Arsip untuk Juli, 2006

Tugas dan stres

Aku sedang menyiapkan diriku untuk menghadapi stres di hari-hari mendatang. Biasa…, menangani kerjaan tim proyek yang krisis. Aku harus turun tangan dan semoga semuanya bisa baik.

Menghadapi stres?

Aku memulai dengan berusaha menyadari dan mengakui semua yang aku rasakan. Ternyata dalam diriku ada rasa takut, cemas, semangat, optimis, campur-campur… Dengan mengakui dan menyadari semuanya aku berharap dapat menghadapi kondisi internal diriku secara tepat, menilai mana-mana yang positif ataupun negatif. Biasanya kondisi internal ini yang membuatku kadang tidak tahan stres. Kemudian aku mulai menjalankan tugas-tugasku, sambil tetap sadar, awas dan waspada dengan semua sinyal internal dari dalam diriku.

Kadang  muncul juga: sekilas sombong…, menyalahkan orang lain… Yang negatif-negatif gini harus dimusnahkan pelan-pelan. Allah, ampuni aku, sertai aku untuk mengalahkan diriku..

Tinggalkan sebuah Komentar

Aku adalah sejenis mesin canggih yang sedang menulis?

Bulan-bulan ini seharusnya aku lebih banyak berkutat dengan tesisku. Tapi, yah, ini kecenderungan lama yang kadang menyusahkan tapi lebih sering aku syukuri. Tiap ada kesempatan untuk berpikir dan merenung, kontradiksi-kontradiksi itu itu selalu mendatangiku. Hari ini, kuputuskan untuk mengikuti kecenderunganku, he..he… Jadi pengerjaan tesis aku interrupt sebentar. Mengapa mereka selalu muncul? Menurutku karena aku berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi tersebut setiap hari. Apa yang aku renungkan tidak mengawang-awang dan jauh dari realita. Misalnya masalah ini: Baca entri selengkapnya »

Komentar (11)

Cala Ibi. Nukila Amal tidak sekedar bercerita

Nukila Amal. Entah bagaimana wanita itu meramu kata hingga berpendar, memancar, menjangkau berbagai makna. Seperti punya sumber yang tak habis-habisnya. Seperti ketika ia menceritakan sekumpulan pekerja…, di hotel berbintang

… Kerah yang menjepit uang di batang leher, kerah terjepit utang, kerah yang memisahkan hati dari kepala, kerah berkancing rapat bersiasat di dalam rapat-rapat, kerah putih yang menunggang kerah biru di atas pelana mesin besi baja efisiensi industri.

Wajah-wajah. Jeruji-jeruji dari duka lara, membujur turun dari dahi ke dagu, dari maskara ke gincu, berbedak kebanggaan tebal-tebal, mengubur luka dalam-dalam. Mengerumuni kenyamanan, mencandu kesibukan. Aku melihat kaki-kaki mereka berseliweran, sepatu-sepatu tak berdebu. (Cala Ibi).

Namun, bagi saya Cala Ibi bukan hanya indah dalam berkata-kata. Sejauh yang saya pahami, Cala Ibi mengungkapkan hutan makna-makna, perlambang yang jalin-menjalin, tanda-tanda atau ayat, yang kita jumpai saat kita mencoba memahami misteri, peristiwa, rahasia alam semesta. Satu makna bisa mengandung makna yang lain, demikian pula dengan pertanda, lambang, konsep, penjelasan. Satu makna mungkin perlu diulang-ulang, untuk membuat kita paham dan untuk mengingatkan.

Jalinan makna dan perlambang ada untuk mengungkap yang Nyata.

[...]Ia diam sejenak, menatap sekeliling, seakan tengah membaca sesuatu di antara rapat dedaunan. Kau menengadah, menatap sebuah pucuk pohon yang berpendaran dengan sekelompok bentuk yang tak kau mengerti, beralih menatap batu bertulisan di dekat kakimu.

Hutan ini yang telah membacakan diri…menyimpan bacaan lain dalam dirinya…bacaan dalam bacaan, ia menunjuk imaji di atas batu. Jarinya berpindah menunjukmu. Kata Maia seperti hutan dalam hutan.[...]

Seringkali, akal tidak cukup, tidak berdaya untuk mengungkap misteri Sang Pencipta, dan Alam Semesta ciptaan-Nya. Tokoh utama, Maya, digambarkan sangat rasional sebagaimana ayahnya. Bersama rasionya, Maya mengalami kebekuan, kebuntuan. Ia terjebak dalam rutinitas pekerjaan

[...] Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours. Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru Alhamdulillah ini hari Jumat-atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan. [...]

dan terkurung di kota Jakarta yang digambarkan telah sangat tidak manusiawi.

[...] Ini kota duka. Bisa membuat orang gila.

Mereka menyebutnya ibu kota. Tapi ia telah berubah menjadi seorang pelacur tua yang operasi plastik berkali-kali. [...]

