Arsip untuk Desember, 2007

Bagaimana kita belajar? (ngobrol2 tentang teori pengetahuan)

Ada diskusi yg menarik dengan Taufik ketika komen di sini. Karena komennya menarik, maka saya posting jawaban saya sebagai posting, supaya bisa didiskusikan lebih lanjut…

Teoriku dulu yg gimana sih? Sorry lupa…

Setuju! Aku juga termasuk yang sepakat bahwa manusia menguasai ketrampilan dengan menempuh berbagai cara yang berbeda, termasuk bisa/tahu tanpa referensi sebelumnya.

Menurutku fiq, bahkan hampir seluruh pengetahuan atau ide baru merupakan ilham. Jadi semacam lompatan dari akumulasi pengetahuan sebelumnya. Bukan berarti pengetahuan sebelumnya tidak berperan, ya. Pengetahuan sebelumnya berperan untuk menciptakan kondisi, agar kita siap menerima pengetahuan baru. Hal ini terjadi untuk semua kasus penemuan baru, bahkan termasuk teori-teori matematika yang kelihatannya sangat sistematis. Dalam matematika, teori-teori baru muncul seperti ilham. Yang sering menggunakan cara sistematis adalah pembuktian kebenaran teori matematika itu (meskipun kadang pembuktian ini juga menggunakan cara-cara yang berbeda juga).
Aku dulu bisa memencet not yang tepat mengikuti sebuah lagu tanpa ada yg mengajari sebelumnya. Bahkan di keluargaku, setahuku tidak ada yg bisa main musik. Baru belakangan aku tahu bahwa bapakku ternyata jago main harmonika. Tapi karena aku tidak belajar musik secara sungguh, akhirnya bakat itu tidak berkembang.

Selain bukti-bukti dari pengalaman kita, sebenarnya ada penelitian ilmiah yg sangat kuat mengenai hal ini, namun agak spesifik dalam ilmu linguistik. Pencetus teori ini adalah Noam Chomsky (ada buku kartunnya: noam chomsky for beginner…). Ia berpendapat bahwa anak-anak dalam masa perkembangan mempelajari bahasa tidak hanya dengan mendengar atau mencontoh percakapan orang-orang di sekitarnya. Anak-anak akan menciptakan grammar untuk mengetahui grammar. Mereka mengetahui cara-cara penggunaan kata dan cara mengkombinasikan satu kata dengan yg lainnya tanpa diajari. Menurut penelitian chomsky, percakapan orang-orang hanya mengajarkan terlalu sedikit contoh dibandingkan dengan tingkat penguasaan normal bahasa pada anak-anak.

Trus, manusia memang tidak kalah dari komputer, meskipun Gary Kasparov kalah main catur lawan Deep Blue atau komputer genome menemukan berbagai kombinasi gen yg tidak terbayangkan sebelumnya oleh manusia.

Tentang mesin catur, ada hal menarik yang dikemukakan oleh Gary Kasparov ketika kalah dari Deep Blue. Kasparov sangat curiga bahwa deep blue dibantu manusia. Kenapa demikian? Menurut Kasparov Deep Blue melakukan langkah-langkah yang kreatif, tidak sistematis seperti yang diduga sebelumnya. Ada satu lagi kisah tentang mesin catur Fruit. Ketika terjadi pertandingan antara dua orang GM (sy lupa namanya, nanti saya cari referensinya), pemain yg kalah saat itu curiga bahwa lawannya dibantu oleh Fruit, karena berdasarkan analisa, langkah-langkah yang dilakukan lawannya tersebut sama persis dengan yg disarankan oleh mesin Fruit (analisa ini dilakukan setelah pertandingan). Namun ada argumen yg menarik untuk menjawab kecurigaan tersebut. Dari database pertandingan catur, ada pertandingan di tahun 1900 (antar siapa nanti saya cek lg referensinya…) dengan si pemenang melakukan langkah-langkah yg juga persis sama dengan yang disarankan Fruit. Ini terjadi hampir 100 tahun sebelum Fruit ada.

Meskipun saya menemukan bukti bahwa mesin dapat melakukan langkah-langkah catur yg kreatif, saya tetap berpendapat bahwa mesin tidak menciptakan ide baru seperti manusia. Alasannya hampir sama dengan yang sudah dikemukakan taufik dalam komen di atas.

Komentar (9)

Ayo naik sepeda!

