Arsip untuk bacaan

Ujaran Imam Sadiq

This is a such  beautiful quote:

Imam Sadiq (a) has said: “The number of those who die because of committing sins is larger than the number of those who die because of their natural death, and the number of those who live because of doing good deeds is larger than the number of those who live because of their real age”.

In my opinion, there are some very important views or implications from the quote:

  1. When, how and  where we will die is surely a mystery, but it is not predestined.  There is  causal relationship between our death and our deeds.
  2. We must be carefull in any aspect of our life, because law of causation is not limited in material word, either it is also applied in spiritual world and in any other world that may be exist. There is always  a particular consequence for any action we did.
  3. Morality is not only a convention. It does exist and has its own law.  It is not only other people who could produce morality consequences toward us. Nature could also respond to any our moral action.

Komentar (1)

Meutya Hafid

168 Jam dalam Sandera

 

Saya sudah membaca buku itu beberapa hari lalu. Bagus banget! Saya selesaikan dalam sekali baca. Buku ini menceritakan tentang pengalaman Meutya Hafidz dan Budiyanto selama disandera di Irak. Kisah penyanderaan! Kisah itu tentu saja kemungkinan besar akan menarik. Tapi, tidak hanya itu!

Meutya sangat pintar menata alur penceritaan. Urutan cerita tidak linear terhadap waktu, melainkan meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian lainnya secara nonlinear (mungkin berbagai penggalan kisah disusun linear berdasarkan emosi). Di awal, Meutya langsung masuk pada drama penculikan. Berikutnya alur cerita mundur ke peristiwa-peristiwa menjelang keberangkatan Meutya dan Budyanto. Terselip juga kisah masa kecil hingga masa remaja dari penulis. Hampir seluruh bagian cerita terhubung secara emosional. Misalnya: ketika Meutya menceritakan kesedihan hatinya saat ayahnya wafat, tiba-tiba alur meloncat kembali kepada drama penyanderaan, lewat sebuah kalimat:

“….Aku tahan tangisku, tapi rasa sakit dan pilu itu justru memuncak. Penyesalan seperti tiada habisnya, mengiris hatiku. Aku masih ingat betul rasa sakit itu, hingga kini. Terasa sangat menyakitkan. Tak ada yang mampu menandingi rasa sakit ini. Tidak para penculik ini. Tidak si Sontoloyo!…

Kisah ini menjadi semakin menarik ketika Meutya menceritakan berbagai kejadian di Studio Metro TV yang berujung pada penunjukan dirinya untuk melakukan liputan di Irak. Gambaran ketegangan yang meliputi seluruh kru Metro TV ketika berita insiden penyanderaan tersebut mereka terima tersaji dengan baik. Nyaris detil. Saya bisa merasakan langsung ketegangan itu.

Tentang cerita penyanderaan itu sendiri, Meutya tidak hanya menceritakan hal-hal mencekam selama penyanderaan. Todongan senjata, suara rentetan tembakan dan hardikan kasar dari salah satu penyandera. Ia juga bertutur tentang terjalinnya persahabatan diantara mereka, semuanya, penyandera maupun yang disandera. Selama penyanderaan ini, Meutya tampaknya telah melalui perjalanan batin yang sangat berharga, mengenali perjuangan dan pengorbanan para mujahiddin, mengenal dirinya sendiri, dan lebih akrab dengan Sang Pencipta.

Satu hal yang membuat saya terkesan, Meutya ternyata mendedikasikan buku ini untuk perjuangan para Mujahiddin, khususnya bagi dua orang sahabat-penculiknya yaitu Ahmad dan Muhammad.

“… Buku ini juga saya tulis untuk perjuangan warga Irak. Juga untuk mereka yang menyandera saya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janji seorang wartawan untuk memberitakan yang berimbang….”

Berdasarkan apa yang dia kisahkan sepanjang buku ini, tampaknya Meutya telah berhasil mengenali kemurnian tujuan perjuangan dari penculik2nya.

Pokoknya bagus. Saya sangat merekomendasikan buku ini (khususnya untuk istriku, he2). Menurut saya, sangat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari tulisan Meutya.

Komentar (17)

Mestakung

Baru saja baca bukunya Pak Yohannes Surya, judulnya Mestakung. Menarik banget buku ini. Pak YS dkk ternyata harus melalui perjuangan yang sangat berat untuk membawa Indonesia meraih juara di arena Olimpiade Fisika Internasional tahun 2006 di Singapura. Salut deh! Baca entri selengkapnya »

Komentar (8)

Cala Ibi. Nukila Amal tidak sekedar bercerita

Nukila Amal. Entah bagaimana wanita itu meramu kata hingga berpendar, memancar, menjangkau berbagai makna. Seperti punya sumber yang tak habis-habisnya. Seperti ketika ia menceritakan sekumpulan pekerja…, di hotel berbintang

… Kerah yang menjepit uang di batang leher, kerah terjepit utang, kerah yang memisahkan hati dari kepala, kerah berkancing rapat bersiasat di dalam rapat-rapat, kerah putih yang menunggang kerah biru di atas pelana mesin besi baja efisiensi industri.