Kisah-kisah berikutnya memaksa Maya untuk mulai menerima peristiwa-peristiwa yang di luar logika (yang biasa dia pergunakan). Ia mengalami mimpi-mimpi berseri, yang membawanya untuk menjalani satu persatu misteri. Maya mencatat kisah demi kisah mimpinya, menuruti saran Bibi Tania yang bijak dalam menafsirkan mimpi. Dalam mimpinya Maya berganti menjadi Maia. Mana yang nyata? Maya atau Maia.

Cala Ibi kadang seperti menjelaskan asal muasal pengetahuan manusia, epistimologi. Manusia dapat belajar dari rasio dan juga imajinasi bahkan mimpi. Keduanya saling melengkapi, dua sisi kesadaran manusia. Pertanda, makna, perlambang dapat muncul dari mana saja. Kita harus menajamkan rasa, mencerap semua pengalaman.

[...]Cermati rasa cintamu, Maia, semua rasamu, karena rasa adalah rahim dari segala. Adalah perasaanmu yang mencari fitrah, mendapatkan takdirnya dari pikiran, dua yang berjalinan, dan terlahir jadi kata.[...]

Pada mulanya adalah bukan Kata, tapi Rasa. Adalah Rasa Pertama kemudian melahirkan Pikiran Pertama menjadi Kata yang terucap Lidah Pertama…

Cala Ibi mencakup berbagai kisah: sejarah Maluku, kemurnian kasih orang tua khususnya ibu. Namun yang paling menonjol adalah kisah pencarian jati diri manusia, penyingkapan misteri diri, perjuangan untuk menjadi manusia.

Menurut saya, novel ini sangat kaya, meskipun tidak menganut cara bercerita yang biasa. Seperti tuturan seseorang yang sedang merenung, tercenung, menyelam ke dalam, berjalan-jalan sendiri dan sering juga bicara pada diri sendiri.

Komentar (7)

Is it the good life?

Hidup yang penuh. That’s all I want. Tak sekedar menjalani, juga merasai, sadar. Ingin sebuah rasa yang meliputi rasa-rasa biasa. Semacam rasa yang memenuhi semesta. Menapak pucuk-pucuk pengalaman, mengabdi, mencinta. Tak sekedar melangkah, juga menikmati tiap tapak, segala yang mendera telapak, ingin kurasai.

Komentar (1)

Ada gak sih yang bisa dipercaya? (tentang indra dan pengalaman)

Panca Indera adalah jendela kita untuk mengetahui alam, meramu pengetahuan dan mengagumi ciptaan Tuhan.

Bulan bulat, cakrawala melengkung, fajar memerah, api panas, padang rumput luas, langit yang menentramkan, gula manis, garam asin, takut, cinta (?) . Haruskah kita percaya pada indera kita?

Ini merupakan pertanyaan klasik. Sebagian ya, sebagian tidak (Benarkah?). Ketika berkendaraan, saya melihat, dengan mata kepala saya, genangan-genangan air di sepanjang jalan beraspal ketika terik siang hari. Dan saya membuktikan dengan mata yang sama bahwa itu bukanlah genangan air. Apakah mata saya telah menipu? Mengapa kita percaya atau tidak percaya dengan pencerapan Indera? Mengapa kita percaya bahwa bumi benar-benar mengitari matahari bukan sebaliknya?

[He-he..., saat ini lagi pengen banget nulis tentang apa saja. Kepikirnya tentang masalah ini, jadi ya ditulis saja. Dulu juga sudah pernah terpikir masalah ini. Gara-gara malas menulis, berbagai solusi dan konsep yang dulu sudah pernah terpikir jadi kabur dan menguap. Jadi, saya akan mulai lagi, mikir lagi..., bedanya sekarang ditulis...]

Lanjut…

Agak lebih ruwet lagi kalau kita juga membahas penglihatan atau pengalaman supranatural. Hantu, bisikan ghaib, orang yang telah meninggal, ilham, dan sebagainya. Ilusi atau nyata? Namun sebaiknya kita kembali ke yang natural-natural saja dulu.

Pernahkah kita bertanya,”Benarkah ini rasa manis?”, tepat saat kita mencerap rasa manis. Pernahkah kita mempertanyakan rasa ’asin’, ’pahit’, ’sakit’, ’bahagia’ ataupun ’jatuh cinta’? Persisnya, kita tidak sedang membicarakan konsep ’manis’, ’asam’, ’pahit’, ’sakit’, ’senang’, ’bahagia’ dan ’jatuh cinta’. Yang menjadi perhatian kita adalah pengalaman saat mencerap rasa-rasa tersebut. ’Jatuh cinta’ mungkin lebih kompleks. Saya pernah jatuh cinta dan mempertanyakan apakah rasa,’melayang’ campur ’bahagia’ campur ’deg-degan’ campur ’sir-siran’ ini adalah jatuh cinta. Pengalaman mencerap rasa yang ’campur-campur’ itulah yang sekarang menjadi perhatian kita. Bukan konsep tentang ’jatuh cinta’. ’Rasa-rasa’ tersebut kita cerap diantaranya melalui pengalaman inderawi.