Alfia sedang mencoba cara baru untuk naik sepeda roda tiga.

dsc00228.jpg 100_3424.jpg

Komentar (6)

Takdir dan kehendak bebas (lanjutan…), obrolan seputar M Basuki dan Futsal

Berniat melanjutkan tulisan di sini dan di sini dengan sedikit diskusi (karena belum sempat nulis selengkapnya euy…).

Kemarin ngobrol-ngobrol dengan M Rayyan, tentang meninggalnya pelawak Basuki (ikut bela sungkawa…, saya selalu salut dengan kegigihan seniman seperti beliau). Dari yg saya baca, Mas Basuki ini meninggal saat bermain futsal. Begini isi ngobrol-ngobrolnya… Waktu itu saya katakan bahwa kita (khususnya saya) harus hati-hati nih kalau main futsal. Jangan memaksakan diri dan jangan lupa pemanasan dulu (…kebetulan setiap sabtu pagi tim kami dan tim Indocisc main futsal bareng). Tujuannya untuk memperkecil risiko kejadian serangan jantung seperti yang dialami M Basuki (Benyamin S juga??). Saat itu M Rayyan menjawab bahwa itu semua kan sudah takdir. Jadi ya memang sudah seperti itu yang harus terjadi. Upaya apapun tidak akan menunda atau mengajukan saat kematian kita.

Benarkah demikian? Benarkah waktu kematian itu sudah ditentukan tanpa bisa diubah-ubah lagi? Apakah benar bahwa sebagian dari peristiwa-peristiwa yang kita alami merupakan takdir yang sama sekali tidak dapat diubah (…seperti sering kita baca dan dengar dalam pelajaran agama bahwa jodoh, kematian dan rizki sudah digariskan, mohon bantuan referensi hadisnya ya…) dan sebagian lainnya dapat diubah. Kalau memang ada pembagian seperti itu, apa perbedaan mendasar antara dua kelompok peristiwa tersebut?

Beberapa minggu yang lalu seorang tetangga saya meninggal dalam usia yang masih sangat muda karena kecelakaan lalu lintas (..semoga diterima ke hadirat-Nya). Sebut saja namanya Arman. Saat itu, sekitar pukup 06.00, dia sempat mampir ke rumah Pak Asep, tetangga saya yang lain. Mereka sempat ngobrol-ngobrol selintas. Sesaat kemudian Arman beranjak keluar, mengambil motor dari rumahnya, dan pergi (kabarnya ke Gasibu. Saat itu hari minggu). Pada pukul 06.30, kami mendengar pengumuman dari Masjid sebelah bahwa Arman telah meninggal karena kecelakaan di jalan Supratman (di dekat Pusdai). Kejadian ini sangat mengejutkan kami, tetangga-tetangga Arman. Saya sempat berandai-andai.., seandainya Arman tidak pergi ke Gasibu…, seandainya dia barang sedikit lebih lama ngobrol dengan P Asep, seandainya Arman lebih berhati-hati mengendarai motornya, andai…

Dan saya merenung lebih jauh…

Saya mulai berasumsi bahwa memang benar saat kematian telah ditetapkan tanpa bisa diubah lagi. Karena itu tidak ada upaya apapun yang dapat mengubahnya. Kita tidak dapat mengutak-atik rantai sebab akibat yang berujung pada kematian. Jadi ya, takdir memang sudah menggariskan Arman meninggal saat itu. Segala pengandaian saya di atas tidak ada gunanya, apapun yg terjadi, Arman memang akan meninggal di Minggu pagi itu. Demikian juga dengan Mas Basuki, apapun yang beliau lakukan, pemanasan, atau bahkan menghindari permainan Futsal, beliau tetap akan meninggalkan kita, tepat seperti yang telah terjadi, beberapa hari yang lalu.

