Arsip untuk renungan

Ujaran Imam Sadiq

This is a such  beautiful quote:

Imam Sadiq (a) has said: “The number of those who die because of committing sins is larger than the number of those who die because of their natural death, and the number of those who live because of doing good deeds is larger than the number of those who live because of their real age”.

In my opinion, there are some very important views or implications from the quote:

  1. When, how and  where we will die is surely a mystery, but it is not predestined.  There is  causal relationship between our death and our deeds.
  2. We must be carefull in any aspect of our life, because law of causation is not limited in material word, either it is also applied in spiritual world and in any other world that may be exist. There is always  a particular consequence for any action we did.
  3. Morality is not only a convention. It does exist and has its own law.  It is not only other people who could produce morality consequences toward us. Nature could also respond to any our moral action.

Komentar (1)

Menjelang Ramadhan

Beberapa hari lagi Ramadhan tiba. Semoga di bulan Ramadhan ini Allah melindungi aku dari kelalaian dan kelengahan. Semoga Allah selalu memberiku kekuatan untuk mendekat-Nya. Semoga aku selalu bersyukur. Semoga Allah melindungiku dari azab akibat dosa-dosaku. Semoga Allah menggabungkan aku ke dalam umat Rosulullah…

Selamat datang Ramadhan.

Komentar (9)

Pahlawan

Untuk saya, aksi Pak Omsya ini sangat luar biasa. Ketika terjadi kebakaran di rumah majikannya, Pak Omsya ini berani menantang maut untuk menyelamatkan sepasang majikannya yang terjebak di dalam rumah yg terbakar. Berita selengkapnya lihat di sini. Sungguh layak jadi teladan, khususnya di jaman sekarang, di saat segala sesuatu diukur dengan materi dan tindakan tanpa pamrih menjadi sangat langka.

Saya jadi teringat sebuah cerita yg termuat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia semasa SD dulu. Kalau tidak salah, ada kisah yang judulnya Pahlawan Desa. Kisahnya persis seperti yang terjadi dgn Pak Omsya. Ada yg ingat dengan cerita itu?

Komentar (11)

TERROR yg sukses via UN

Sangat prihatin setelah baca berita-berita ini: Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak, Polisi Sita Lembar Jawaban Siswa, Puluhan Peserta Ribut dengan Pengawas Ujian, Penangkapan Densus 88 Dinilai Berlebihan.

Lebih dari sekedar menguji kemampuan akademis siswa, pelaksanaan UN tampaknya juga ditujukan untuk menguji daya tahan siswa, guru dan orang tua siswa dari TERROR. Saya sangat menentang kecurangan di dunia pendidikan dalam bentuk apapun. Namun, apakah perlu Densus 88 turun langsung untuk mengamankan UN? Kenapa tidak sekalian saja menurunkan tentara dgn senjata lengkap sebagai pengawas ujian?

Makin resah setelah membaca ini: Mendiknas Bantah Soal UN Bocor. Apakah membocorkan soal merupakan satu2nya cara untuk curang? Jangan2 kesibukan Mendiknas dari tahun ke tahun hanyalah melaksanakan UN dan mencegah kebocoran UN. Mendiknas tampaknya sangat sukses menjadikan UN sebagai THE ULTIMATE GOAL pendidikan di Indonesia.

Silahkan saja siswa dan guru bekerja sama dalam bentuk apapun (termasuk melaksanakan kecurangan) untuk lulus UN. Tapi ingat, kami tidak segan-segan mengerahkan pasukan anti terror untuk mencegah segala bentuk kecurangan!

Komentar (7)

Tentang bilangan random

Barusan ketemu lagi quote ini:

Anyone who uses arithmetic methods to produce random numbers is in a state of sin (John von Neumann)

Dulu2 sih tidak terlalu menganggap penting maksud dari quote itu. Tapi hari ini beda, kalimat itu terucap berulang-ulang di kepala saya…

Sepertinya ini ada hubungannya dgn hukum sebab akibat, takdir dan kehendak bebas (-topik yg sangat ingin saya tulis tapi belum jadi2 juga…-). Atau ini cuma tentang kriptografi ya…?

Komentar (9)

Mind and Soul

I put my heart and my soul into my work,
and have lost my mind in the process

Vincent Van Gogh

Komentar (5)

Pemblokiran youtube

Baru hari minggu kemarin saya terlibat obrolan dengan Primus tentang rencana pemblokiran youtube akibat ribut2 film Fitna. Sebelumnya saya mendengar bahwa pemerintah hanya berencana memasang flag sebanyak mungkin di situs youtube untuk memaksa youtube agar menghapus film tersebut (Sylvia Sumarlin, lupa sumbernya…). Rencana pemblokiran youtube secara total saya anggap tidak masuk akal. Pemblokiran youtube masih mungkin dilakukan hanya jika terdapat teknik untuk memblokir satu tema content tertentu (dalam kasus ini film Fitna). Ini sangat sulit, dan kalaupun dapat dilakukan, masih bisa diperdebatkan efektifitasnya, dan perlu-tidaknya. Karena, pemblokiran content2 semacam ini seringkali malah menghambat pendewasaan publik.

Dan…, baru hari ini saya menyadari bahwa pemblokiran youtube telah dilakukan (dari blog P BR). Sebenarnya baru beberapa minggu sebelumnya P BR membuka perdebatan yang cukup panjang mengenai efektifitas pemblokiran konten2 porno (di sini). Saya ingat, P BR sangat berkeras menentang pemblokiran ini dengan alasan-alasan yg telah dituliskan di tulisan beliau. Dan minggu ini, prediksi P BR mengenai dampak sensor terhadap internet telah terbukti, yaitu: pemblokiran secara grusa-grusu terhadap konten2 tertentu (yg dari sisi materi konten tersebut masih dpt diperdebatkan efektifitasnya), terhambatnya akses terhadap sejumlah-sangat-besar konten lain yang bermanfaat. P BR tetap kukuh pada pendapatnya, meskipun banyak sekali pihak yg menentang posisi yg beliau ambil. Pada awalnya, saya sempat geleng2 juga melihat dukungan P BR yg (menurut saya) berlebihan terhadap kebebasan internet.

Baru hari ini saya dapat memahami sudut pandang P BR…

Komentar (4)

Konfusius

Dari konfusius:

Kalau orang lain sukses hanya dengan mengerahkan satu upaya, saya akan mengerahkan seratus kali lipat upaya; kalau orang lain sukses dengan mengerahkan sepuluh kali lipat upaya, saya akan mengerahkan seribu kali lipat upaya

Komentar (5)

Tulisan yang Lebih Tua »