Lalu, apakah pengalaman inderawi tersebut dapat menipu kita? Apakah rasa yang saat ini kita cerap mungkin menipu kita?

Pengalaman inderawi sebagai dirinya sendiri tidaklah mungkin menipu! Rasa-rasa yang kita alami adalah demikian adanya. Kita menerima kebenaran pengalaman inderawi tersebut tanpa pembuktian apapun, swabukti, self-evident. Self-evident dalam konteks ini berarti si subyek tidak memerlukan bukti apapun untuk membuktikan kebenaran ’rasa’.

Tidak hanya pengalaman inderawi yang bersifat self-evident. Semua pengalaman langsung (direct experience) kita pada hakikatnya adalah self evident. Sebenarnya saya telah menyebutkan beberapa pengalaman non-inderawi pada contoh-contoh sebelumnya: ’bahagia’ dan ’jatuh cinta’. Bagaimana pula dengan rasa ’kagum’, ’sedih’, ’bermakna’, ’hampa’, ’semangat’, ’bergairah’? Pengalaman mistis ’manunggaling kawula gusti’ , yang sejauh ini telah terbukti memiliki karakteristik yang sama (menurut banyak penelitian, misalnya ’willian james’ dan phsycology transpersonal) juga bersifat self-evident.

Jadi, mengapa kita tertipu oleh fatamorgana? Mengapa kita mengambil kesimpulan yang salah dari sekumpulan data-data statistik? Di masa depan, sangat mungkin kita menyangka robot yang sangat mirip manusia sebagai manusia sungguhan. (bersambung)

Tinggalkan sebuah Komentar

Menulis adalah kebutuhan(ku)?

Beberapa hari ini saya membaca beberapa blog yang menarik di internet, diantaranya: blognya Pak Kuncoro (kun.co.ro) dan Pak Khairul (khairulu.blogspot.com), Yuti Ariani, Pak Budi Raharjo dll. Tadinya hanya selingan karena lagi jenuh dengan tugas-tugas rutin (kemarin juga main bulu tangkis setelah sekian lama tidak main, its my hobby..). Membaca tulisan mereka yang menarik, saya jadi ingin mulai menulis. Ada keinginan yang membuncah-buncah (sebenarnya ada gak ya kosa kata ini…? maksudnya: bergejolak) untuk mulai menulis. Beberapa blog itu mengajari saya beberapa hal:

  1. Hal menarik dan inspiratif tidak harus sesuatu yang sangat penting dan serius. Mengamati hal-hal kecil dan menuliskannya dapat membantu kita untuk memetik pelajaran yang berharga dan mengabadikannya. Menulis… menulis…. Banyak sekali hal-hal, kecil dan besar yang sering melintas di benak saya. Terkadang sangat menarik perhatian (sampai termenung dan berpikir keras…), namun kemudian lewat begitu saja, tanpa diabadikan, dan digali lebih jauh lagi. Sayang banget… Dua tahun lalu pernah buat blog tapi isinya hanya satu tulisan pembuka.
  2. Komunitas yang kuat, diskusi hangat, persahabatan dapat terbentuk melalui blog. Saya sih termasuk orang yang tidak terlalu luwes bergaul dan efeknya kurang banyak memiliki teman. Di sisi lain, saya sangat menikmati diskusi yang intens, tukar pikiran, tukar informasi, tukar ide. Jadi saya pikir, sangat baik jika saya mulai menulis, dan selanjutnya ikutan komunitas blogger. Asik juga… Setidaknya bisa punya banyak teman melalui blog.
  3. Jangan-jangan menulis juga termasuk hobby saya…, he…he…. Saya yakin para blogger, seperti pak Khairul dan Kuncoro, sangat hobby menulis. Di dalamnya, secara implisit, juga ada hobby membagi ilmu, hobby mencari ilmu, mendengarkan pendapat orang lain.

Saya amati, istri saya juga suka mengabadikan pengalaman-pengalaman sehari-harinya dalam tulisan, puisi ataupun prosa. Belakangan hobbynya ini mulai menghilang, mungkin karena sibuk (sepertinya sejak menikah dengan saya…, he2. Kok bisa begini??) Kemarin saya mulai mendorongnya untuk mulai menulis lagi. Sepertinya dia tertarik. Asik deh!

Thanks untuk para leluhur-leluhur saya, para blogger!Ya Allah, saya bertobat dari segala kemalasan untuk menulis. Amin. OK. Saya coba untuk mulai menulis. Semangat!!

Komentar (2)