Renungan berlanjut…

Namun saya juga mencoba melihat perspektif yang lain. Coba simak ini:

Kematian akibat penyakit campak mengalami penurunan drastis, yakni 48 persen dalam tempo enam tahun terakhir, menyusul keberhasilan program imunisasi global. (link di sini)

Angka kematian ibu melahirkan di Jakarta Utara menunjukan penurunan yang signifikan Hal ini disebabkan selain semakin meningkatnya kesadaran kaum ibu menjaga kesehatan dan janinnya, juga karena semakin baiknya pelayanan kesehatan terhadap ibu selama hamil. (link di sini)

Juga ini…

Gaya hidup dan pola makan terbukti memperpanjang usia. Setelah Lembah Hunza tersentuh modernisasi sebagai dampak pembangunan jalan raya yang menghubungkan Pakistan dan Cina, konsumsi junk food meningkat di kalangan penduduk Hunza. Akibatnya, pola penyakit bergeser dari diare dan patah tulang akibat jatuh dari tebing menjadi tekanan darah tinggi, gangguan jantung, dan kanker seperti yang dialami penduduk di belahan bumi lain…..

Contoh sikap mental yang menentukan umur panjang tampak dari ucapan Setsuko Miyasato, wanita usia 90 tahun, yang tiap hari terlihat mendirikan sendiri lapak buah dan sayurannya. “Tiap pagi saya bangun dan bersyukur masih hidup dan sehat. Jangan terlalu khawatir mengenai hari esok, jangan terlalu serius, jangan terlalu banyak berpikir. Bernyanyi dan mainkan musik.”

Hal serupa terjadi pada penduduk muda Okinawa yang usia harapan hidupnya cenderung menurun karena terpapar pola makan tinggi lemak, seperti hamburger dan daging babi. Begitu pula penduduk Okinawa yang bermigrasi ke Brazilia untuk bekerja di perkebunan karet. Mereka makan banyak daging karena banyak tersedia dan murah. Akibatnya, usia harapan hidup mereka jauh lebih rendah daripada saudaranya di tanah asal. (link di sini)

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa ada upaya-upaya yang dapat kita lakukan untuk memperpanjang umur. Pada mulanya saya memang sepenuhnya meyakini bahwa waktu kematian memang sudah ditentukan tanpa dapat diubah lagi.

Dengan hanya mengamati perjalanan hidup seorang individu, saya tidak akan dapat membuktikan bahwa suatu upaya tertentu berkorelasi dengan panjangnya umur individu tersebut. Jika individu tersebut meninggal dalam usia lanjut atau dengan kata lain panjang umur, saya tidak dapat membuktikan bahwa hal itu disebabkan karena gaya hidup sehat yang dilakukannya. Saya juga tidak dapat membantah pernyataan bahwa individu tersebut panjang umur karena memang demikianlah takdirnya, bukan karena berbagai upaya hidup sehat yang telah dia lakukan. Pernyataan terakhir sering dikemukakan dengan fakta tambahan: “ada juga orang lain yang telah melakukan gaya hidup sehat toh tetap saja mati muda“. Mumet kan…

Namun, jika kita melihat fakta-fakta tersebut secara statistik, yaitu dengan mengamati sekelompok individu, kita dapat membuktikan bahwa tindakan-tindakan tertentu ternyata dapat berkorelasi dengan meningkatnya usia harapan hidup seperti yang diperlihatkan dalam kutipan-kutipan di atas.

Jadi, saya dapat menyimpulkan beberapa hal berikut:

Melakukan pemanasan yang cukup sebelum bermain futsal sangat penting untuk meminimalkan risiko serangan jantung mendadak.

Jika ingin berumur panjang hendaknya anda selalu berhati-hati dalam mengemudikan sepeda motor atau mobil anda. dll…

jogging_2550.jpg

Kemudian, saya juga percaya bahwa hukum sebab akibat tidak hanya terbatas pada hal-hal material. Saya pernah mendengar hadis berikut (sekali lagi mohon bantuan referensinya…): sambunglah selalu tali silaturahmi, karena silaturahmi dapat memperpanjang umur. Jadi, menurut saya, terdapat berbagai ikhtiar yang dapat kita lakukan untuk memperpanjang umur kita. Dengan kehendak bebas, manusia dapat memilih untuk melakukan upaya-upaya untuk memperpanjang umurnya.

Note: argumen (melalui bukti statistik) yang saya kemukakan sama sekali bukan hal baru. Khusus tentang kematian, argumen ini seringkali saya lupakan/abaikan karena pernyataan bahwa saat kematian merupakan takdir yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sudah menjadi semacam dogma dalam benak saya.

