebas? Aku percaya pada hukum sebab akibat, maka aku percaya bahwa tindakan tertentu memiliki sebab tertentu. Mengapa muncul tulisan dari pena yang aku pegang? Karena tanganku yang memegang pena melakukan pola-pola gerakan untuk menghasilkan tulisan. Mengapa tanganku bergerak? Karena sejumlah otot-otot tanganku melakukan kontraksi dengan harmoni dan kombinasi tertentu. Mengapa otot-otot tersebut berkontraksi? Karena ada stimulus dari susunan syaraf yang bersumber dari otak. Otak menghasilkan stimulus ini karena ia memiliki informasi mengenai tujuan dari menulis, materi tulisan dan bagaimana cara menulis. Jadi sebab awal dari tindakan menulis yang kulakukan adalah informasi mengenai tujuan dari menulis, materi tulisan dan cara menulis. Sudut pandang yang lain mungkin menyimpulkan sebab awal yang lain. Sebab awal ini dapat juga berupa reaksi kimia tertentu di otak, pelepasan hormon, dorongan alam bawah sadar atau sesuatu yang lain. Jadi prinsip sebab akibat dari science mengharuskan ada sebab awal tertentu dari tiap fenomena tindakanku. Sebab awal dan juga rantai sebab akibat yang sama persis akan menghasilkan efek tindakan yang sama. Singkatnya, ketika stimulus dari lingkungan adalah A dan kondisi internal tubuhku adalah B maka aku pasti akan menulis. Tidak ada pilihan lain.

Masalahnya adalah: sangat jelas bahwa aku dapat memilih salah satu diantara tindakan menulis atau tidak menulis. Ketika aku memutuskan untuk menulis maka terjadilah aktifitas menulis. Jika aku memilih tidur maka aktifitas menulis tidak akan terjadi. Dengan sebab lingkungan A dan sebab internal B, aku memiliki kebebasan untuk memilih tidur ataupun menulis. Jadi, dari satu sudut pandang, hukum sebab-akibat tidak memberikan pilihan bagiku dan dari sudut yang lain aku yakin dan merasakan bahwa aku memiliki kebebasan memilih. Jadi aku menemukan inkonsistensi antara keberadaan hukum sebab akibat dengan kehendak bebasku. Mana yang benar?

Sebenarnya aku ingin melanjutkan tulisan ini, tapi problem-kontradiksi yang lain tampaknya belum mau muncul di benakku. Jadi, bagi yang membaca tulisan ini, tolong tambahkan problem-problem yang lain. Aku juga sangat membutuhkan komentar untuk dua problem di atas. Sekarang aku mau denger musik dulu, ini pilihanku. Tapi sepertinya lebih enak tidur. Pilih mana ya?

15 pemikiran pada “Aku adalah sejenis mesin canggih yang sedang menulis?

  1. Kalau aku melihatnya begini, ada aktivitas nyata(yang terjadi, seperti: makan, minum, dll), dan ada aktivitas ideal(masih berada di alam pikiran, seperti: ingin makan, ingin minum,dll). Pertanyaannya dimanakah letak hubungan sebab-akibat, nyata atau ideal? Kedua, faktor apakah yang paling dominan? Ketiga, algoritma seperti apakah yang terjadi dalam kepala?

    Kalau algoritmanya linier: jika lapar maka makan. Namun kalau algoritmanya non-linier, jika lapar maka … (jawabannya bisa beragam, makan ataupun tidak makan). Muncul lagi pertanyaan, mungkinkah manusia memiliki sistem yang linier? Aku berpendapat ngga mungkin, karena seteratur apapun orang, pasti ada titik jenuh, tapi menghasilkan kesimpulan baru: manusia memiliki sistem non-linier, dan ini sama seperti paradoks pernyataan: Semua orang adalah pembohong.

  2. Dalam konteks ini, lebih tepat kalau kita melihat manusia sebagai sistem yang deterministik atau undeterministik. Karena dalam konsep yang ada dalam benak saya, sistem linear dan nonlinear sama-sama bersifat deterministik. Jadi jika manusia mengikuti algoritma nonlinear maka tetap saja ia deterministik. Sehingga sebab A yang menjadi input bagi sistem nonlinear B (dalam hal ini manusia) pasti menghasilkan C. Jenis sistem yang lain, misalnya Fuzzy, sebenarnya juga deterministik. Bahkan sistem nonlinear yang chaotic juga deterministik meskipun memiliki dinamika yang kompleks dan hampir tidak mungkin diprediksi. Pembangkitan bilangan random dengan komputer sebenarnya juga menggunakan algoritma yang deterministik, sehingga sistem pembangkitnya sering disebut sebagai pseudo random number generator. Jadi, bagaimana munculnya sesuatu yang undeterministik dalam diri manusia? Dari efek kuantum kah?