Wajah-wajah. Jeruji-jeruji dari duka lara, membujur turun dari dahi ke dagu, dari maskara ke gincu, berbedak kebanggaan tebal-tebal, mengubur luka dalam-dalam. Mengerumuni kenyamanan, mencandu kesibukan. Aku melihat kaki-kaki mereka berseliweran, sepatu-sepatu tak berdebu. (Cala Ibi).

Namun, bagi saya Cala Ibi bukan hanya indah dalam berkata-kata. Sejauh yang saya pahami, Cala Ibi mengungkapkan hutan makna-makna, perlambang yang jalin-menjalin, tanda-tanda atau ayat, yang kita jumpai saat kita mencoba memahami misteri, peristiwa, rahasia alam semesta. Satu makna bisa mengandung makna yang lain, demikian pula dengan pertanda, lambang, konsep, penjelasan. Satu makna mungkin perlu diulang-ulang, untuk membuat kita paham dan untuk mengingatkan.

Jalinan makna dan perlambang ada untuk mengungkap yang Nyata.

[...]Ia diam sejenak, menatap sekeliling, seakan tengah membaca sesuatu di antara rapat dedaunan. Kau menengadah, menatap sebuah pucuk pohon yang berpendaran dengan sekelompok bentuk yang tak kau mengerti, beralih menatap batu bertulisan di dekat kakimu.

Hutan ini yang telah membacakan diri…menyimpan bacaan lain dalam dirinya…bacaan dalam bacaan, ia menunjuk imaji di atas batu. Jarinya berpindah menunjukmu. Kata Maia seperti hutan dalam hutan.[...]

Seringkali, akal tidak cukup, tidak berdaya untuk mengungkap misteri Sang Pencipta, dan Alam Semesta ciptaan-Nya. Tokoh utama, Maya, digambarkan sangat rasional sebagaimana ayahnya. Bersama rasionya, Maya mengalami kebekuan, kebuntuan. Ia terjebak dalam rutinitas pekerjaan

[...] Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours. Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru Alhamdulillah ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan. [...]

dan terkurung di kota Jakarta yang digambarkan telah sangat tidak manusiawi.

[...] Ini kota duka. Bisa membuat orang gila.

Mereka menyebutnya ibu kota. Tapi ia telah berubah menjadi seorang pelacur tua yang operasi plastik berkali-kali. [...]

Kisah-kisah berikutnya memaksa Maya untuk mulai menerima peristiwa-peristiwa yang di luar logika (yang biasa dia pergunakan). Ia mengalami mimpi-mimpi berseri, yang membawanya untuk menjalani satu persatu misteri. Maya mencatat kisah demi kisah mimpinya, menuruti saran Bibi Tania yang bijak dalam menafsirkan mimpi. Dalam mimpinya Maya berganti menjadi Maia. Mana yang nyata? Maya atau Maia.

Cala Ibi kadang seperti menjelaskan asal muasal pengetahuan manusia, epistimologi. Manusia dapat belajar dari rasio dan juga imajinasi bahkan mimpi. Keduanya saling melengkapi, dua sisi kesadaran manusia. Pertanda, makna, perlambang dapat muncul dari mana saja. Kita harus menajamkan rasa, mencerap semua pengalaman.

[...]Cermati rasa cintamu, Maia, semua rasamu, karena rasa adalah rahim dari segala. Adalah perasaanmu yang mencari fitrah, mendapatkan takdirnya dari pikiran, dua yang berjalinan, dan terlahir jadi kata.[...]

Pada mulanya adalah bukan Kata, tapi Rasa. Adalah Rasa Pertama kemudian melahirkan Pikiran Pertama menjadi Kata yang terucap Lidah Pertama…

Cala Ibi mencakup berbagai kisah: sejarah Maluku, kemurnian kasih orang tua khususnya ibu. Namun yang paling menonjol adalah kisah pencarian jati diri manusia, penyingkapan misteri diri, perjuangan untuk menjadi manusia.

Menurut saya, novel ini sangat kaya, meskipun tidak menganut cara bercerita yang biasa. Seperti tuturan seseorang yang sedang merenung, tercenung, menyelam ke dalam, berjalan-jalan sendiri dan sering juga bicara pada diri sendiri.

Komentar (7)