Hanya Allah yg Maha Tahu

Komentar (13)

Jalan-Jalan ke Bakmi Jogja

Tentang jalan-jalan malam beberapa waktu yang lalu

Sebenarnya ini sudah jam 20.15. Belum larut sih. Sebenarnya ingin jalan-jalan, sayangnya udara malam Bandung sedang lumayan dingin. Akhirnya, saya ajak istri jalan-jalan ke toko buku Toga Mas Jl. Supratman di dekat rumah kontrakan kami. Cukup jalan kaki, karena hanya berjarak kurang lebih 150 meter. Alfia dan Mbak Nita ikutan juga. Putar-putar sebentar dan membeli beberapa buku: Komik Budha, 168 Jam dalam Sandera, dan beberapa buku lain (lupa euy).

Trus, tiba-tiba muncul ide untuk mampir ke Bakmi Jogja di Jl. Bengawan. Dekat sih. Tambah 100an meter jalan kaki. Suasana tempat makan ini cukup khas, ada nuansa gamelan Jawa dan alunan wayang kulit. Niatnya hanya untuk membeli wedang ronde. Ini foto-fotonya:

dsc00203.jpg dsc00205.jpg

Komentar (19)

Meutya Hafid

168 Jam dalam Sandera

 

Saya sudah membaca buku itu beberapa hari lalu. Bagus banget! Saya selesaikan dalam sekali baca. Buku ini menceritakan tentang pengalaman Meutya Hafidz dan Budiyanto selama disandera di Irak. Kisah penyanderaan! Kisah itu tentu saja kemungkinan besar akan menarik. Tapi, tidak hanya itu!

Meutya sangat pintar menata alur penceritaan. Urutan cerita tidak linear terhadap waktu, melainkan meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian lainnya secara nonlinear (mungkin berbagai penggalan kisah disusun linear berdasarkan emosi). Di awal, Meutya langsung masuk pada drama penculikan. Berikutnya alur cerita mundur ke peristiwa-peristiwa menjelang keberangkatan Meutya dan Budyanto. Terselip juga kisah masa kecil hingga masa remaja dari penulis. Hampir seluruh bagian cerita terhubung secara emosional. Misalnya: ketika Meutya menceritakan kesedihan hatinya saat ayahnya wafat, tiba-tiba alur meloncat kembali kepada drama penyanderaan, lewat sebuah kalimat:

“….Aku tahan tangisku, tapi rasa sakit dan pilu itu justru memuncak. Penyesalan seperti tiada habisnya, mengiris hatiku. Aku masih ingat betul rasa sakit itu, hingga kini. Terasa sangat menyakitkan. Tak ada yang mampu menandingi rasa sakit ini. Tidak para penculik ini. Tidak si Sontoloyo!…

Kisah ini menjadi semakin menarik ketika Meutya menceritakan berbagai kejadian di Studio Metro TV yang berujung pada penunjukan dirinya untuk melakukan liputan di Irak. Gambaran ketegangan yang meliputi seluruh kru Metro TV ketika berita insiden penyanderaan tersebut mereka terima tersaji dengan baik. Nyaris detil. Saya bisa merasakan langsung ketegangan itu.

Tentang cerita penyanderaan itu sendiri, Meutya tidak hanya menceritakan hal-hal mencekam selama penyanderaan. Todongan senjata, suara rentetan tembakan dan hardikan kasar dari salah satu penyandera. Ia juga bertutur tentang terjalinnya persahabatan diantara mereka, semuanya, penyandera maupun yang disandera. Selama penyanderaan ini, Meutya tampaknya telah melalui perjalanan batin yang sangat berharga, mengenali perjuangan dan pengorbanan para mujahiddin, mengenal dirinya sendiri, dan lebih akrab dengan Sang Pencipta.

Satu hal yang membuat saya terkesan, Meutya ternyata mendedikasikan buku ini untuk perjuangan para Mujahiddin, khususnya bagi dua orang sahabat-penculiknya yaitu Ahmad dan Muhammad.

“… Buku ini juga saya tulis untuk perjuangan warga Irak. Juga untuk mereka yang menyandera saya, Jaish Al Mujahideen, sebagai pemenuhan janji seorang wartawan untuk memberitakan yang berimbang….”

Berdasarkan apa yang dia kisahkan sepanjang buku ini, tampaknya Meutya telah berhasil mengenali kemurnian tujuan perjuangan dari penculik2nya.

Pokoknya bagus. Saya sangat merekomendasikan buku ini (khususnya untuk istriku, he2). Menurut saya, sangat banyak pelajaran yang dapat kita petik dari tulisan Meutya.

Komentar (17)