Juni 4, 2009 pada 8:54 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Sangat prihatin, dan mendukung Ibu Prita.
Hingga saat ini, sepanjang pengetahuan saya, belum ada komentar dari dokter senior atau pihak lain yang netral yang memahami tindakan-tindakan medis dan prosedur rumah sakit mengenai kasus ibu Prita. Jika memang tindakan RS. Omni sudah benar berdasarkan prosedur standar kedokteran, maka nyatakanlah! Jika masih ada kejanggalan dalam prosedur tersebut yang perlu diselidiki lebih lanjut, nyatakanlah juga!
Kami para pasien sangat memerlukan opini dari pihak ketiga yang ahli. Jika tidak ada pihak netral yang ahli dan memiliki kekuatan, bagaimana hak-hak pasien dapat diselamatkan?
Mana suaramu pak/bu dokter???
Permalink
April 20, 2009 pada 5:38 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Ini bukan tulisan panjang. Barusan baca buku Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer dan nemu beberapa terminologi di akhir bab 1:
- Ateisme : paham yang menyangkal keberadaaan Tuhan berdasarkan bukti-bukti rasional.
- Agnotisisme : paham yang tidak menyangkal maupun membenarkan keberadaan Tuhan, karena hal itu berada di luar jangkauan/kemampuan inderawi dan rasio manusia.
- Fideisme : paham yang menyatakan bahwa pengetahuan religius (termasuk: keyakinan pada Tuhan) hanya dapat dijustifikasi atau ditetapkan berdasarkan iman, bukan akal budi.
- Panteisme : paham yang menyatakan bahwa alam semesta adalah Tuhan dan Tuhan adalah alam semesta. Tidak ada perbedaan antara pencipta dan ciptaan, Tuhan berada di manapun, di dalam segala sesuatu, dan adalah segala sesuatu.
- Deisme : paham yang menyatakan bahwa setelah menciptakan alam beserta hukum-hukumnya, Tuhan menarik diri dan tidak memainkan peran di dalamnya. Tuhan digambarkan seperti seorang pembuat jam yang kemudian pensiun
Keyakinan saya termasuk yg mana ya? Keyakinan pembaca? Tidak masuk yg manapun? Atau ada alternatif yg lain?
Permalink
April 3, 2009 pada 4:16 am
· Disimpan dalam bacaan, renungan
This is a such beautiful quote:
Imam Sadiq (a) has said: “The number of those who die because of committing sins is larger than the number of those who die because of their natural death, and the number of those who live because of doing good deeds is larger than the number of those who live because of their real age”.
In my opinion, there are some very important views or implications from the quote:
- When, how and where we will die is surely a mystery, but it is not predestined. There is causal relationship between our death and our deeds.
- We must be carefull in any aspect of our life, because law of causation is not limited in material word, either it is also applied in spiritual world and in any other world that may be exist. There is always a particular consequence for any action we did.
- Morality is not only a convention. It does exist and has its own law. It is not only other people who could produce morality consequences toward us. Nature could also respond to any our moral action.
Permalink
Maret 18, 2009 pada 7:12 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Baru saja baca di detik tentang kecaman Paus tentang kampanye penggunaan kondom untuk mencegah AIDS.
AIDS merupakan tragedi yang tidak bisa diatasi dengan uang saja, yang tak bisa diatasi dengan distribusi kondom, yang justru memperburuk masalah.
Sebelumnya, pada pidato Natal tahun lalu, Paus juga mengecam keras perilaku homoseksual, dan bahkan menyamakan bahaya perilaku ini dengan kepunahan hutan di dunia (lihat di sini).
Poin yang saya tangkap dari dua pernyataan Paus di atas adalah penolakannya yang cukup tegas terhadap perilaku seks bebas dan homoseksual. Terus terang saya salut dengan ketegasan sikap ini.
Kalau di Indonesia gimana ya? Bagaimana sikap kita terhadap isu-isu tersebut? Jika perilaku homoseksual tidak ditentang mungkin nanti bakal ada parade ini di Indonesia. Mau?
Permalink
Januari 2, 2009 pada 5:49 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Sabtu (2/01/08) nanti tim futsal SV akan bertanding melawan SDDN. Ayo semangat! Ini foto tim waktu makan-makan selepas bertanding melawan Insan minggu sebelumnya.

ki-ka: satrio, wendy, yanu, purwadi, rayyan, dimas, oki, rizka, hadi, dwi
Permalink
Januari 2, 2009 pada 5:19 am
· Disimpan dalam Uncategorized

Foto keluarga sebelum jujumpalitan

Siap-siap!

SuParman sedang latihan

Takut sendirian, makanya ngajak istri

Saling melindungi

Korban berikutnya yang sok ganteng

Beraninya cuma mainan yang ini
Permalink
Oktober 30, 2008 pada 8:22 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Pembeli rese: “Mas,ada kamera paranoid ga?”
Penjaga bingung: “Hah?”
Pembeli rese: (nada sok tau) “Itu yg sekali jepret langsung jadi…”
Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan.
Pelayan Cewe: “Arigato go zai mas…”
Pemuda Playboy sok tahu: “Arigato go zai mbak…”
Sushi Tei, didengar oleh teman yang ingin menjadi orang-orangan sawah.
Pidato 17 Agustus,
Pak RW: “Kita itu harus berjiwa revolusi… (jeda sesaat, matanya turun ke baris kedua)… oner!”
Jakarta Selatan, didengar oleh seluruh warga yang ingin menyelamati pengetik teks pidato.
Coba mampir ke blog ini: http://ngupingjakarta.blogspot.com, dijamin bakal ngakak. Asal tetap hati2, jangan ikut2an gila. He2
Permalink
Oktober 5, 2008 pada 9:29 pm
· Disimpan dalam jalan2 ·yang berkaitan balik, mudik
Saat ini saya, istri, alfia dan miqdada, sedang dalam perjalanan menuju Bandung dari Sragen. Kami berangkat pukul 20.10WIB. Kami lewat jalur selatan. Untungnya tadi tidak terlalu macet. Sempat macet sebentar di daerah antara Gombong-Buntu. Sekarang kami sedang istirahat di daerah Jatilawang sambil menunggu waktu sholat subuh. Semoga perjalanan lancar sampai ke Bandung nanti.
Amin
Permalink
Tulisan yang Lebih Tua »