  3. Huehehe… jawabannya bisa rada tidak rasional: karena kesurupan. Karena kalau melihat teori-teori psikologi bentuk-bentuk kegilaan yang tidak terduga senantiasa bisa dikaitkan dengan keadaan alam bawah sadar yang menyebabkan seorang melakukan drastis, yang tidak terduga.

    Setau saya, tindakan bunuh diri juga merupakan tindakan yang reaktif, dan banyak dilakukan tanpa perencanaan matang. Namun jika ditilik dari sejarah hidupnya, tetap saja bisa dicari sebuah alasan yang memenuhi rasa ke-psikologian:)

    Kalau melihat logika diatas, saya berkesimpulan ‘undeterministik murni’ hanya bisa terjadi jika melawan hukum alam, dan itu terjadi karena adanya Dzat yang berada diluar hukum alam itu sendiri, ex: jin, dkk.

  4. Undeterministik bukan dalam arti seperti itu, Yuti. Bukan dalam arti tindakan yang di luar kebiasaan atau tidak terduga. Maksudku, jika kita hanya mengikuti hukum sebab-akibat maka semua tindakan manusia akan bersifat deterministik: sebab yang sama akan menghasilkan akibat yang sama (tentu sistem juga sama). Dengan kehendak bebas maka tindakan manusia menjadi undeterministik. Kita mengalami kehendak bebas ini melalui pengalaman langsung (direct experience). Kita selalu memiliki ruang untuk membuat pilihan bebas diantara berbagai alternatif, terlepas dari kondisi eksternal dan kondisi internal yang kita miliki. Tentu semua kondisi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk tindakan kita, namun kita tetap bebas memilih. Trus: perlu dibedakan juga antara:
    “predictable vs unpredictable” dengan “deterministik vs undeterministik”.
    Jadi problem-kontradiksi kehendak bebas masih tetap ada (bener?). Yuti punya alternatif solusi lain?

  5. Menurutku;

    Bukan saja manusia memiliki kesejarahan yang membuatnya terus membentuk rantai sebab-akibat yang pada akhirnya menghasilkan keadaan saat ini. Tetapi juga ada lingkungan di mana lingkungan itu benar-benar memberikan suatu kondisi untuknya, memberikan pengaruh setiap saat, dan dalam waktu yang bersamaan dan dalam batas-batas tertentu juga dipengaruhi olehnya.

    Suatu kejadian sebab-akibat mesti dipandang bukan hanya sebab-akibat yang terjadi dalam kerangka tubuh manusia. Bahkan ia memiliki alam (termasuk dirinya sendiri) sebagai pembatasnya.

    Segala kejadian sebab akibat menyangkut diri kita, yang suatu lompatan kualitatif pertamanya adalah ketika sperma dan ovum orang tua kita bertemu, yang kemudian terus-menerus bertumpuk-tumpuk secara saling mempengaruhi dengan lingkungan, pada akhirnya menghasilkan kita yang saat ini dalam arti benar-benar “saat ini”, di mana “saat ini” akan terus bergerak maju dan meninggalkan “saat ini” yang sebelumnya.

    Setiap pada “saat ini” yang paling akhir itulah, jika kita sungguh dalam keadaan sadar, kita memiliki kehendak bebas untuk melakukan sesuatu. Dalam arti suatu kehendak bebas yang dilakukan oleh “saya” sebagai suatu mahluk yang merupakan bagian dari alam, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya, dan memiliki kesejarahan (tiga detik yang lalu pun bagian dari kesejarahan kita).

    Bukan sebuah kehendak bebas yang sungguh-sungguh bebas, jadinya.

    Kenapa dikatakan “jika kita sungguh dalam keadaan sadar”? Karena dalam psikoanalisis diketahui, bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya menguasai pikiran mereka. Manusia memiliki apa yang tidak disadari (atau dalam bahasa lainnya adalah bawah sadar, unconsciousness, sub-consciousness), dan hal itu sangat berperan dalam menghasilkan tindakan, pikiran, perasaan, pengertian kita ketika kita tidak dalam keadaan “sungguh sadar”.

    Keseleo lidah, dan kebetulan-kebetulan kecil yang dilakukan oleh manusia – sekecil apapun, seluruhnya memiliki makna dan alasan.

