Keanehan dalam kompetisi layanan akses broadband

Sedang kepikiran untuk berlangganan broadband. Karena perilaku kerja saya yang sering pindah-pindah tempat (Biasanya sih nyari cafe relatif murah dan milih tempat duduk di pojokan sehingga sekaligus bisa mengamati orang-orang yang lalu lalang) maka rencananya saya akan berlangganan hsdpa. Beberapa alternatif penyedia hsdpa adalah: indosat, excel dan telkomsel.

Setelah melihat berbagai alternatif tersebut, saya melihat beberapa hal yang menurut saya aneh:

1. Tarif akses broadband 3.5 G hsdpa yang murah dan optimal (cukup untuk menciptakan booming) adalah: 200 ribu/bulan, unlimited. Anehnya, belum ada operator yang berani memasang tarif dengan harga itu. Di sisi lain saya melihat perang harga dalam layanan voice semakin menggila. Mengapa tidak ada operator yang dengan cepat mengambil kesempatan untuk menjadi leader dalam layanan mobile 3.5G (saat ini hsdpa)?

2. Ada beberapa operator yang menawarkan layanan diskon 3.5 G yang menurut saya tanggung. Indosat menawarkan paket diskon (modem murah atau gratis, saat ini harga di pasaran masih relatif mahal) dengan syarat pelanggan harus menandatangani kontrak berlangganan selama dua tahun dan harus memiliki kartu kredit. Layanan ini gagal booming karena sebagian besar pelanggan keberatan dengan masa kontrak dua tahun. Kontrak 2 tahun melebihi batas psikologis untuk ditoleransi oleh pelanggan.

Excel menawarkan paket yang lebih murah (modem murah, harga lebih murah dari indosat) dengan kontrak berlangganan 1 tahun. Namun, ketika saya menyatakan setuju untuk berlangganan, ternyata stok modem yang murah sudah tdk tersedia. Mereka sanggup memesan lagi paling cepat dalam satu bulan. Saya batal berlangganan karena malas menunggu terlalu lama

Telkomsel, menyediakan layanan bertarif Time-Based. Menurut prediksi saya, layanan ini tidak mungkin booming karena perilaku pengguna internet sekarang tidak kompatibel dengan pembayaran secara time-based. Sebagian besar pengguna mengakses internet secara kontinyu dan dalam waktu lama ketika bekerja dengan menggunakan komputer atau notebook, misal: menulis di blog, mencari referensi sekaligus menulis artikel, mengaktifkan yahoo massanger dll.

Jadi semuanya masih serba tanggung! Aneh. Menurut saya ada beberapa sebab yang mungkin:

1. Jaringan mereka belum siap untuk menangani booming pelanggan yang sangat tinggi. Jadi, hambatan2 di atas disengaja untuk mengendalikan kenaikan jumlah pelanggan.

2. Operator tidak siap dengan kemungkinan terjadinya kanibalisme antara bisnis broadband dengan layanan voice-sms. Jika broadband sudah murah, maka pengguna layanan VoIP, yahoo massenger, email secara mobile akan meningkat secara drastis. Hal ini tentu membahayakan bisnis lama mereka. Alternatif kedua ini yang menurut saya paling masuk akal.

Di masa depan akses terhadap jalur broadband yang murah akan menjadi komoditas. Hal ini tidak akan dapat dilawan oleh operator-operator tersebut. Jika akses tidak tersedia melalui layanan 3.5 G atau 4 G yang murah, maka akses tersebut tetap akan sampai ke publik dengan cara lain, misal WiMax. Jadi, untuk operator2 tersebut, masih mau menunggu lagi?

4 Komentar »

  1. adit berkata

    bagaimana dengan layanan baru fastnet ?, itu juga murah …. tetapi tidak diketahui bagaimana kualitas pelayanannya, khususnya kalo pelanggannya udah banyak ….

  2. wienur berkata

    Mau beli modem juga maju mundur, jadi enggak -jadi enggak….
    masih bingung juga nich….
    kalo denger ceritanya kok serba naggung gitu…

  3. indra kh berkata

    Nah itulah, mas sekarang operator malah berlomba-lomba perang tarif, bahkan hingga Rp. 1/detik. Padahal pasar layanan data saat ini kian menjanjikan, makin banyak yang butuh (termasuk saya :D ). Semoga saja harganya bisa makin terjangkau.

  4. roisz berkata

    terkadang persaingan yang superketat akan berimbas keuntungan bagi sisi pelanggan.

    saya sendiri hendak berlangganan, tapi masih bingung yang mana, terlebih dengan isi kantong yang pas-pasan.

    murah, meriah, tapi dapat diandalkan (walau biasanya harga tak pernah berdusta)

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar