Ada diskusi yg menarik dengan Taufik ketika komen di sini. Karena komennya menarik, maka saya posting jawaban saya sebagai posting, supaya bisa didiskusikan lebih lanjut…
Teoriku dulu yg gimana sih? Sorry lupa…
Setuju! Aku juga termasuk yang sepakat bahwa manusia menguasai ketrampilan dengan menempuh berbagai cara yang berbeda, termasuk bisa/tahu tanpa referensi sebelumnya.
Menurutku fiq, bahkan hampir seluruh pengetahuan atau ide baru merupakan ilham. Jadi semacam lompatan dari akumulasi pengetahuan sebelumnya. Bukan berarti pengetahuan sebelumnya tidak berperan, ya. Pengetahuan sebelumnya berperan untuk menciptakan kondisi, agar kita siap menerima pengetahuan baru. Hal ini terjadi untuk semua kasus penemuan baru, bahkan termasuk teori-teori matematika yang kelihatannya sangat sistematis. Dalam matematika, teori-teori baru muncul seperti ilham. Yang sering menggunakan cara sistematis adalah pembuktian kebenaran teori matematika itu (meskipun kadang pembuktian ini juga menggunakan cara-cara yang berbeda juga).
Aku dulu bisa memencet not yang tepat mengikuti sebuah lagu tanpa ada yg mengajari sebelumnya. Bahkan di keluargaku, setahuku tidak ada yg bisa main musik. Baru belakangan aku tahu bahwa bapakku ternyata jago main harmonika. Tapi karena aku tidak belajar musik secara sungguh, akhirnya bakat itu tidak berkembang.
Selain bukti-bukti dari pengalaman kita, sebenarnya ada penelitian ilmiah yg sangat kuat mengenai hal ini, namun agak spesifik dalam ilmu linguistik. Pencetus teori ini adalah Noam Chomsky (ada buku kartunnya: noam chomsky for beginner…). Ia berpendapat bahwa anak-anak dalam masa perkembangan mempelajari bahasa tidak hanya dengan mendengar atau mencontoh percakapan orang-orang di sekitarnya. Anak-anak akan menciptakan grammar untuk mengetahui grammar. Mereka mengetahui cara-cara penggunaan kata dan cara mengkombinasikan satu kata dengan yg lainnya tanpa diajari. Menurut penelitian chomsky, percakapan orang-orang hanya mengajarkan terlalu sedikit contoh dibandingkan dengan tingkat penguasaan normal bahasa pada anak-anak.
Trus, manusia memang tidak kalah dari komputer, meskipun Gary Kasparov kalah main catur lawan Deep Blue atau komputer genome menemukan berbagai kombinasi gen yg tidak terbayangkan sebelumnya oleh manusia.
Tentang mesin catur, ada hal menarik yang dikemukakan oleh Gary Kasparov ketika kalah dari Deep Blue. Kasparov sangat curiga bahwa deep blue dibantu manusia. Kenapa demikian? Menurut Kasparov Deep Blue melakukan langkah-langkah yang kreatif, tidak sistematis seperti yang diduga sebelumnya. Ada satu lagi kisah tentang mesin catur Fruit. Ketika terjadi pertandingan antara dua orang GM (sy lupa namanya, nanti saya cari referensinya), pemain yg kalah saat itu curiga bahwa lawannya dibantu oleh Fruit, karena berdasarkan analisa, langkah-langkah yang dilakukan lawannya tersebut sama persis dengan yg disarankan oleh mesin Fruit (analisa ini dilakukan setelah pertandingan). Namun ada argumen yg menarik untuk menjawab kecurigaan tersebut. Dari database pertandingan catur, ada pertandingan di tahun 1900 (antar siapa nanti saya cek lg referensinya…) dengan si pemenang melakukan langkah-langkah yg juga persis sama dengan yang disarankan Fruit. Ini terjadi hampir 100 tahun sebelum Fruit ada.
Meskipun saya menemukan bukti bahwa mesin dapat melakukan langkah-langkah catur yg kreatif, saya tetap berpendapat bahwa mesin tidak menciptakan ide baru seperti manusia. Alasannya hampir sama dengan yang sudah dikemukakan taufik dalam komen di atas.