    ***

    Eniwe, baru-baru ini ada buku yang cukup berhubungan; “Reason in Revolt – Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern” (Alan Woods & Ted Grant). Buku itu menawarkan dialektika materialisme untuk menjelaskan hal-hal yang semacam ini.

    Kontradiksi adalah penggerak alam.

    camarmerah

  6. Untuk Yuti: Dalam novel Veronica Memutuskan Mati, karya Paulo Coelho, Veronica memutuskan untuk bunuh diri dengan persiapan yang matang. Ia ingin mati dengan tenang. Dan justru, di detik-detik menjelang kematiannya Veronica menemukan arti hidupnya.

  7. manusia adalah kehendak bebas itu sendiri. untuk melakukan apa saja yang dikehendaki dan yang dimaui. bunuh diri adalah kehendak bebas untuk keluar dari batasan fisik yang mengikat antara jasad dan fisik. maka bunuh diri itu adalah sebuah kebebasan, lepas dari keterikatan fisik. karena ide manusia adalah bebas tanpa terikat materi dan bisa menembus ruang dan waktu. tokoh-tokoh besar banyak yang bunuh diri karena ingin bebas. dari penulis, penyanyi, politikus, seniman ingin mati dengan bunuh diri karena bunuh diri adalah pembebasan yang abadi.

  8. Bunuh diri adalah kebebasan, lepas dari keterikatan fisik. Kamu bisa ngomong gini karena tau dari mana? Kalo manusia mampus, ya artinya mampus. Modhar. Kamu bisa ngomong gitu kan karena kamu pake state of mind orang gila yang dengan tanpa dasar apapun menjadikan “jiwa” sebagai sesuatu yang “sudah pasti ada” dan tidak dapat diganggu gugat lagi. Kenyataannya, apa itu “jiwa”? Nothing. Nggak ada itu yang dikatakan sebagai “jiwa”. Jadi kalo kamu bunuh diri, emang betul sih kamu akan bebas dari “keterikatan fisik”, tetapi selain itu juga kamu bebas dari segala yang lainnya, bahkan kamu bebas dari keadaan mengada sebagai kamu. Ngerti yang namanya modhar alias mamphus toh? Modhar ya modhar, ngga lebih dan ngga kurang.

    Sementara “ide” kamu katakan bebas tanpa terikat materi dan bisa menembus ruang dan waktu. Nggak tau kamu itu terlalu kejawen, terlalu hegelian, terlalu religius, atau entah terlalu goblok. Tapi dengan rasio dan nalar yang sederhana, semestinya setiap orang bisa menyimpulkan bahwa adalah tidak mungkin seseorang yang hidup di zaman mesir kuno membicarakan tentang internet. Walaupun material dan jenis energi dasar yang dibutuhkan untuk membrojoli apa yang disebut sebagai “internet” itu akan selalu ada sepanjang segala abad. Ngarti nggak? Kalo kagak, mending cari dukun aja.

    camarmerah

  9. Aku nggak tahu persis tentang kehendak bebas.
    Aku hanya membuat comment pada contohmu tentang sebab akibat. Sebab akibat kalau dalam konsep ideal (sederhana) sangat mudah dipahami. Kaca pecah (akibat) karena dilempar batu (sebab). Tapi dalam real, maka sebab akibat sangat kompleks. Pada kasus kaca dilempar batu, belum tentu berakibat kaca pecah; karena bisa jadi batunya kecil, yang melempar anak-anak, kaca anti peluru, dll. Intinya, pada sistem real, analisa sebab akibat sangat kompleks, karena banyak unsur yang berinteraksi.
    Perlu dicatat juga bahwa “sebab-akibat” tidak bisa dibalik menjadi “akibat-sebab”.
    Terkait tentang manusia, mungkin cukup fatal (terlalu amat sangat menyederhanakan) untuk menganalisa tindakan manusia menggunakan hukum sebab-akibat. Dalam percakapan sehari-hari, dalam bahasa awam sih, boleh-boleh saja kita berbicara sebab akibat. Tapi untuk secara serius, sangat sulit. Tindakan manusia dikendalikan oleh otak/ pemikirannya (kecuali gerak reflek). Otak merupakan sistem yang kompleks yang sampai saat ini belum bisa diketahui manusia (pengetahuan manusia tentang otak masih sangat rendah. Ibaratnya baru kenal: Ini bumi; tapi belum kenal yang namanya pulau kalimantan, belum kenal sungai musi, belum kenal jalan cisitu, dll. Ketika fungsi otak sangat kompleks dan kita masih buta tentangnya, bagaimana mungkin kita bisa menganalisa manusia dengan hukum sebab akibat (ketika tindakan manusia dipengaruhi otak)? Bagaimana mungkin kita bisa memprediksikan bahwa tindakan yang akan diambil adalah tidur atau menulis, sementara kita tidak tahu bagaimana otak bekerja? Hal lain juga, faktor yang mempengaruhi pemikiran begitu banyak (emosi, lingkungan (ini banyak juga macamnya), persepsi, history, dll), sehingga amat sangat menyederhanakan jika mengenakan hukum sebab-akibat pada manusia. Jadi kata-katamu ini “Singkatnya, ketika stimulus dari lingkungan adalah A dan kondisi internal tubuhku adalah B maka aku pasti akan menulis. Tidak ada pilihan lain.” sangat menyederhanakan, dan tidak bisa dijadikan rujukan. Aku tidak mengatakan manusia terlepas dari hukum sebab akibat ya.. Aku hanya bilang “hukum sebab-akibat tidak bisa (karena terlalu sederhana) diterapkan pada manusia”. Dengan demikian tidak ada kontradiksi antara sebab akibat dengan kehendak bebas pada manusia (karena di manusia ada kehendak bebas, tapi tidak ada sebab-akibat).

