Sangat prihatin setelah baca berita-berita ini: Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak, Polisi Sita Lembar Jawaban Siswa, Puluhan Peserta Ribut dengan Pengawas Ujian, Penangkapan Densus 88 Dinilai Berlebihan.
Lebih dari sekedar menguji kemampuan akademis siswa, pelaksanaan UN tampaknya juga ditujukan untuk menguji daya tahan siswa, guru dan orang tua siswa dari TERROR. Saya sangat menentang kecurangan di dunia pendidikan dalam bentuk apapun. Namun, apakah perlu Densus 88 turun langsung untuk mengamankan UN? Kenapa tidak sekalian saja menurunkan tentara dgn senjata lengkap sebagai pengawas ujian?
Makin resah setelah membaca ini: Mendiknas Bantah Soal UN Bocor. Apakah membocorkan soal merupakan satu2nya cara untuk curang? Jangan2 kesibukan Mendiknas dari tahun ke tahun hanyalah melaksanakan UN dan mencegah kebocoran UN. Mendiknas tampaknya sangat sukses menjadikan UN sebagai THE ULTIMATE GOAL pendidikan di Indonesia.
Silahkan saja siswa dan guru bekerja sama dalam bentuk apapun (termasuk melaksanakan kecurangan) untuk lulus UN. Tapi ingat, kami tidak segan-segan mengerahkan pasukan anti terror untuk mencegah segala bentuk kecurangan!
Iwan Awaludin berkata
Itu bukan petugas anti teror, tapi anti telor hehehe
chikaradirghsa berkata
kacow.
penekanannya salah, sibuk bikin teror untuk mencegah kecurangan, padahal masalahnya bukan di situ. sistem pendidikannya yang ga beres!
gimana nih indonesia… [sigh...]
angger berkata
teror demi teror harus dilatih
biar siap
bila sewaktu-waktu diperlukan
indra kh berkata
waduh berlebihan kalau pake densus segala.
gajahkurus berkata
wew…jadi “nyontek” pun bisa dikategorikan tindakan teroris ya
Rindu berkata
UN setiap tahun selalu meninggalkan masalah yang terulang lagi dan lagi… bikin stress memang.
themulya berkata
kuncinya kejujuran.
dari guru dan murid.