Cala Ibi. Nukila Amal tidak sekedar bercerita

Nukila Amal. Entah bagaimana wanita itu meramu kata hingga berpendar, memancar, menjangkau berbagai makna. Seperti punya sumber yang tak habis-habisnya. Seperti ketika ia menceritakan sekumpulan pekerja…, di hotel berbintang

”… Kerah yang menjepit uang di batang leher, kerah terjepit utang, kerah yang memisahkan hati dari kepala, kerah berkancing rapat bersiasat di dalam rapat-rapat, kerah putih yang menunggang kerah biru di atas pelana mesin besi baja efisiensi industri.

Wajah-wajah. Jeruji-jeruji dari duka lara, membujur turun dari dahi ke dagu, dari maskara ke gincu, berbedak kebanggaan tebal-tebal, mengubur luka dalam-dalam. Mengerumuni kenyamanan, mencandu kesibukan. Aku melihat kaki-kaki mereka berseliweran, sepatu-sepatu tak berdebu. (Cala Ibi).

Namun, bagi saya Cala Ibi bukan hanya indah dalam berkata-kata. Sejauh yang saya pahami, Cala Ibi mengungkapkan hutan makna-makna, perlambang yang jalin-menjalin, tanda-tanda atau ayat, yang kita jumpai saat kita mencoba memahami misteri, peristiwa, rahasia alam semesta. Satu makna bisa mengandung makna yang lain, demikian pula dengan pertanda, lambang, konsep, penjelasan. Satu makna mungkin perlu diulang-ulang, untuk membuat kita paham dan untuk mengingatkan.

Jalinan makna dan perlambang ada untuk mengungkap yang Nyata.

[…]Ia diam sejenak, menatap sekeliling, seakan tengah membaca sesuatu di antara rapat dedaunan. Kau menengadah, menatap sebuah pucuk pohon yang berpendaran dengan sekelompok bentuk yang tak kau mengerti, beralih menatap batu bertulisan di dekat kakimu.

Hutan ini yang telah membacakan diri…menyimpan bacaan lain dalam dirinya…bacaan dalam bacaan, ia menunjuk imaji di atas batu. Jarinya berpindah menunjukmu. Kata Maia seperti hutan dalam hutan.[…]

Seringkali, akal tidak cukup, tidak berdaya untuk mengungkap misteri Sang Pencipta, dan Alam Semesta ciptaan-Nya. Tokoh utama, Maya, digambarkan sangat rasional sebagaimana ayahnya. Bersama rasionya, Maya mengalami kebekuan, kebuntuan. Ia terjebak dalam rutinitas pekerjaan

[…] Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours. Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru Alhamdulillah ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan. […]

dan terkurung di kota Jakarta yang digambarkan telah sangat tidak manusiawi.

[…] Ini kota duka. Bisa membuat orang gila.

Mereka menyebutnya ibu kota. Tapi ia telah berubah menjadi seorang pelacur tua yang operasi plastik berkali-kali. […]

Kisah-kisah berikutnya memaksa Maya untuk mulai menerima peristiwa-peristiwa yang di luar logika (yang biasa dia pergunakan). Ia mengalami mimpi-mimpi berseri, yang membawanya untuk menjalani satu persatu misteri. Maya mencatat kisah demi kisah mimpinya, menuruti saran Bibi Tania yang bijak dalam menafsirkan mimpi. Dalam mimpinya Maya berganti menjadi Maia. Mana yang nyata? Maya atau Maia.

Cala Ibi kadang seperti menjelaskan asal muasal pengetahuan manusia, epistimologi. Manusia dapat belajar dari rasio dan juga imajinasi bahkan mimpi. Keduanya saling melengkapi, dua sisi kesadaran manusia. Pertanda, makna, perlambang dapat muncul dari mana saja. Kita harus menajamkan rasa, mencerap semua pengalaman.

[…]Cermati rasa cintamu, Maia, semua rasamu, karena rasa adalah rahim dari segala. Adalah perasaanmu yang mencari fitrah, mendapatkan takdirnya dari pikiran, dua yang berjalinan, dan terlahir jadi kata.[…]

Pada mulanya adalah bukan Kata, tapi Rasa. Adalah Rasa Pertama kemudian melahirkan Pikiran Pertama menjadi Kata yang terucap Lidah Pertama…

Cala Ibi mencakup berbagai kisah: sejarah Maluku, kemurnian kasih orang tua khususnya ibu. Namun yang paling menonjol adalah kisah pencarian jati diri manusia, penyingkapan misteri diri, perjuangan untuk menjadi manusia.

Menurut saya, novel ini sangat kaya, meskipun tidak menganut cara bercerita yang biasa. Seperti tuturan seseorang yang sedang merenung, tercenung, menyelam ke dalam, berjalan-jalan sendiri dan sering juga bicara pada diri sendiri.

30 pemikiran pada “Cala Ibi. Nukila Amal tidak sekedar bercerita

  1. Saya berkeliling Halmahera Utara antara 16 Maret – 04 April 08. Cala Ibi menurut saya (saya tidak begitu mengerti sastra) sangat mistik. Sama persis dengan Halmahera yang sangat mistik. Kita tersesat dan tak mau keluar malah menikmati…

  2. Saya terpukau oleh kata-katanya. Namun saya telah membacanya dua kali, dan tak pernah berhasil mencerna makna yang terkandung di dalamnya

    • cala ibi memang bukan novel konvensional yang seperti cerita sinetron ada drama ,tegangan dan kesimpulan atau bersambung di ada-adakan seperti CINTA FITRI.cala ibi gaya bercerita novel baru pasca ayu utami dengan samannya yang bercerita juga nyaris sama.hanya remy sylado yang kuat dalam perwatakan pada tokoh novel.semua pengarang memiliki gayanya tersendiri dalam bercerita.pasar sastra memiliki keunikan tersendiri.seperti ayat-ayat cinta atau laskar pelangi yang luar biasa di sambut publik dan sukses secara komersil……….

  3. di kedai sinau tinggal 2. di perpustakaan Universitas negeri malang habis. pdhl dulu ada dua.q dah baca, tapi g tuntas. mo pinjam lagi di perpus, tapi buku itu raib.harganya 40ribu.

  4. Greetings! I know this is kinda off topic however , I’d figured I’d
    ask. Would you be interested in trading links or maybe guest authoring a
    blog post or vice-versa? My blog goes over a lot of the same subjects as yours
    and I believe we could greatly benefit from each other.
    If you are interested feel free to shoot me an email.
    I look forward to hearing from you! Terrific blog by the way!

  5. obviously like your website but you need to take a look at the spelling
    on quite a few of your posts. A number of them
    are rife with spelling problems and I find it very troublesome to tell the
    truth on the other hand I’ll surely come again again.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s