    Tentang kontradiksi antara materi yang mati dan materi yang hidup, menurutku kita harus hati-hati.
    Materi yang “dikatakan mati” adalah atom, molekul, dan semacamnya. Kemudian yang “dikatakan hidup” adalam sel dan semacamnya. Sel itu sendiri dikatakan hidup karena dia memiliki tanda-tanda hidup, yaitu “bergerak, berkembang biak, dll (lupa aku)”. Perhatikan pada perkembang biakan sel. Perkembang biakan pada intinya adalah membentuk materi (sel) yang sama dengan induknya. Padahal sel itu sebenernya juga terdiri dari susunan atom dan molekul yang “mati”. Dengan demikian, definisi “hidup” adalah menunjuk pada sebuah “proses”. Proses yang mampu memberikan tanda-tanda hidup.
    Jadi ketika kamu membandingkan mati dan hidup, sebenarnya kamu tidak berbicara obyek yang sama. Yang mati adalah materi dasar, sementara yang hidup adalah sebuah proses. Dua hal yang berbeda, dan tentunya tidak bisa dikontradiksikan.
    Please note: bisa jadi jika ada perubahan definisi “hidup” menurut science, maka proses terbentuknya gunung, proses terbentuknya danau, dll akan menghasilkan kesimpulan “bumi itu hidup” atau “tanah itu hidup”.

    Hal yang harus kamu cermati juga adalah ruh/ jiwa. Ketika kamu berbicara tentang material yang mati, kamu belum menyentuh jiwa. Dalam definisi science tentang tanda-tanda kayaknya tidak menyebutkan tentang “jiwa” deh. Tulisan yang bagus tentang jiwa, bisa kamu baca buku “Jiwa yang tenang (an nafsul mutma’innah)” karya Prof. Dasteghib, orang Iran.

  10. bingung???
    saya juga binggung, saya ada, sya berkehendak bebas, tapi ada jaring2 kehidupan tak tampak yang sepertinya selalu mengarahkan pilihan2 yang saya ambil.
    Kalau dilihat dari sudut pandang saya sebagai pelaku, mungkin keputusan2 yang saya ambil akan tampak bebas, tapi klo dilihat dari lingkup yang lebih luas lagi pasti ada path yang mengarahkan saya untuk memutuskan A ketimbang B.

    Ah semoga semua makhluk bahagia dan tercerahkan🙂
    salam kenal

  11. Ping balik: Takdir dan kehendak bebas (lanjutan…), obrolan seputar M Basuki dan Futsal « Hidup ini indah

  12. Does your blog have a contact page? I’m having trouble locating it but, I’d like to shoot you an e-mail.
    I’ve got some suggestions for your blog you might be interested in hearing. Either way, great site and I look forward to seeing it expand over time.

  13. Remember that a patent attorney has to get himself registered
    for practising in the society. Now, to continue your effort
    to get a patent, you wish to present new arguments.
    This would also give a way for certain modifications that you would
    want to create.

  14. Apple’s team of designers and engineers are always working to keep Apple in front of the competition. What do you think Apple has planned for their next i – Phone. Graphene by itself is too fragile and flimsy to use as a direct replacement for ITO glass.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s